Korea, One of My Best Moment

Tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Sedikitpun. Saya, dengan “fixed path” yang saya miliki saat itu, pun tidak pernah sekalipun mencoba untuk membuka pikiran, mencari peluang, atau bahkan membuat alternatif opsi masa depan yang lain. Bagaimana tidak, alhamdulillah kala itu saya sudah punya ‘jaminan’ tempat berkreasi pasca lulus. Pikir pendek saya waktu itu,

Ga bakal nganggur ini abis lulus in syaa Allah, jadi selow aja lah…

Saya sebelumnya salah satu mahasiswa undergraduate di Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB). Selama kurang lebih 4 tahun berjuang memahami ilmu teknik kelautan di sana, alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan menjadi scholarhip grantee dari beberapa pemberi beasiswa sehingga saya tidak perlu banyak meminta orang tua untuk membiayai kehidupan selama berkuliah di Bandung. Salah satu pemberi beasiswa waktu itu mewajibkan kontrak kerja pasca lulus dengan timbal balik memberikan ‘jalur khusus’ untuk bisa langsung bekerja –walau memang tetap harus melewati tes ini itu terlebih dahulu. Itulah yang menjadi alasan mengapa saya membiarkan diri saya merasa nyaman dengan “fixed path” yang sudah ada, walau sebenarnya hati kecil saya masih menyimpan pertentangan. Hal ini dikarenakan tempat saya bekerja nanti sangat tidak sejalan dengan apa yang saya pelajari selama di bangku kuliah.

Jatuh bangun, peras keringat, berkorban ini itu buat bisa paham materi kuliah, tapi pas lulus semua harus ga kepake, sayang banget ga sih?

Yap. Semua hal dalam otak saya masih tetap ter-setting seperti itu hingga di akhir masa studi menuju seorang sarjana, saya dihadapkan pada suatu jalan yang saya tak pernah duga sebelumnya: Menikah! Cukup menarik memang bagaimana titik ini menjadi main heading dari chapter hidup saya saat ini.

Setelah mempertimbangkan ini-itu, istikharah, meminta nasihat sana-sini, dan merenung dalam senyap, akhirnya saya memutuskan untuk menikah sebelum saya meraih gelar sarjana saya. I have to admit that pernikahan ini membawa banyak perubahan besar dalam hidup saya. Salah satunya bagaimana saya memandang pilihan hidup. Bahwa apa yang telah kita rencanakan bisa saja berubah, dan sebaliknya, apa yang kita tak pernah pikirkan sebelumnya malah bisa menjadi jalan terbaik bagi hidup kita. Hal yang perlu kita lakukan adalah berpikir terbuka, melakukan perencanaan terbaik, dan do our very best.

Kalo boleh dibilang, pernikahan inilah yang mengubah pikiran saya akan fixed path terdahulu dan yang pada akhirnya membawa saya ke negeri gingseng, Korea Selatan ini.

Bersama istri yang tengah hamil di spring pertama di Korea
Bersama istri yang tengah hamil di spring pertama di Korea

Sebelum saya mendatangi rumah istri saya untuk melamarnya waktu itu, dia sudah dalam proses admission integrated program di Yeungnam University. Setelah kami mengutarakan kondisi kami masing-masing, sebenarnya istri sudah mengikhlaskan diri jika ia harus membatalkan proses admission-nya. Namun saya melihat dua hal dari kondisi kami waktu itu. Pertama, saya tidak ingin mengubur mimpinya untuk menjadi seorang doktor. Kedua, ini kesempatan saya untuk memperdalam hal yang saat itu sudah mulai saya sukai : geoteknik. Dengan mengucap basmalah saya pun memutuskan untuk meminta dia melanjutkan proses admission-nya, dan as a consequence, saya pun harus mencari tempat belajar di Korea.

Di awal masa-masa pencarian kampus, saya dihadapkan pada sebuah dilema. Satu sisi, kampus terbaik di Korea yang concern di bidang geoteknik letaknya cukup jauh dari tempat istri saya belajar. Sisi lain, saya tidak ingin berhadapan dengan long distance marriage dengan istri setelah menikah nanti. Menghadapi dilema ini, all I can do hanya berdoa dan berharap Allah kasih jalan terbaik. Hingga pernah saya sampai di suatu titik pasrah dimana saya siap jika memang yang terbaik untuk kami adalah kami harus terpaut jarak. Saya hanya percaya rencanaNya pasti yang terbaik.

Dan memang rencanaNya lah yang terbaik.

Keluarga Besar Gyeongsan, keluarga ketiga saya di Korea
Keluarga Besar Gyeongsan, keluarga ketiga saya di Korea

Sepekan setelah menikah –dan di tengah pengerjaan skripsi saya–, kami merencanakan honey moon di Korea. Istri saya yang saat itu sudah sekitar 6 bulan berada di Korea memperkenalkan saya pada profesornya. Saya dan profesornya sempat berbincang hingga akhirnya pembicaraan kami masuk pada topik rencana saya setelah wisuda sarjana. Saya pun mengutarakan rencana saya untuk melanjutkan studi di Korea untuk ambil master di bidang geoteknik.

I have three friends, professor, in Department of Civil Engineering. Try to look for information of them in our university website. If there is a professor whom suit to your interest, contact me through Pipit.?

Satu hal yang membuat saya terperanjat adalah ternyata salah satu dari kenalan profesor isrri saya adalah seorang profesor di bidang geoteknik! Tanpa pikir panjang saya minta istri saya menyampaikan pada profesornya kalau saya punya ketertarikan pada salah satu profesor kenalan beliau. Di penghujung hari itu saya mendapat kabar dari istri profesornya dengan senang hati mau mengantarkan saya bertemu dengan kenalan beliau.

Karena kesibukan beliau, pertemuan dengan profesor dari Department of Civil Engineering tersebut baru bisa dilaksanakan sekitar 5 hari dari saat itu. Di hari yang telah ditentukan, profesor istri saya mengantarkan saya bertemu dengan profesor yang nantinya jadi profesor saya sekarang.

Buka bersama IMUSKA, mushalla Yeungnam University
Buka bersama IMUSKA, mushalla Yeungnam University

Di ruangan profesor saya, saya menyodorkan CV dan rencana studi yang sudah saya siapkan sebelumnya. Untungnya sudah pernah membuat ini sebelumnya sewaktu persiapan LPDP dulu. Saya ditanyai beberapa hal, selayaknya wawancara pencarian beasiswa. Di akhir perbincangan saya ditanya oleh profesor saya tentang seberapa yakin saya mau jadi mahasiswanya mengingat geoteknik yang akan saya pelajari sedikit berbeda dengan geoteknik kelautan yang telah saya pelajari sebelumnya.

I’m really sure I want to study here, Professor!

Okay, here I give you two books. Please read it. You don’t have to summarize it. Just read. See you next year.

Alhamdulillah!

Setelah saya sampai rumah, saya tak berhenti mengucap syukur, ternyata saya ditunjukkan jalan yang lebih baik dari yang pernah saya pikirkan sebelumnya. Di tengah kegamangan saya akan dilema yang saya rasakan sebelum ini, Allah kasih saya jalan yang tak berhenti membuat saya tersenyum. Saya seringkali menyebut ini sebagai berkah nikah.

Singkat cerita, sekembalinya saya ke tanah air, saya bergegas menyelesaikan skripsi, kemudian lanjut wisuda, sembari mempersiapkan dokumen-dokumen admission. Di waktu yang sama juga saya menyatakan sikap saya untuk mundur dari kontrak kerja yang telah saya tandatangani sebelumnya. Ada hal besar yang harus dikorbankan dengan diambilnya keputusan ini, memang. Saya hanya percaya akan ada jalan keluar untuk ini suatu saat nanti.

Lunch pasca seminar kewirausahaan PERPIKA
Lunch pasca seminar kewirausahaan PERPIKA

Tipikal beberapa kampus di Korea, jika sudah ada ‘lampu hijau’ dari Profesor, dan tentunya persyaratan dari kampus sudah terpenuhi, pada umumnya proses admission hanya bak ‘formalitas’ belaka. Memang tidak semua sih, dan juga tidak bisa digenelarisasi. Tapi terkhusus di Yeungnam University, seperti itu adanya.

Sekitar akhir November, tepat di hari pertama saya mengikuti seleksi substantif LPDP, saya mendapat kabar via email kalau saya diterima menjadi salah satu mahasiswa master di Yeungnam University dengan full scholarship selama 2 tahun penuh. Beasiswa yang saya dapat berasal dari Yeungnam University Scholarship for International Students. Sedangkan monthly allowance saya dapat dari research cost dari proyek-proyek yang ada di lab profesor saya. Mendapat kabar itu, saya jadinya men-skip wawancara LPDP saya di hari kedua seleksi. Saya pikir, akan lebih baik jika kesempatan ini saya beri ke orang lain. Alhamdulillah beasiswa yang diberikan sangat cukup untuk bertahan hidup di sini, bersama keluaga.

Cerita berlanjut ke 31 Januari 2015. Di tanggal itu saya berangkat ke Korea untuk melanjutkan studi master, untuk bertemu istri kembali, untuk menyerap banyak hikmah hidup, inspirasi, dan pengalaman yang bisa saya kumpulkan selama di berada Korea. Ini kali pertama saya bersentuhan dengan dunia luar. Hanya berbekal keberanian dengan kemampuan berbahasa pas-pasan.

Lahaula aja lah!

Saya sampai di Korea satu bulan sebelum perkuliahan dimulai. Walau Profesor tidak mewajibkan saya datang ke lab hingga awal semester di bulan Maret, saya mencoba mengisi kekosongan dengan datang ke lab. Diawali dengan mengunjungi ruangan Profesor untuk memberitahu beliau bahwa saya telah sampai di Korea, kemudian setelah itu saya diajak masuk ke lab dan diperkenalkan dengan penghuni lab saat itu.

Ada dua Korean yang ‘tersisa’ di lab waktu itu. Lab saya tidak seperti lab pada umumnya yang diisi banyak mahasiswa. Maksimum lab saya hanya bisa ditempati 5 orang. Saya pun datang untuk menggantikan senior saya yang lulus di bulan Februari saat itu. Saya adalah foreigner pertama di lab dan foreigner ketiga di departemen. Sejauh yang saya tahu, memang departemen saya baru menginisasi perekrutan mahasiswa asing sehingga perkuliahan masih dalam bahasa Korea walau profesor-profesor di sini cukup fasih berbahasa Inggris. Hanya profesor saya saja yang bersedia mengajar bilingual. So, tantangan saya di sini ya cari ilmu sendiri, baca buku dan paper sendiri, tanya ke profesor tentang apa yang tak dimengerti sendiri. Mungkin satu hal yang saya sayangkan di sini adalah pemahaman mendalam tentang keilmuan yang sedang saya ambil kurang bisa mengimbangi kawan-kawan saya di tempat lain. But it’s okay. Setidaknya saya di sini punya pengalaman bagaimana melakukan riset, menulis paper, dan bersentuhan langsung dengan lapangan melalui proyek-proyek yang saya turut mengerjakannya.

Selain melakukan riset, selama di sini juga saya mencoba aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA) dan Indonesian Muslim Society in South Korea (IMUSKA). Diamanahi sebagai wakil presiden di Perpika dan koordinator wilayah di IMUSKA membuat saya banyak belajar tentang organisasi dan kehidupan bersosial. Alhamdulillah, banyak pembelajaran yang saya dapat selama aktif di sini. Banyak juga kenalan inspiratif dan pengalaman edukatif yang saya temui.

Spring kedua bersama Daehan
Spring kedua bersama Daehan

Di sini, selain sebagai researcher, saya juga membangun chapter ini sebagai seorang Ayah. Berkeseharian ganda memang tidak mudah. Namun, bagi saya ini tetap menyenangkan. Meningkatkan kapasitas sebagai seorang researcher dan seorang ayah di waktu yang sama sungguh melelahkan. Namun, bagi saya ini tantangan yang worth it untuk diceritakan untuk anak saya, Daehan Zaydan Amirullah, suatu saat nanti. Berharap apa yang saya lakukan dapat menjadi inspirasi baginya di masa yang akan datang dan menjadikannya jauh lebih baik dari saya kini.

Saya meyakini dan merasakan bahwa perjalanan di Korea ini merupakan salah satu batu loncatan dan checkpoint saya dalam perjalanan besar saya di depan. Saya sedang mengusahakan semua yang saya lalui di sini diisi dengan berbagai macam kegiatan yang dapat menaikkan kapasitas diri saya, baik sebagai personal maupun bagian dari komunal.

Korea, I’ll make you one of my best moment in my life!

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: