Kisah Zaky

Berkenalan denganmu adalah hal yang tak direncanakan. Bersahabat denganmu adalah kisah tak terlupakan. Bertakdir denganmu adalah anugerah terindah yang kurasakan”

Pipit Fitriani.

Perjumpaan dengannya di kampus Gajah itu bukanlah perjumpaan pertama kali. Aku berjumpa dan berkenalan dengannya dalam bingkai kali pertama, jauh, jauh sebelum itu. Mungkin sekitar 11 tahun hingga 12 tahun silam. Saat dimana aku masih polos dalam memaknai hidup, bahkan saat aku belum mengenali apa itu namanya cinta.

Catatan sejarahku mengatakan bahwa rekam kisah pertamaku dengannya adalah saat aku dan dia berada di bangku sekolah dasar. Kami tertakdir berada dalam satu lingkungan pendidikan dan permainan yang hampir sama saat itu, karena sekolahku dan sekolahnya hanya berjarak satu depa, bahkan berada pada satu pintu gerbang yang sama. Bisa kukatakan, bahwa aku dan dia melewati pola pergaulan masa kanak-kanak yang tak jauh berbeda.

Tidak terlalu banyak yang kukenang saat aku menjadi sahabatnya di masa-masa sekolah dasar, karena pertama kali aku dan dia menjalin persahabatan adalah saat kami mengikuti bimbingan bahasa Inggris. Dan komunikasi antara kami hanya terjalin ketika kami berada di ruang kelas bimbingan bahasa. Wajar tak banyak memori yang tercipta karena ruang komunikasi kami terbatas, selain karena memang kami berbeda sekolah. Satu hal yang aku ingat darinya dan terus membekas hingga kini adalah ia adalah sosok yang sangat ramah. Senyumnya yang senantiasa lebar membuat orang-orang, termasuk aku, senang bersahabat dengannya.

Aku masih ingat, terakhir kali kami mengakhiri fase sekolah dasar kami adalah saat kami berpapasan di sebuah Department Store untuk membeli perlengkapan sekolah. Aku bersama ibuku, dia bersama ibunya. Sejenak kedua Ibu kami berbincang dan aku pun turut melontarkan tanya padanya. Dari tukar tanya singkat itu aku tahu, bahwa dia hendak melanjutkan sekolah menengahnya di pesantren Kuningan, Khusnul Khotimah. Sekilas, aku berdecak kagum padanya. Setelah hari itu, tak pernah terpikirkan bahwa aku akan berjumpa lagi dengannya.

Ketidaksengajaan membingkai perjumpaan kami untuk kali kedua. Atas kuasaNya, di tengah tahun sekolah menengah pertama, Ia mempertemukan kembali aku dengan dia yang saat itu terlihat sangat berbeda. Jilbab yang panjang, rok yang melebar, kaus kaki yang tersemat, menjadi seperangkat busana yang membuatnya terlihat menjadi lebih anggun, lebih wanita.

Awal pertama kali aku menyadari dia pindah ke sekolahku adalah saat aku dipanggil oleh seorang Bapak. Saat aku ditanya apakah aku mengenali sosok perempuan di sampingnya atau tidak. Bapak itu adalah Ayah dari perempuan yang beliau gandeng saat hendak masuk ruang kantor sekolah. Sedetik aku berpikir sejenak. Mencoba membuka memoriku, barangkali ada simpanan memori tentang siapa sosok perempuan itu. Setelah proses mengingat yang cukup berjeda, akhirnya aku menyadari bahwa sosok perempuan itu adalah kawan sekolah dasarku tempo lalu. Namun kini dia dengan paras yang sangat berbeda. Tak pernah terbayang bahwa dia akan mengenakan jilbab yang begitu terlihat memesona. Bibit kagum langsung hinggap di ruang rasaku saat itu. Dan mungkin, saat itu adalah titik dimana semua rangkaian kisah ini bermula.

Dia termasuk jajaran papan atas waktu di sekolah menengah pertama. Dia juga cukup aktif di keorganisasian siswa dimana aku diamanahi untuk memimpinnya. Di beberapa kali kesempatan memimpin rapat, aku pernah melempar pandang padanya. Setiap kali melihatnya, dengan pandangan tertunduk, dia terlihat memperhatikan. Karena interaksi lawan jenis merupakan hal tabu di sekolah menengah, aku hanya sesekali bertemu dengannya. Tidak terlalu sering pula aku berpapasan dengannya. Situasi seperti itu terkadang membuatku merasa canggung untuk berkomunikasi bahkan hanya untuk sekedar menyapanya, saat itu.

Tak lama dia berada di sekolahku. Atas satu dua alasan, ia harus kembali berpindah ke sekolah menengah Islam yang lain. Setelah dia berpindah, tak pernah aku berjumpa dengannya lagi. Satu kabar yang pernah kudengar, ia mengikuti program akselerasi di sekolah menengah atas sehingga saat aku berada di masa akhir sekolah menengah atas, dia telah menginjakkan kakinya di Kampus Gajah. Pada masa-masa ini, sempat beberapa kali mencoba menjalin kembali silaturahmi dengannya.. Mengucap salam saat Idul Fitri, mengirim doa di hari lahirnya. Entah apa alasan yang mendasari. Hanya merasa, ada sedikit rasa yang terpaut terhadapnya.

Sekitar lima tahun aku dan dia tak kembali berjumpa. Kali ketiga aku berjumpa dengannya adalah saat usrah pertama Asrama Salman. Itu pun sebuah hal yang tidak terduga sebelumnya. Suara dibalik hijab saat itu langsung dapat kukenali dengan begitu mudahnya. Pertemuan kembali dengannya saat itu seolah memercik kembali bibit pesona yang dulu sempat muncul. Namun kini, bibit pesona itu bercampur rasa, berbalut kekaguman yang mungkin oleh pemuda masa kini disebut dengan cinta.

Masa-masa itu adalah masa dimana aku merasa apa yang tadi disebut cinta tidak bijak bila hanya dijadikan lelucon harian belaka. Rasa yang muncul padaku saat itu, menurutku, menuntut tempat muara yang berpahala. Saat awal masuk kuliah, aku sudah mengazzamkan diri untuk menyegerakan menikah. Satu hal yang kupahami, bahwa wanita baik untuk lelaki baik, pun sebaliknya. Oleh karenanya, hal yang kulakukan adalah senantiasa berusaha memperbaiki kualitas diri, menengadahkan tangan untuk berdoa, dan berikhtiar mencari calon ibu yang baik untuk kehidupan masa depan kelak, karena masa depan anak ditentukan dari sejak memilih siapa yang akan menjadi ibunya. Oleh karenanya, untuk hal ini, aku mencoba untuk tidak main-main.

Aku memiliki suatu kebiasaan yang aneh dalam hal interaksi dengan lawan jenis. Aku akan merasa biasa saja berinteraksi dengan lawan jenis ketika aku tak menaruh rasa apapun terhadapnya. Canda, tawa, bertukar cerita, adalah hal yang dianggap biasa untuk dilakukan. Lain halnya dengan seseorang yang aku menaruh sesuatu terhadapnya. Serasa aku tak mau berinteraksi banyak dengannya, bahkan hanya untuk berpapasan. Entah mengapa. Mungkin suatu alasan karena aku ingin menjaga dia dari tumpahan hal yang belum semestinya ditumpahkan. Karena aku berprinsip, apa yang orang sebut kasih sayang terhadap lawan jenis, khususnya pasangan, ingin kutumpahkan di tempat yang tepat, dan saat yang tepat. Hanya sebuah rasa tak beralasan atau mungkin bisa juga disebut dengan sebuah keegoisan.

Begitupun terhadapnya. Seolah aku tak mau memiliki interaksi tak penting dengannya, walau selalu ada rasa senang saat bisa mengobrol dengannya dalam satu-dua kesempatan. Interaksi dengannya selama di kampus pun tak banyak. Intensitas interaksi yang cukup banyak dengannya hanya ketika kami berada pada satu kepanitiaan Program Pelaksana Idul Adha  (P3I) 1432 H Salman ITB. Saat itu, aku diamanahi menjadi ketua panitia, dan dia menjadi ketua koordinator putri dalam kepanitiaan tersebut. Interaksi kami saat itu ya sebatas hubungan profesional kepanitiaan, tidak lebih. Aku pun enggan membuatnya lebih, dengan alasan di atas tadi.

Saat itu, aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa aku menaruh rasa terhadapnya. Namun sisiku yang lain mengatakan bahwa tak etis untuk mengungkapkan rasa jika tidak berencana untuk benar-benar serius dengannya. Serba dilema. Satu sisi, saat itu aku merasa belum siap jika harus mengajaknya ke arah yang lebih serius. Terlebih lagi, aku berada pada satu ketidakpastian apakah ia memang menaruh rasa yang sama padaku atau tidak. Sisi lain membisikkan bahwa ia sepertinya tergolong wanita yang dicari banyak pria. Telat melangkahkan kaki di hadapannya, berakhirlah sudah semua.

Saat rasa terhadapnya semakin membesar, secercah keyakinan turut menguat. Padanya, aku melihat banyak hal yang membuatku yakin jika dia insyaaLlah akan menjadi pasangan yang baik dan seorang ibu yang bijak. Seseorang yang kupandang shalihah, berhati lembut, cerdas, menarik, dan memiliki jiwa melayani yang kuat. Seorang aktivis yang memiliki segudang prestasi akademik dan non akademik. Seseorang yang kuanggap telah selesai memahami basic pemahaman tentang kodratnya sebagai seorang wanita dan sebagai calon istri serta ibu di masa mendatang. Lebih dari itu, dia adalah seseorang yang pertama kali aku merasa bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi pendampingku, untuk menjadi kawan berkisah sepanjang hidupku kelak.

Satu hal yang membuatku resah saat itu adalah aku tidak tahu bagaimana cara aku meraihnya. Akselerasi saat sekolah menengah atas membuatnya berada satu tingkat di atasku di kampus. Interaksi yang tidak terlalu sering entah mengapa membuatku merasa dia tidak menaruh sosokku di lingkaran hidupnya. Ketidakpastian apakah dia menaruh rasa padaku atau tidak semakin menutup pintu peluang untuk menjadikan harapku menjadi realita. Intinya aku merasa abu-abu terhadapnya. Benar-benar tidak terpikirkan alur cerita untuk menggapainya.

Aku teringat bahwa seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Aku meyakini, saat seseorang melakukan sesuatu dengan cara yang baik, ia akan diberkahi hasil yang baik pula. Aku berkomitmen untuk menjaga diri atasnya. Saat itu pun aku memiliki rencana akan mendatangi rumahnya di saat yang tepat. Tepat buatku saat itu adalah satu tahun setelah hari kelulusanku. Agak pesimis, tapi ya sudah yakin saja Bismillah. Hanya meningkatkan kualitas diri dan sebut namanya dalam setiap doa yang menjadi ikhtiarku dalam menjemput takdir itu.

Sejatinya, aku pun sebenarnya tidak terlalu memaksa. Aku tahu, bahwa rencana dan pilihan Allah adalah yang terbaik. Tapi aku juga memahami bahwa ranah manusia adalah ikhtiar maksimal. Bagiku, meminta dia padaNya adalah bentuk ikhtiar yang bisa kulakukan. Berharap, kehendak Allah selaras dengan apa yang aku inginkan. Sebuah keyakinan yang entah aku juga tak paham datang dari mana. Tapi yang pasti, tentu, sumber segalanya adalah Allah SWT.

Maha Suci Allah yang telah merencanakan skenario di luar nalar manusia. Pertengahan tahun ketiga di kampus, seorang kawan dekatnya dengan inisiatif tetiba membawa sebuah kabar, bahwa sosok yang kukagumi dan kuharap menjadi pendamping masa depanku itu ternyata memiliki rasa yang sama padaku. Saat kabar itu sampai di telingaku, sontak aku pun kaget seketika. Sempat terdiam beberapa jeda. Mencoba meyakinkan diri apakah telingaku ini benar-benar tidak salah dengar. Mendengar kabar itu, tentu rasa penasaran dalam diriku bertambah. Aku kemudian mengajak berbincang kawannya itu tentang kabar tadi lebih mendalam.

Pada kawannya itu, aku menitipkan dua buah pesan. Pesan pertama, sungguh apa yang kurasa terhadapnya sama seperti apa yang dia rasa terhadapku. Pesan kedua, bahwa aku terikat dua buah beasiswa saat itu. Aku meminta kawannya untuk menyampaikan pesan itu padanya semata-mata karena aku ingin mengetahui responnya seperti apa. Jika dia mau menerima kondisiku dan mau bersabar, sungguh aku sangat mau dengannya. Jika dia tidak bersedia, aku hanya bisa pasrah. Mungkin dia bukan jodoh terbaik untukku.

Beberapa waktu setelah itu, kawannya menyampaikan pesan darinya padaku. Pesan dari dia adalah bahwa dia mau menerima kondisiku. Aku tak mampu berkata saat itu. Namun, hatiku juga tak berhenti berucap syukur. Dengan mengucap basmalah, aku insyaaLlah serius melangkah. Kemudian terpikirkan olehku untuk mengatur pertemuan dengannya. Pertemuan untuk memastikan kabar yang sampai di telingaku itu benar-benar disampaikan secara langsung dari mulutnya.

Di titik ini, aku pertama kali berbincang dengannya dengan konten pembicaraan yang aku pun masih gugup membicarakannya. Setelah berbincang sesaat, kami memutuskan untuk berjumpa. Untuk menggali kepribadian masing-masing lebih dalam, untuk mengetahui kondisi keluarga, untuk memahami pandangan masing-masing tentang masa depan, dan hal-hal lain yang perlu digali atau diceritakan. Hingga akhirnya muncul sebuah kesempatan dimana kami berdua dapat bertemu. Dibantu dua orang kawan yang menemani kami berdua.

Aku meminta padanya agar dia ditemani kawannya, pun aku akan meminta tolong seorang kawan untuk menemani. Hal ini dimaksudkan agar kami tidak berbincang berdua saja. Dia pun menerima tawaran itu. Atas izin Allah, aku dan dia bertemu. Terima kasihku untuk dua orang kawan ini yang rela datang dari jauh untuk menemani kami.

Tidak banyak basa-basi yang terjadi di sana. Karena aku merasa gugup, dan ia pun terlihat tertunduk malu. Aku akhirnya memberanikan diri untuk membawa alur pembicaraan ke arah yang serius. Aku mengawali pembicaraan serius itu dengan memaparkan kembali kondisiku, rencana ke depanku, kondisi keluargaku, dan lain sebagainya. Tak lupa aku pun melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat ingin aku ketahui jawabannya. Mengapa ia mau denganku? Jawabannya sangat sederhana, karena ia telah memilihku sejak lama. Sudah.

Setelah pertemuan itu, aku berbincang dengan kedua orang tuaku. Aku bercerita bahwa aku telah memiliki seseorang yang aku suka, dan ia pun suka padaku. Aku menceritakan pada kedua orang tua bahwa aku ingin menikah dalam waktu dekat. Aku paparkan semua argumen dan alasanku. Aku juga ceritakan tentang dia pada kedua orang tuaku. Alhamdulillah, respon orang tua baik. Ayah, bahkan bertanya padaku kapan beliau bisa mengantarkanku untuk bertemu dengan keluarganya. Semoga Allah merahmatimu selalu, Yah.

Satu waktu, Ayahnya memintaku untuk bertemu secara personal dengannya untuk mengajakku berbincang serius. Beliau menanyakan banyak hal. Tentang keseriusanku terhadap putrinya, tentang akan dibawa ke mana putrinya kelak, tentang rencana masa depan, dan lain sebagainya. Aku pun menceritakan segala hal yang dapat kuceritakan dan menjawab segala pertanyaan yang beliau lontarkan. Dalam kesempatan itu, aku menyatakan secara langsung pada Ayahnya bahwa aku berniat untuk meminang putrinya. Ayahnya Alhamdulillah menerima dengan memberiku beberapa pesan dan aku harus menjaga pesan itu dengan baik.

Tak banyak proses yang kami lewati saat itu. Terlebih, Alhamdulillah, banyak kemudahan yang kami lewati selama menjalani proses itu. 24 November 2013 adalah momen tak terlupakan bagi kami. Satu hari setelah hari kelahiranku, aku bersama keluarga besarku mengunjungi kediamannya untuk datang mengkhitbahnya. Bagiku pribadi, momen ini merupakan kado terbaik di hari pergantian usiaku.

Kini, hari menuju akad semakin dekat. Hal yang dulu aku anggap mimpi semata, telah berubah menjadi kenyataan tak terduga. Semoga pernikahan kami menjadi jalan bagi kami untuk meraih ridho Allah, menggapai ketenangan hati, sarana akselerasi menjadi insan terbaik, dan bentuk kontribusi kami dalam membangun peradaban umat. InsyaaLlah.

Tertakdir bersamamu adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki. Aku bahagia, satu sayapku, kamu yang akan melengkapi. Aku bahagia, kekurangan-kekuranganku, kamu yang akan menggenapi. Aku bahagia, separuh jiwaku, kamu yang akan mengisi. Terima kasih telah menerimaku apa adanya. Meminjam perkataan sahabat, bersabarlah hingga kita sampai pada suatu masa, dimana kita akan saling bertukar tulang. Kamu jadi tulang rusukku, aku jadi tulang punggungmu. Satu hal yang ingin selalu kupinta, semoga kita senantiasa dipersatukan hingga kita di surga.

0 comments: On Kisah Zaky

Leave a Reply to Zaky Amirullah Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: