Jatah Travelling

“The world is a book, and those who do not travel read only one page.”

Augustine

Salah satu dari sekian kesamaan antara saya dan istri adalah kami suka jalan-jalan. Kami senang melihat suasana baru, menikmati pesona keindahan alam, mencari hal-hal unik di tempat-tempat yang kami kunjungi, juga mencoba hal yang belum pernah kami coba.

Yap, we like travelling very much!

Saking senangnya kami sama jalan-jalan, kami selalu sengaja mengalokasikan sebagian income kami untuk jatah travelling. Kami juga memiliki satu akun tabungan sendiri yang kami khususkan untuk tabungan travelling. Saat sekiranya saldo tabungan cukup untuk melakukan satu perjalanan, dalam waktu yang tak lama, kami ‘menghabiskannya’ untuk jalan-jalan. Bahkan, sekalipun kami sedang berada dalam keadaan sekarat, jika ternyata saat itu kami bertemu dengan kesempatan tak tergantikan untuk travelling, kami tak segan mengambil dari alokasi budget lain.

Prinsip kami saat sekarat, tapi nemu momen yang tepat:

Kalo ga sekarang, kapan lagi dapet kesempatan buat travelling? Selama budget lain tidak melewati ambang kehancuran, hajar bleh aja! :))

*walau tak jarang sebelumnya mengalami pergolakan batin dulu.

Bukan berarti kami senang menghambur-hamburkan uang. Dalam pandangan kami, selain memang karena ada perintah “…bertebaran lah kalian di muka bumi…”, kami berpandangan bahwa teramat disayangkan jika dunia ini hanya dijadikan pajangan di atlas saja. Atau cerita orang-orang di blog hanya dijadikan tulisan selewat saja. Satu prinsip lain kami:

Terkadang, pengalaman ga bisa selalu ditunggu kedatangannya. Pengalaman sesekali harus dibeli. Dengan uang, atau dengan waktu.

Bahwa setiap jengkal bumi Allah ini sangat worth untuk dinikmati keindahannya, dipelajari apa-apa yang terdapat di dalamnya, dan disaksikan oleh mata kepala sendiri. Selain itu, kita hidup hanya sekali, sedangkan kesempatan tidak sering datang dua kali.

So, kami bangun mimpi setinggi-tingginya, rancang perjalanan sebaik-baiknya, dan menabung sebanyak-banyaknya. Demi sebuah pengalaman dan memori baru. Sesekali, buat saya, travelling juga saya jadikan sebuah hadiah atas keikhlasan istri menghadapi semua kekampringan saya selama ini. 😀

Mungkin di masa tua nanti, kisah demi kisah perjalanan itu akan menjadi bahan obrolan sendiri bersama istri atau anak-anak kami. Bahwa kami pernah berkunjung kesana, dan berjelajah kesini. 🙂

0 comments: On Jatah Travelling

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: