Memaafkan

Memaafkan adalah perkara hati yang cukup sulit dilakukan bukan?

Seringkali terjadi pergolakan batin saat kita berada diantara dua bisikan hati. Antara memaafkan atau tidak. Satu bisikan meminta kita menatap masa depan. Mencoba membuat tenang hati kita, meminta kita untuk dengan ikhlas memaafkan. Namun, bisikan lain juga tak mau kalah dengan mereka ulang masa lalu. Memunculkan kembali ingatan-ingatan tak menyenangkan yang pernah kita dapat sebelumnya.

Di titik ini, rasa-rasanya kita ingin melupakan semuanya. Melupakan apa yang membuat kita bertarung hebat dengan diri kita sendiri ini. Ingin sekali beralih pada satu hal yang dapat mengubah suasana hati kita. Minimal, mengembalikan senyum kita. Menjadikan kita seceria biasanya.

Mungkin kita akan berpikir, perkara ini akan lebih cepat usai dengan mengabaikannya dan mengatakan ‘ya sudahlah’. Hingga akhirnya kita memilih untuk diam, acuh tak acuh, dan berusaha tidak memikirkan hal itu lagi. Dengan konsekuensi yang kita sama-sama tahu: akan muncul hubungan kurang harmonis dengan orang yang -dalam perspektif kita- telah ‘melukai’ hati kita itu.

Terkadang kita tak kuasa mengendalikan ego kita masing-masing. Bahkan seringkali kita terdominasi oleh ego kita sendiri. Kita tahu mana yang jalan keluar yang baik, tapi sayangnya, sering tak berkutik saat menyaksikan ego kita mendominasi kata hati. Sehingga saat terjadi pergolakan batin, kita cenderung menyandarkan pintu keluar masalah kita pada ‘opsi yang nyaman’ bagi kita sendiri, yaitu ego kita sendiri.

Kita seringkali lupa akan potensi besar kita masing-masing. Bahwa kita punya sumber energi tak terbatas. Bahwa kita sebenarnya mampu untuk mengendalikan apa yang kita mau dan apa yang kita harus lakukan. Apalagi, ‘hanya’ untuk sekedar memaafkan.

Memang, ketika kita memberi maaf, ada ego yang harus diturunkan. Ada juga perasaan yang harus dikorbankan. Tapi semua itu tak sebanding dengan apa yang ditukar dengannya. Bukankah saat kita memaafkan orang lain Allah akan memaafkan kita di hari kiamat?

Ada ratusan keberanian dan ribuan keikhlasan yang harus turut disertakan saat hendak memaafkan. Tetapi sebagai gantinya, memaafkan mengajarkan kita menjadi sesosok pribadi ksatria. Pembelajaran berharga yang berdampak sepanjang masa.

Suatu saat kita akan menyadari, bahwa tersimpan begitu banyak kebaikan dibalik kata memaafkan. Hingga pada akhirnya kita berkesimpulan, bahwa memaafkan adalah ‘opsi paling nyaman’ yang pernah kita lakukan.

Mari saling memaafkan. 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: