Mahal Amat

Okay, sebut ini edisi curcol. Da emang niatnya mau curcol sih. Wakaka.

Ceritanya beberapa hari lalu sayah sempat kaget tak terkira, walau tidak sampai sport jantung. Tidak nyangka bakal sampai segitunya soalnya. Dikira bakal gitu-gitu aja, selow. Lupa kalo ini bukan di Indo. Sempat kepikiran worst case nya sih. Tapi tak sampai seperti apa yang ditemui kemarin. *terus mana ceritana cenah*

Berawal dari kebutuhan untuk mendaftarkan Daehan asuransi. Oya, sebelumnya mau kasih intro dulu. Di sini, punya asuransi itu sudah jadi kebutuhan mendesak, buat kami khususnya. Ga daftar asuransi, maka tabungan kamu akan habis. Apalagi kamu seorang foreigner yang income nya pas-pasan untuk ukuran living cost di Korea. Karena biaya pengobatan cukup tinggi. Sedangkan kalo pake asuransi, bisa dipotong hingga 90% dari biaya semula. Sempet sedikit disinggung di sini.

Sebelumnya, saya dan istri sudah mendaftarkan diri di asuransi nasional Korea (NHIC). Asuransi ini meng-cover seluruh kebutuhan pengobatan medis kecuali beberapa hal, termasuk gigi. Entah kenapa gigi ga dicover asuransi. Mungkin karena, kalo misal gigi masuk asuransi, semua orang bisa ‘seenaknya’ bagusin gigi mereka. Di sini kan penampilan nomor wahid. Haha.

Oke, kembali lagi.

Kenapa kami bersikukuh untuk mendaftarkan Daehan asuransi? Karena Daehan lagi sakit :'( Such a heartbreaking knowing him in his worse condition. Apalagi ngeliat dia harus minum obat in his early age. Tapi kami ingin Daehan sembuh. Untuk itulah kami ingin mendaftarkan Daehan asuransi. Karena sebelumnya, Daehan belum kami daftarkan ke asuransi.

Salah satu syarat mendaftarkan diri ke asuransi adalah kartu identitas (alien card). KTP lah kalo di Indo mah. Sekitar satu bulan lalu saya sempat terpikirkan untuk mendaftarkan Daehan ke asuransi. Sayah sudah mencoba mengurus ke kantor imigrasi, tapi ditolak sama pihak asuransinya. Karena apa coba? Hanya karena alamat yang tertera di alien card kami dan Daehan beda! Padahal dokumen yang menyatakan Daehan anak kami, dan surat kontrak rumah atas nama kami sudah sayah bawa, dan sayah perlihatkan ke petugas asuransinya. *bari jeung hese ngomongna da maklum, bahasa Korea sayah masih seumur kecambah*

Sayah baru ingat, kalo alamat di alien card kami adalah alamat rumah sebelumnya. Sedangkan alamat di alien card Daehan alamat rumah yang sekarang. Jadi sama mamang petugasnya, saya diminta ke kantor imigrasi untuk mengganti alamat. Karena malas mengurus ini itu, saya pending ke kantor imigrasinya. Sekarang baru katempuhan pas Daehan sakit. Jadi mau ga mau saya harus mengurusnya. So, Jumat kemarin sayah ke kantor imigrasi buat urus penggantian alamat di alien card.

Berangkatlah sayah ke kantor imigrasi. Sesampainya di sana, saya ambil antrian dan isi formulir. Karena sayah datang pagi, jadi belum banyak antrian. Beberapa saat setelah saya isi formulir, saya dipanggil.

Saya masuk ke counter yang alhamdulillah petugasnya bisa bahasa Inggris. Jadi ga usah repot-repot pake bahasa isyarat. Saya jelaskan maksud kedatangan saya ke petugas itu, sembari saya sodorkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk mengganti alamat.

Tetiba petugasnya nanya,

Kenapa baru mengajukan penggantian alamat sekarang? Kontrak kamu dimulai bulan Februari lalu. Seharusnya setelah pindah rumah kamu segera melapor. Maksimal 14 hari setelah ganti rumah kamu lapor.

Setelah sedikit menunjukkan wajah heran, sayah pun menjawab,

Serius? Saya baru tau tentang itu. Terus masih bisa ganti alamatkah?

Petugasnya merespon,

Bisa, tapi kamu harus bayar penalty. Satu orang 300ribu won. Jadi total 600ribu won. Soalnya sekarang sudah bulan ke delapan terhitung kamu pindah rumah

Jeng jeng.

600ribu won men! Buat yang mau tau berapa 600ribu won dalam rupiah, bisa dilihat di sini. 600ribu won hanya untuk mengganti tulisan “경사시 삼풍동 삼풍로 4길 8-2 대성원룸 202호” jadi “경사시 삼풍동 삼풍로 4길 8-5 늘행복한집B동 104호”. Mahal Amat! Sisi saya yang lain mengatakan, it’s cruel men! Sumpah ampe sekarang masih tak habis pikir untuk ganti tulisan doank harus bayar segitu.

Sebenernya bagus sih sistemnya. Artinya Korea sangat-sangat memandang penting ter-registrasinya data penduduk dengan baik. Karena semua data penduduk terintegrasi di semua instansi pemerintah yang berhubungan dengan publik, jadi saat rumah sakit ingin tau data detail kita, misal, mereka ga usah repot-repot minta kita registrasi lagi. Bisa untuk preventing terjadinya hal-hal yang tak diinginkan juga. Mereka bisa konfirmasi langsung otentik-tidaknya data yang kita berikan saat kita ingin mengajukan hak pelayanan publik. Dan mereka sangat strict terhadap SOP. Tak bisa dilobby-lobby, apalagi lewat jalur belakang, haha. Even untuk foreigner seperti sayah yang da-aku-mah-apa-atuh ini.

Masalahnya, sayah tak tau info ini sebelumnya. Baru tau kemarin pas datang ke imigrasi. Entah salah siapa. Entah sayah nya yang tak proaktif *lagian juga tak terpikirkan buat nanya ini sebelumnya*, atau pihak pemerintah sini yang tidak proaktif memberikan informasi *ribet juga kali ya, gimana kasih taunya*. Tapi above of all, yasudahlah. Realita sudah muncul ke permukaan.

Opsi kami sekarang cuman dua: bayar penalty atau pindah rumah lagi.

Dua-duanya ada konsekuensi. Tapi yang paling tidak mencekik kami sih, ya pindah rumah lagi. Lagian rumah kami sekarang sedikit lembab. Kurang baik tingkat humidity nya buat Daehan. Tapi, entah ini juga harus pindah kemana. Semoga pertolongan dariNya segera datang.

Pelajaran yang bisa diambil: di sini harus taat aturan dan jangan malas untuk berkooperatif dengan aturan yang berlaku.

Curcol sekian.

0 comments: On Mahal Amat

Leave a Reply to Anggita Cremonandra Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: