Kepergian Ramadhan

Malam semakin larut. Kepekatan malam semakin menjadi. Beriringan dengan laju jarum jam yang terus berlaju. Rasa ini berucap, ada satu hal berbeda di malam ini dibanding dengan malam-malam biasanya. Sejenak berpikir. Apa ya yang menjadikan malam ini begitu terasa tak biasa?

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar.. Allahu Akbar wa Lillahilhamdu..

Ah ya! Aku pun tersadar.

Sore tadi adalah penghujung kisah Ramadhan tahun ini. Dalam basahnya suasana malam, seketika, semua memori selama 29 hari silam mencuat ke permukaan. Satu persatu potongan-potongan memori itu muncul. Menggambarkan betapa kelamnya Ramadhan kemarin. Sedih, memang. Kala ingatan dibawa pada beberapa Ramadhan sebelumnya, tubuh ini melesu dengan sendirinya. Tak dapat dipungkiri, bahwa beberapa Ramadhan sebelumnya memang lebih berasa.

Namun, tak dapat dipungkiri, bahwa kualitas mental dan persiapan Ramadhan kali ini tidak seistimewa beberapa Ramadhan sebelumnya. Ya aku pun tak boleh egois. Hasrat ingin mendapat kepuasan dalam rasa, jika tidak dimulai dengan persiapan paripurna, mana bisa?

Aku mencoba kembali pada ruang berpikir.

Mengutuk apa yang telah tersurat, sepertinya terlihat sangat tidak elegan. Karena pada hakikatnya, rekaman kisah tersurat tersebut hasil goresan tintaku jua. Lagipula, tak ada sedikitpun dari kisah itu yang dapat kuatur ulang kembali. Lalu, mengapa harus sibuk manangisi apa yang telah terlewat?

Menyerap sari inspirasi Ramadhan kemarin lalu mengubahnya menjadi pemantik semangat pasca Ramadhan ini, kurasa jauh lebih elegan. Kala sensor hikmah senantiasa dinyalakan, ribuan inspirasi akan selalu datang membanjiri, sebenarnya. Dan menangkap sinyal hikmah di setiap kejadian yang tak terduga, terkadang jauh memberikan makna dibanding hanya berkaca pada rutinitas biasa.

Kini, Ramadhan telah berlalu. Dan Syawal pun menghampiri.

Mulai esok, medan perang sesungguhnya dimulai. Karena seorang bijak pernah berkata bahwa makna sesungguhnya dari penggemblengan Ramadhan adalah bukan selama Ramadhan mendekat, namun saat Ramadhan menjauh. Saat saat penantian menuju Ramadhan berikutnya.

Aku kembali dibawa pada sebuah perenungan.

Sesaat kupejamkan mata. Rasa syukur pun mengalir ke permukaan. Dipicu oleh segala macam pembelajaran, kisah tak terduga, kehangatan kawan, dan satu hal yang jauh daripada itu semua, anugerah dan rizkiNya yang didapat selama Ramadhan kemarin. Alhamdulillah.

Ramadhan telah pergi. Sesal yang dirasa harus diganti dengan alur cerita yang jauh lebih istimewa.

Semoga Engkau mempertemukan kembali aku dengan Ramadhan di tahun depan, Rabb..

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: