Khawatir

Beberapa waktu terakhir ini aktivitas banyak dilakukan di kampus. Apalagi sebulan kemarin. Agenda demi agenda datang silih berganti. Tak jarang harus beraktivitas hingga larut malam. Bahkan sampai harus menginap di kampus.

Aktivitas-aktivitas tersebut saat itu terkadang membuat saya harus merelakan jadwal pulang satu pekan sekali saya ke rumah. Iya. Satu pekan sekali, setiap hari Sabtu atau Minggu, saya pulang ke rumah di Cimahi untuk bertemu dengan kedua adik saya. Selain itu, waktu pulang adalah waktunya saya bercerita pada Ayah dan Mama tentang apa yang saya lakukan selama satu pekan terakhir. Dan rumah adalah tempat dimana saya benar-benar melupakan aktivitas kampus. Entah itu akademik atau organisasi. Sebagaimana layaknya saya mencoba totalitas di kampus dengan belajar dan berorganisasi, saya pun merasa rumah harus mendapat keadilan yang sama, sebagai tempat saya bertotalitas untuk istirahat, refreshing, dan merebahkan badan sejenak. Walau terkadang, tetap saja di satu dua kesempatan, kerjaan kampus saya bawa ke rumah.

Hingga hari kemarin, jika seorang kawan tidak mengingatkan, mungkin hal ini akan menjadi hal yang tidak saya indahkan. Dan lagi-lagi, jika kawan tadi tidak mengingatkan, mungkin saya tidak akan merasa hal ini sepenting itu saya ingat dan saya camkan.

Bermula dari kejadian yang sederhana menurut saya.

Suatu malam, saya pulang ke rumah. Seperti biasa, niat saya pulang ke rumah, selain untuk refreshing, juga untuk mengantarkan cucian. Di rumah ada mesin cuci. Jadi bisa menghemat dengan tidak perlu memasukkan cucian ke laundry. Kebetulan saat itu adalah saat yang kurang menyenangkan buat saya, karena saya harus membawa kerjaan ke rumah. Waktu pengumpulan yang sudah mendekati deadline dan saya tak punya waktu lagi untuk pulang ke rumah selain hari itu membuat saya mau ga mau harus menyelesaikannya di rumah.

Kekhawatiran tidak selesainya tugas membuat saya sedikit tak acuh pada sekitar. Saat adik yang paling kecil meminjam handphone seperti yang biasa ia lakukan saat saya pulang ke rumah, hanya bisa saya tanggapi dengan ya udah tuh ambil aja de di sana. Saat Ayah menyapa dan bertanya kapan kak pulang?, saya hanya menjawab seadanya dengan melirik beliau sesaat, kemudian kembali membawa tatapan mata saya pada laptop. Begitupun dengan Mama. Hal pertama yang Mama tanyakan setiap kali saya sampai di rumah adalah Udah makan belum kak? yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan tentang aktivitas saya sepekan ke belakang. Lagi, karena fokus sedang teralihkan pada laptop, saya hanya merespon seadanya pertanyaan Mama. Dan tau-tau sudah ada satu paket hidangan saja di samping saya. Hidangan dari Mama.

Tugas selesai saat semua sudah terlelap. Saya ingat, bahwa esok dini hari saya harus bergegas kembali ke Bandung untuk menunaikan sebuah janji. Saya tidur dengan tidak lupa mengeset alarm agar berbunyi pukul 2 dini hari. Dan atas izinNya, saya bangun di sekitar jam 2, lupa tepatnya jam berapa. Melihat semua masih tertidur lelap, saya mengendap, membereskan laptop semalam, mengambil beberapa pasang pakaian, merapikannya ke dalam tas, lalu pergi. Saat itu saya berpikir, tak enak jika saya harus membangunkan Ayah atau Mama. Saya pun pergi tanpa pamit.

Sekitar pukul 5 pagi, Mama sms saya. Karena sedang di tengah urusan, saya tidak membalas sms Mama. Di samping saat itu pulsa sudah sekarat. Saya pun kembali dengan urusan saya. Hingga tak terasa aktivitas demi aktivitas berlalu begitu saja.

Suatu waktu di hari itu, seorang kawan sms saya. Dia mengatakan bahwa Mama tadi sms dia, menanyakan kabar saya, menanyakan mengapa saya tidak balas sms nya, menanyakan mengapa saya tidak pamit malam itu padanya. Kemudian, kawan tersebut menambahkan dalam smsnya, kalo ada apa-apa tuh kasih tau mamamu kek! Jangan buat orang khawatir!

Ditambah, sore harinya, setelah kawan saya yang tadi sms saya, masuk dua sms yang interval keduanya sangat dekat. Satu sms dari Mama. Dan satu lagi sms dari Ayah. Bahkan Ayah pun ikut sms saya.

Tetiba seluruh perhatian saya tertuju pada satu hal yang sebelumnya tidak masuk dalam perhatian saya. Entah karena memang sebelumnya saya menganggap hal yang remeh. Atau karena saya tidak peka dan sense of berbakti saya yang sudah memudar. Astaghfirullah.

Seketika saya merenung.

Mungkin buat saya tidak pamit itu hal yang sepele, tidak balas sms itu hal yang biasa. Semacam ya udah. Tapi buat Mama, bisa jadi itu hal yang paling membuat beliau khawatir, gelisah. Ah, kenapa baru sadar kalo hal kecil ini itu penting sekarang? Kenapa ga mencoba ngeliat dari sudut pandang Mama? Satu persatu ingatan semalam pun muncul. Tentang respon seadanya, tentang hak orang rumah untuk diajak interaksi diabaikan, tentang keinginan Mama dan Ayah untuk dengan cerita saya yang tidak saya tunaikan. Duh, saya menyesal!

Seringkali saya merasa, karena saya sudah bisa dianggap cukup dewasa, saya selalu beranggapan bahwa orang tua akan faham dan memaklumi aktivitas saya. Dan karena saya sudah dewasa pula, saya berpikir saya tidak perlu lapor di setiap aktivitas saya dengan anggapan orang tua sudah percaya dengan saya. Karena saya bisa jaga diri, tanggung jawab atas apa yang saya kerjakan, dan karena saya bukan anak kecil seperti dulu.

Saya lupa. Bahwa kasih sayang orang tua takkan pernah pudar. Mau masih kecil, atau udah dewasa, mau di jarak yang dekat, atau di jarak yang jauh, kasih sayang orang tua bakal tetep sama! Kadarnya, porsinya, semua sama!

Selama ini, saya tidak mencoba memahami Ayah dan Mama. Walau saya tahu, betapa selama ini mereka selalu mencoba memahami saya. Mereka tak pernah meminta materi dari saya. Dan memang mereka tak membutuhkan itu. Mereka juga tak pernah meminta saya mengembalikan seluruh kebaikan mereka. Dan sekali lagi, memang mereka tak membutuhkan itu. Mungkin yang mereka inginkan hanya satu, kabar saya. Dimana saya berada, apa yang sedang saya lakukan, bersama siapa saya sekarang, mungkin terlalu jauh. Saat saya menjawab sms dan bercerita tentang apa yang saya lakukan dan saya capai, itu sudah lebih dari cukup.

Maafkan saya, Mama, Ayah. Hal yang saya anggap sepele dan kecil ini, insyaaLlah takkan pernah saya anggap seperti itu lagi. Ya, saya baru sadar, saya rindu akan doa yang senantiasa Mama dan Ayah selipkan di akhir pesan. Saya juga rindu akan antusias Mama dan Ayah saat mendengar cerita saya, pencapaian saya, impian saya.

Dan, terima kasih Ya Rabb atas teguran ini. 

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: