Kisah Pipit

Sebuah kisah terekam dalam berbagai alur yang membawanya sampai pada sebuah keyakinan. Seringkali kisah tersebut tak memerlukan kejadian besar untuk memulainya. Bahkan hanya dengan sesederhana pertemanan di masa kecil. Ya, pertemananku dengan seorang Fauzi Achmad Zaky di bangku sekolah dasar yang menjadi awal kisah ini bermula.

Aku mengenalnya sudah sangat lama. Masih teringat dengan jelas bahwa pertama kali aku mengetahui sosoknya adalah saat sedang diselenggarakannya acara hari besar keagamaan di sekolah. Saat itu, di tengah acara sedang berlangsung, ada seorang anak lelaki yang naik ke atas panggung untuk memberi sebuah ceramah. Anak lelaki yang berada pada tingkat kelas yang sama denganku. Bedanya, dia sudah berani tampil di depan khalayak umum dan sudah cukup fasih untuk menyampaikan untaian kalimat hikmah. Kekagumanku pun muncul seketika terhitung sejak saat itu. Terlebih sosoknya yang cukup terkenal dan berprestasi di lingkungan sekolah, tak ayal menambah kekagumanku padanya. Hingga saat berada di kelas 6, secara tak sengaja kami mengikuti bimbingan Bahasa Inggris bersama. Hanya 3 orang siswa dalam kelas kami saat itu, aku, sahabatku, dan dirinya, sehingga membuatku bisa mengenalnya lebih dekat dan semakin menganal sosoknya yang sangat friendly dan cerdas.

Namun pertemanan kecil saat itu tak berlangsung secara kontinu karena di akhir masa sekolah dasar, kami melanjutkan langkah di sekolah menengah pertama yang berbeda. Satu memori yang mengakhiri kisah di masa bangku sekolah dasar tersebut adalah pertemuan singkat aku dan ibuku dengan dia dan ibunya di sebuah pusat perbelanjaan saat itu. Setelah saat itu, tak pernah ada kabar atau komunikasi yang terjalin hingga di tengah tahun kedua masa sekolah menengah pertama, kami dipertemukan kembali. Aku yang sebelumnya melanjutkan sekolah ke sebuah pesantren di Kuningan, atas berbagai alasan harus pindah sementara ke sebuah sekolah yang tak jauh dari kediamanku, di sekitar Bandung atau Cimahi. Saat itu orang tua yang memilihkan sebuah Boarding School dan mengurus segala perlengkapannya. Satu hal yang kusadari setalah mendengar rencana kepindahanku ke Boarding School tersebut adalah adanya salah satu teman kecilku yang bersekolah disana, yang tak lain adalah dirinya. Betul adanya memang, hari pertama aku datang di Boarding School tersebut secara tak disangka aku langsung bertemu dengan seseorang yang pernah kukenal. Tak perlu membuka memori banyak untuk menyadari bahwa orang tersebut adalah dirinya karena tak hanya aku, orang tuaku pun dapat langsung mengenali sosoknya.

Meski berada pada satu lingkungan sekolah yang sama lagi, namun kali itu, tak banyak interaksi yang terjalin antara aku dengannya. Atas kehendakNYA pula, dalam waktu yang singkat aku kembali harus meninggalkan Boarding School tersebut. Sejak saat itu tak pernah lagi ada pertemuan dengannya. Sangat jarang sekali juga aku mendengar tentang kabarnya. Terakhir kabar yang kudengar adalah dia melanjutkan langkah ke salah satu sekolah menegah atas favorit di Bandung.

Maha Besar Allah atas segala rencanaNYA, 5 tahun berselang, Allah mempertemukan kami kembali di kampus yang sama. Pertama kali menyadari hal tersebut adalah saat secara tak sengaja aku pernah melihatnya di Masjid Salman. Meski saat itu penampilannya sudah cukup berbeda namun tak sulit bagiku untuk mengenal sosok tersebut. Kembali tercengang oleh skenarioNYA saat pembukaan pertama kegiatan pembinaan Asrama Salman, aku melihatnya dalam satu momen yang sama. Ya, ternyata kami berada di asrama yang sama. Berada pada satu asrama tak begitu saja membuat kami kembali bisa berinteraksi layaknya sebagai teman lama. Rasa canggung yang begitu besar sulit untuk diredam meski ada keinginan untuk kembali menjalin komunikasi dengannya. Rasa canggung yang lahir dari sebuah rasa kagum yang sudah sejak dahulu itu disimpan. Masih tersimpan dengan rapi meski tahun sudah berganti tahun. Hingga pada sebuah kesempatan, kami berada pada sebuah kepanitiaan Idul Adha yang sama. Momen tersebut memberikanku satu dua kesempatan untuk semakin mengenali sosoknya yang sudah semakin dewasa, bertanggung jawab, dan semakin terlihat jiwa kepemimpinan yang besar pada dirinya. Hanya saja, kesemua memori tersebut masih harus disimpan kembali dengan rapi. Namun, ada yang berbeda, rasa kagum yang sudah lama disimpan tersebut saat itu berubah menjadi sebuah rasa yang lebih dewasa. Sebuah rasa dimana akhir dari alur kisah ini memiliki tujuan yang jelas, harapan yang besar, yaitu tertakdir untuk dapat membangun keluarga bersama. Namun tak pernah terbayang akan dengan cara apa harapan tersebut dapat terwujud. Tak jarang pula terbesit pikiran bahwa rasa yang disimpan rapi selama ini tak akan bertitik temu.

Beberapa kali perdebatan jiwa muncul di tahun keempat aku berada di kampus. Tahun dimana seorang mahasiswa akan dihadapkan pada sebuah Tugas Akhir untuk memperoleh kelulusan yang artinya juga proses menuju menggenapkan setengah Dien akan semakin sering dibahas. Begitu pula dengan keadaanku saat itu, tak hanya dari pihak orang tua, lingkungan sekitar pun turut mempengaruhi. Saat itu aku berpikir mungkin memang sudah waktunya aku berpikir serius untuk melangkah menuju pernikahan. Namun tak bisa dipungkiri kecenderunganku terhadapnya masih sama, tak pernah berubah, bahkan berkurang sedikit pun. Seringkali kudengar bahwa menjemput jodoh itu tak hanya dengan diam menunggu, tapi ada doa yang dipanjatkan dan ikhtiar nyata yang dilakukan –ikhtiar yang semestinya dan dalam ranah yang benar tentunya-. Panjat doa sudah sedari dahulu aku lantunkan di setiap doa malam. Namun ikhtiar nyata sungguh tak pernah dimulai karena terpikirkan saja bagaimana caranya, tidak. Melalui salah satu sahabatku yang tak lain adalah kakak kelasnya saat dia berada di sekolah menengah atas, kutitipkan beberapa pertanyaan untuknya. Tentunya pertanyaan tak beridentitas karena saat itu aku hanya ingin mengetahui kondisi dan pandangannya tentang rencana menikah tanpa ingin diketahui bahwa yang menanyakan hal tersebut adalah aku. Dari jawaban atas titipan pertanyaan saat itu aku mengetahui kondisinya yang terikat dalam dua buah ikatan beasiswa yang tak memperbolehkannya menikah. Satu beasiswanya justru mengharuskan dia untuk tidak menikah hingga beberapa tahun setelah lulus sebagai bentuk perjanjian beasiswanya. Seketika aku berpikir mungkin memang bukan dialah jodoh yang Allah takdirkan. Namun terlepas dari hal tersebut, masih saja malam-malam berlalu dengan tak pernah lupa menyebutnya dalam doa seolah masih berharap atas skenarioNYA yang tak terduga.

Satu tahun berselang setelah itu, tiba saatnya hari menuju kelulusan. Sejujurnya harapan yang terpendam sedikit demi sedikit memudar meski doa selalu terpanjat dan rasa yang sama masih tersimpan rapi. Terlebih saat itu Allah memberikanku sebuah hadiah besar, beasiswa untuk melanjutkan studi yang akan mengambil waktu 4-5 tahun. Keadaan tersebut membawaku pada sebuah kepasrahan atas skenario yang akan Allah tunjukkan sambil berusaha mengikhlaskan diri. Berpanjat rasa syukur yang teramat dalam, satu hari setelah kelulusanku, yaitu 14 Juli 2013, sampailah sebuah kabar yang dibawa oleh sahabat karibku bahwa dia, orang yang selama ini kuharapkan, memiliki rasa yang sama dan juga memiliki tujuan yang sama denganku. Rasa bingung bercampur haru bahagia menyambut kabar yang kudengar. Aku memang pernah bercerita tentang hal tersebut kepada sahabat karibku tetapi aku tak memintanya untuk menyampaikan apapun pada yang bersangkutan. Terlepas dari itu semua, hingga saat ini aku sangat bersyukur atas kemudahan yang Allah beri melalui sahabatku tersebut dan tentunya aku sangat berterimakasih padanya. Semoga Allah selalu memudahkan urusanmu, sahabat 🙂

Setelah berkomitmen untuk melangkah serius, sebuah pertemuan direncanakan untuk lebih meyakinkan dan memperjelas kondisi masing-masing agar sebuah keputusan bersama dapat diambil. Ditemani dua orang sahabat, dalam pertemuan tersebut kami mengutarakan keadaan masing-masing dan dari pertemuan tersebut terlahir sebuah keyakinan yang semakin mantap untuk melanjutkan ke jenjang serius. Kelapangan hatinya yang mempersilakanku untuk tetap berangkat melanjutkan studi pun menjadi hal yang semakin memantapkanku bahwa dia akan menjadi seorang imam yang tetap memberi ruang padaku untuk berkembang. Tak hanya itu, keikhlasan untuk menyelasaikan kontrak beasiwanya agar dapat menikah tanpa harus menunggu 2-3 tahun lagi menjadi keputusan besar yang ia peratruhkan. Lalu di pertemuan tersebut, kami pun merencanakan untuk memperkenalkan diri kepada keluarga masing-masing. Di akhir Ramadhan tahun lalu, untuk pertama kalinya dia beserta kedua adiknya mengunjungi kediamanku untuk bertemu orang tua. Perbincangan hangat mengalir diantara orang tuaku dengannya dan dua adiknya. Lalu, tepat di hari Idul Fitri, aku berkunjung ke keluarga besarnya. Momen di Idul Fitri membuat keluarga besarnya sedang berkumpul saat itu. Perasaan canggung hilang seketika saat keluarga besarnya dengan hangat menerima kedatanganku. Senyum malu pun muncul ketika Mamahnya menyambutku dengan mengatakan “Sudah besar ya sekarang”. Mungkin karena terakhir kami bertemu sudah 10 tahun yang lalu 🙂

Pertemuan awal tersebut menjadi pembuka jalan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan keluarganya. Beberapa kali Mamah dan adiknya mengirimkan pesan agar aku mengunjungi kediamannya kembali. Di sela-sela waktu, aku beberapa kali mengunjungi kediamannya untuk sekedar bersilaturahim pada keluarganya, tanpa sepengatahuannya dan tanpa ditemani dirinya karena saat itu dia tinggal di asrama dan juga kesibukannya di kampus yang membuatnya jarang pulang. Dari Mamah, Ayah, dan kedua Adiknya aku semakin mengenali sosoknya. Sosok yang sangat membanggakan di keluarganya, sosok yang sangat menghormati orangtuanya, sosok yang mengayomi adiknya.

Perjalanan-perjalanan tersebut akhirnya membawa kami pada sebuah momen khitbah pada 24 November 2013 dimana keluarga besarnya mendatangi keluarga besarku dengan membawa sebuah niat tulus untuk meminang. Kini, hari-hari menuju perjanjian mitsaqan ghalizha itu semakin dekat. Maha Besar Allah yang memberikan alur kisah tak terduga ini. Tak henti ucap syukur atas jawaban doa yang Allah beri. Dengan menyebut nama Allah, semoga niat kami membangun sebuah keluarga menjadi sebuah amal kebaikan yang tak hanya untuk kami, namun juga untuk umat inshaa Allah.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)

Lantunan ayat Allah itulah jawaban atas pertanyaan yang beberapa kali kau tanyakan padaku. Pertanyaan yang menanyakan mengapa aku mau menerimamu, mengapa aku menyimpan rasa sejak lama. Sederhana. Karena aku telah memilihmu. Karena atas kuasaNYA, Allah memberikanku kecenderungan terhadapmu. Yang dengan kecenderungan tersebut semoga lahir rasa tentram dan kasih sayang melalu ikatan suci pernikahan sehingga kita senantiasa dapat semakin menyadari tanda-tanda kekuasaanNYA, inshaa Allah.

0 comments: On Kisah Pipit

  • alhamdulillah ibu skrng kami sdh sampai di titik ini, mohon doanya ya bu agar perjalanan menuju hari H dan pasca hari H nya berkah dan lancar. ibu, diantos pisan ya kehadirannya nanti 🙂

  • Subhanallah perjalanan dan penantian panjang yang luar biasa. Betapa kekuatan doa begitu hebat..
    Barakallah teh pipit&a zaky… selamat menempuh hidup baru menuju sakinah mawaddah rahmah… 😉

Leave a Reply to Pipit Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: