Kompetisi dan Komparasi

Hasil diskusi beberapa waktu lalu cukup memberikan banyak pencerahan. Mungkin ada beberapa yang bisa diceritakan.

Oke.

Pentingkah kita berkompetisi?

First time denger pertanyaan ini, satu jawaban yang secara spontan keluar dari benak saya: “yap, penting”.

Kenapa?

Well, saya pikir setiap manusia butuh booster untuk selalu aktif dan kontinu merealisasikan apa yang diinginkannya. Hal itu bisa berupa innerself motivation ataupun outsource encourage. Atau bahkan keduanya, agar semangat dalam merealisasikan sesuatu bisa selalu balance dalam beragam kondisi.

Buat saya pribadi, salah satu booster dalam merealisasikan apa yang saya inginkan adalah innerself motivation berupa kompetisi.

Memosisikan orang-orang yang ‘cool’ dan ‘keren’ versi saya di depan jidat saya sendiri, kerap membuat saya lebih bersemangat untuk meraih sesuatu. Menjadikan pencapaian dan usaha mereka dalam membermanfaatkan apa-apa yang sedang mereka tekuni juga sering menjadi trigger yang cukup baik dalam membakar motivasi pribadi. Satu dua kesempatan, dengan mereka yang berada di dalam satu lingkaran interest dengan saya, saya komparasi apa-apa yang sudah saya lakukan dan yang sudah ia lakukan. Jika dirasa saya tertinggal satu-dua langkah, maka saatnya tancap gas lebih kencang lagi.

Terkait komparasi. Sebetulnya menurut saya sah-sah saja mengomparasikan sesuatu yang menjadi ‘milik’ sendiri dan orang lain. Sejauh itu dalam konteks kebaikan, karena perintahnya juga kan “Berlomba-lombalah dalam kebaikan”. Dan sejauh yang dikomparasikan adalah sesuatu yang ‘satu nafas dan berada dalam jarak pandang’.

Mengomparasikan kemampuan berbicara kita yang ahli dalam menulis dengan mereka yang ahli dalam berorasi, misal, menurut saya adalah sesuatu yang kurang bijak. Karena keduanya tidak apple to apple. Dan menurut saya itu hanya buang waktu dan menguras pikiran. Mengomparasikan kita yang baru saja belajar sepeda dengan mereka yang sudah terjun lama di dunia MotoGP juga adalah hal kurang bijak yang lain. Karena jarak di antara keduanya sudah terlampau jauh. “Don’t compare your chapter 1 to someone else’s chapter 20” kan?

Lain halnya mungkin jika yang dikomparasikan adalah kebermanfaatan untuk diri sendiri dan orang lain. Jika kebermanfaatan untuk orang banyak dijadikan komparasi, menurut saya, di chapter manapun kita, atau kemampuan apapun yang kita punya, layak-layak saja untuk dikomparasi. Dengan catatan, dikomparasi untuk dijadikan motivasi, bukan dijadikan hujatan atau alasan. Satu hal yang mungkin kita ketahui bersama, “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain”.

Namun ada satu hal yang perlu diwaspadai. Ini yang menjadi hal yang tetiba terlintas dalam benak saya pasca diskusi kemarin. Tetiba terpikirkan dan tersadarkan.

Kebiasaan mengomparasi.

Kebiasaan mengomparasi, jika tidak dipagari oleh spiritual realm, akan menghasilkan bibit-bibit kesombongan walau itu sebesar kutunya kutu. Apalagi di era medsos macam sekarang ini.

Biasanya hal ini menjadi suatu godaan dan tantangan buat kita saat kita berada di posisi ‘puncak’. Atau saat kita punya sesuatu yang ‘lebih’ dibanding orang lain. Di saat pencapaian kita, dalam pikiran kita sendiri, dirasa keren, cool, dan everyone deserves to know it. Padahal itu hanya menurut kita. Claim sepihak dari pikiran kita sendiri. Belum tentu orang lain berpikiran sama. Atau bahkan mungkin bisa berpikir sebaliknya.

Memang, giving inspiration atau expressing something sama ‘hey, look at me and my cool things!’ terkadang bedanya setipis benang. Saya sendiri pun kadang sulit membedakannya. Dan masih saja suka terjebak dan teralihkan dari tujuan sebenarnya. Selalu ada saja perasaan ‘ingin dilihat’ oleh orang lain.

Apalagi di era ‘like’ seperti sekarang. Sangat mudah ‘mengomparasikan’ segala sesuatunya. Tinggal lihat like, retweet, reblog, love, atau semacamnya. Entah saya sendiri yang merasakan atau mungkin yang lain juga merasakannya, saya merasa seolah medsos sekarang menciptakan sebuah ‘sistem’ dimana yang deserved mendapatkan gelar ‘keren’ itu adalah mereka yang postingannya dilike banyak orang, direblog banyak orang, diretweet banyak orang. Walau dalam kasus tertentu memang semua itu bisa dijadikan indikator bagus-tidaknya sesuatu.

Oke. Saya tak mengatakan saya terlepas dan tidak terjebak oleh ‘sistem like’ itu. Justru karena dalam satu-dua kesempatan saya merasakan saya pun demikian, hal ini jadi refleksi bagi diri saya sendiri.

Bahwa definisi dan makna kompetisi sesungguhnya tidak selemah dan sesederhana menilai sesuatu dengan seberapa banyak orang yang sudah melihatnya. Belajar dari kerasnya kerja orang lain dan banyaknya kesalahan dalam diri, sudah cukup.

Bahwa kompetisi dan komparasi cukup dijadikan trigger untuk memantik motivasi. Setelah itu, biarlah pikiran dan hati yang berjuang merealisasikan semuanya. Karena hanya pikiran kita yang tahu batas kemampuan kita, dan hati kita yang tahu benar-tidaknya track yang sedang dilalui saat ini.

Bahwa giving inspiration dan expressing something cukuplah dalam takaran yang proporsional. Tak perlu sedih saat like yang didapat sedikit, atau bertinggi hati saat like yang didapat banyak. Karena itu sesungguhnya tak penting. Biarlah kebaikan dari apa yang diberikan menghampiri sendiri hati-hati mereka yang melihatnya.

Saya selalu suka apa yang dikatakan Tere Liye,

Biarlah orang-orang menyukai tulisan saya, bukan karena sayanya

Dalam konteks luas, saya bisa mengartikan bahwa tak penting berlebihan dalam menampilkan rupa, capaian, atau sejenisnya. Biarlah kebermanfaatan yang menceritakan semuanya.

Karena memang kebermanfaatanlah yang pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang patut digaris bawahi.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: