Lembar Baru

Aku merasakan sesuatu yang berbeda, kini.

Ada semacam rasa yang tak mampu aku ejawantahkan dalam bentuk apapun. Lisan tak sanggup menggambarkan, sikap tak tau harus dirupakan seperti apa. Seperti berada dalam situasi yang aku pun tak tahu bagaimana harus mendefinisikannya. Semacam senang, bahagia, khawatir, was-was, sedih, tegang, bercampur menjadi satu.

Walaupun demikian, aku ingin memberi tahu satu hal. Bahwa aku senantiasa merasa, sesaat semua rasa itu sirna setiap kali kuperhatikan air muka di wajahmu. Saat senyummu terlihat mengembang, saat matamu terlihat berbinar. Saat tanganmu menarik erat tanganku, saat langkah kakimu mengajak lembut langkah kakiku. Seolah hanya satu kata kerja yang ingin aku haturkan padamu : mencintaimu.

Sudah sekian hari lamanya sejak hari yang dinanti itu terlewati. Sudah sekian tahun lamanya sejak Pendam Rasa itu terlalui.

Terkadang aku masih tertegun dalam lamunan. Masih saja tak mengira, bahwa angan masa lalu itu berbuah nyata. Nama yang selalu kusimpan dalam doa, kini dapat kuucap setiap kali aku menginginkannya. Senyum yang selalu kuharap tersimpul saat berpapasan, kini dapat kulihat setiap saat di hadapan. Kehadiran di sisi yang selalu tergambar dalam mimpi, kini dapat kurasakan di setiap hari. Maha Suci Allah yang telah mengatur dengan rapi skenario ini.

Bahwa mencintai dalam diam bukanlah kesiaan dan sebut nama dalam doa itu nyata.

Sebuah prolog yang mengawali lembaran baru kita mulai dari titik ini. Bahwa mulai saat ini, ada kewajiban yang harus ditunaikan satu sama lain. Bahwa mulai saat ini, ada hak yang harus diperoleh satu sama lain. Bahwa mulai saat ini, kita bukanlah lagi dua insan yang menjaga cinta dalam diam. Bahwa mulai saat ini, kita bukanlah lagi insan lugu yang sesama sedang menunggu.

Akan ada banyak halang rintang yang ditemui di hadapan nanti. Sesuatu yang mungkin akan membuat kamu menangis, atau membuat aku kecewa, atau membuat kamu marah, atau membuat aku tak mampu berkata-kata. Namun aku hanya ingin satu hal tetap kokoh diantara kita, kepercayaan. Seperti halnya dulu, bagaimana sebuah kepercayaan mempertemukan kita. Aku harap kini, kepercayaan ini yang akan memperkokoh ikatan diantara kita.

Lembar baru pun kini telah dimulai.

Tolong ingatkan aku ketika aku berbelok, tolong luruskan aku ketika aku membengkok.

Aku harap akhir lembaran ini tak hanya berhenti hingga terlukis dua gambar nisan. Lebih jauh dari itu, hingga di akhir lembaran ini terlukis dua buah senyum di syurga.

Aku mencintaimu, sayang. 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: