Kemauan Mengambil Hikmah

Seiring bumi ini terus berputar, manusia pun turut bertambah usia. Pengalaman, lingkungan, kawan, silih berganti. Ada yang membuat hati riang, ada yang meninggalkan luka, ada yang tak terlupakan. Namun satu hal, semua yang telah terlewat itu, mengajarkan banyak hikmah dan pembelajaran.

Hidup bak roda yang berputar.

Tidak selamanya seseorang bermegah di atas. Tidak selamanya pula seseorang berlutut di bawah. Semua dipergilirkan. Agar ia sendiri dapat menilai kualitas dirinya dalam menyikapi setiap situasi yang dihadapkan padanya.

Kadang aku berpikir, mengapa di saat masih SD dulu, untuk sebuah nilai yang baik aku tidak merasa mengeluarkan effort yang besar. Kini, jika tidak sampai titik maksimal dalam berusaha, nilai baik hanya akan menjadi wacana. Saat SD hingga SMP dulu, semangat berkompetisi dan menjadi yang terbaik sangat besar, kini semangat itu dirasa hampir sirna.

Dalam pikiran yang lain, terbesit tentang paradigma kehidupan. Aku merasa, kini aku mendapatkan paradigma hidup yang kunilai lebih baik dibanding dahulu. Dahulu lebih ketergantungan, kini lebih bisa mandiri. Dahulu lebih liar, kini menurutku aku lebih tenang. Mengenai lebih baik atau tidaknya perubahan paradigma ini, tentunya relatif terhadap pandangan dan pemahamanku ya.

Ada menjadi tidak ada. Tidak ada menjadi ada.

Satu hal yang luar biasa dalam hidup ini adalah pergiliran peran tokoh. Seseorang yang di masa lampau berperan menjadi seorang inspirator dimana ia senantiasa dikelilingi orang-orang yang terpana dengan inspirasinya, bisa jadi di masa depan ia harus menanggalkan ‘popularitas’ nya untuk ‘mengemis’ inspirasi dari orang lain. Menurutku, orang ini beralih dari tokoh utama menjadi figuran.

Begitupun sebaliknya. Seseorang yang di masa lampau harus berkeringat dingin sebelum berbicara di depan orang banyak, bisa jadi di masa depan ia menjadi orator yang paling ditunggu orasinya oleh banyak orang. Sedangkan untuk kasus ini, menurutku orang ini beralih dari figuran menjadi tokoh utama.

Menyikapi perubahan peran tokoh dalam hidup ini, tetiba aku berkesimpulan, bahwa kuncinya itu satu : kemauan mengambil pelajaran hidup.

Tentu yang aku yakini, bahwa skenario yang diciptakanNya tidak akan pernah mengandung cacat. Setiap detik rancanganNya, telah melalui pertimbangan yang bahkan akal manusia tak mampu meraihnya. Artinya, semua sejarah masa lalu, kisah masa kini, dan pilihan masa depan semua berisikan hikmah yang Ia sediakan agar manusia senantiasa bertumbuh dan bertransformasi ke arah yang lebih baik.

Kepemilikan itu hanya berefek sementara. Makna dibalik mengapa kepemilikan itu diberikan lah yang berefek selamanya.

Mengapa manusia diberikan ingatan masa lampau adalah untuk mengevaluasi dan membuat resolusi atas apa-apa yang menuntut perbaikan di masa kini. Juga untuk mensyukuri segala nikmat dalam bentuk apapun yang Ia anugerahkan hingga detik ini.

Mengapa manusia diberikan kesempatan di masa kini adalah agar manusia memperjuangkan kehidupan terbaik yang ia miliki.

Mengapa manusia diberikan pilihan untuk masa depan adalah agar manusia memiliki sebuah acuan dalam bertindak. Selain itu, pilihan masa depan bisa menjadi titik awal pendewasaan. Karena di dalam pilihan terdapat resiko dan misteri yang apabila disikapi dengan cara yang baik, akan mendatangkan kebermanfaatan di masa depan.

Oleh karenanya, kemauan mengambil pelajaran hidup itu penting. Di balik pergantian peran tokoh, di balik ingatan-kesempatan-pilihan, serta di balik kepemilikan, ternyata terdapat pembelajaran yang dapat mendewasakan. Setidaknya, ini yang kupelajari hingga saat ini.

Pertanyaannya, “Sudah sejauh mana kemauan mengambil pelajaran hidup ini ditingkatkan?”

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: