Kesalingan

Kini, semua rangkaian kisah itu sudah menampakkan titik terangnya. Nuansa Pagi yang dahulu sempat terasa, menurutku, tak hanya menjadi memori masa lalu, namun justru muasal dari hadirnya memori masa kini. Karena, perenungan berbalut syukur kala itu senantiasa bergulir bahkan hingga detik ini.

Lagi-lagi, aku tak pernah menyangka akan dipertemukan denganmu. Dipertemukan dalam satu titik yang sangat spesial buatku. Karena, jika coba kupanggil semua memoriku akan dirimu, tak ada sedikitpun alur kisah yang membuatku menerka bahwa di ujung memori itu aku akan benar-benar dipertemukan denganmu. Malah, aku menangkap satu memori sendu. Memori tentang asa yang tak bertemu dengan logika.

Ya, aku pernah menyimpan rasa terhadapmu. Dulu dan kini. Walau sempat jarak memupus sementara rasa itu, namun, jika aku boleh sedikit jujur, rasa berkawan do’a yang terakhir kali kusimpan dalam hatiku adalah rasa terhadapmu. Sebuah rasa yang tak pernah berhenti berpanjat do’a agar aku bisa berada dalam satu skenario denganmu, kala itu. Namun, kejujuran hati ternyata tidak disambut baik oleh jumawa nya logika. Atas apa yang kutahu, apa yang kulihat, dan apa yang kudengar, kesimpulanku saat itu hanya satu, masuk dalam skenariomu itu bak mencari jarum di tumpukan jerami. Kemungkinannya ada, namun sangat kecil.

Aku bahkan sempat berpikir, bahwa menggapaimu adalah suatu hal yang tak mungkin. Ya, hingga derajat tak mungkin. Mengingat alur kisahku yang nampak tak senada dengan alur kisahmu. Asaku masih tetap berharap, namun logikaku masih saja menolak. Pergulatan keduanya terkadang membuatku lelah. Berisik. Tak pernah mau berdamai.

Di waktu yang lain, aku teringat akan satu hal. Bahwa logika yang kumiliki adalah logika manusia. Logika berbatas. Dibatasi oleh jarak, dan dikurung oleh waktu. Aku lupa bahwa aku makhluk, pun dengan dirimu. Aku benar-benar lupa, kita senantiasa dipandangi oleh Dzat yang memiliku juga memilikimu. Tersadar akan hal itu, kututup semua logika dan kupanjatkan semua harap. Aku memintamu padaNya, aku sebut terang-terangan namamu di hadapanNya.

Kamu tahu apa yang kurasa di hari itu? Di hari dimana aku menertawakan logikaku? Sejuta rasa tak terdefinisi tetiba muncul seketika. Membuncah tak terbendung. Saat aku tahu, bahwa ternyata frekuensi kita sama. Saat aku tahu, bahwa ternyata asaku bersalingan dengan asamu.

Namun, lagi-lagi aku tak mau berlebihan menanggapi hal ini. Cukup perjumpaan nanti yang menjawab semuanya. Di titik ini, biarlah kita tetap menjadi dua insan lugu yang sama-sama sedang menunggu.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: