Kehilangan

Bahwa semua yang tersemat dalam tubuh manusia, semua yang tersisip dalam hidup manusia, bukanlah sebenar-benar milik manusia, pada hakikatnya. Manusia, modifikasi dari seonggok tanah ini, tak ubah selayaknya makhluk lemah dan hina tanpa pertolongan sesamanya, apalagi Tuhannya. Manusia terlahir dengan pemberian, dikebumikan kembali juga dengan pemberian. Maka, sungguh tak tahu malu saat manusia sempat terpikir untuk mengatakan apa yang ada di genggamannya saat ini adalah miliknya.

Tak sedikit manusia yang menjerit histeris, menangis tersedu-sedu, melamun kosong, kala apa yang ia claim miliknya itu sudah tidak lagi berada di sisinya. Wajar. Sifat manusiawi terkadang meminta untuk dipenuhi hajatnya oleh manusia itu sendiri. Karena memang, adanya sifat itulah yang membuat manusia disebut manusia. Namun, jika dipikir ulang, apakah pantas manusia menjeriti, menangisi, melamuni apa yang tidak menjadi miliknya yang sebenarnya?

Ketika semua dikembalikan pada hakikat sesungguhnya, dimana manusia didefiniskan sesuai dengan definisi penciptanya, maka seharusnya tidak ada yang disebut kehilangan. Karena jika merujuk pada definisi tersebut, semua yang ada pada manusia hanyalah titipan. Tidak lebih dari itu.

Benda hidup, benda mati, semua hanya titipan. Pakaian, kerabat, semua hanya titipan. Saat semua itu tidak lagi berada dalam genggaman, tidak lagi hadir di sisi, sepertinya tidak tepat saat-saat itu terjadi, manusia menyebutnya sebagai sebuah kehilangan. Karena memang manusia tidak berhak untuk hal itu sebelumnya. Apa yang disebut kehilangan itu tak lebih dari kehendak Sang Pencipta dengan segala perhitungan sempurnaNya dan segala kemurahan hatiNya.

Maka, saat satu persatu ‘kehilangan’ itu terjadi, hanya keyakinan bahwa itu yang terbaik lah yang mesti hadir dalam hati. Bahwa Ia tak mungkin mendzalimi manusia, bahwa Ia tak mungkin salah dalam memperhitungkan sesuatu, adalah hal mendasar yang harus diyakini. Dan memang kenyataanya seperti itu. Sehingga kehilangan adalah bentuk lain dari cinta Sang Pencipta untuk hambaNya, manusia.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: