Investasi Diri

Tidak sedikit orang yang menginginkan kehidupan yang layak, kebahagiaan hidup, dan segala hal yang dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya, dalam bentuk apapun itu. Saya pun termasuk salah satunya. Keinginan-keinginan tersebut melahirkan banyak tindakan yang diharapkan dapat memicu lahirnya kebahagiaan, manfaat, dan lain-lainnya tadi. Namun, terkadang saya tersadar, ada poin-poin yang seringkali lupa untuk diingat. Pertama, teori kausalitas. Kedua, hukum kekekalan muatan. Ketiga, prinsip syukur nikmat. Ketiga poin tersebut terangkum dalam satu hal yang saya sebut investasi diri.

Sudah menjadi pengetahuan umum tentang teori kausalitas. Bahwa sebuah akibat tidak mungkin terjadi tanpa ada sebab. Seperti kata peribahasa, ada asap ada api. Semua tak mungkin terjadi dengan sendirinya. Yang saya pahami, sudah menjadi sunnatullah bahwa kemenangan diawali oleh perjuangan, kebahagiaan diawali oleh pengorbanan, dan kesuksesan diawali oleh percobaan berulang. Oleh karenanya, memang sejatinya tidak ada sesuatu yang instan. Ada proses yang harus dilewati dibalik semuanya.

Seringkali kita, saya khususnya, terjebak dalam pola pikir instan. Mencari tahu bagaimana cara agar saya bisa mendapatkan pencapaian tertentu yang didapat seseorang dan berharap mendapatkan pencapaian serupa dalam waktu singkat. Yang pertama kali terbesit bukannya sebuah percabangan proses apa saja yang harus dilewati, melainkan kekerenan jika pencapaian itu telah didapat. Sebenarnya memang tidak salah, namun seolah-olah saya menafikan dan tidak menghormati sunnatullah yang tak pernah bisa diubah apalagi dihapus keberadaanya : proses.

Seperti halnya kupu-kupu yang hendak mengeluarkan diri dari kepompongnya. Ia sejatinya harus berjuang sendiri untuk keluar dari kepompong tempat dimana ia bermetamorfosa, karena perjuangan mengeluarkan diri dari kepompong tersebut membuat sayapnya besar dan kuat sehingga setelah ia keluar, ia mampu terbang dengan indah. Memang seperti itu sunnatullah nya. Saat kita membantu ia keluar dengan merobek kepompongnya misal, justru itu akan membuat kupu-kupu itu tidak dapat terbang sempurna atau bahkan bisa tak dapat terbang sama sekali. Artinya, saat ada sunnatullah yang diusik, maka hasil yang diharapkan tidak akan terjadi. Pun dengan sebuah pencapaian hidup. Saat ada proses yang dilewati karena adanya pola pikir instan tadi, maka tidak akan ada hasil yang diharapkan. Jikapun proses itu dapat disingkat, maka hasil yang didapatkan tidak akan sempurna, seperti halnya kupu-kupu tadi.

Sehingga aspek pertama dari investasi diri menurut saya adalah kemampuan memahami teori kausalitas dan kemauan melewati ‘sebab’ untuk mendapatkan ‘akibat’ yang maksimal. Semakin struggle kita dalam berproses, semakin high level hasil atau pencapaian yang didapat.

Hal kedua yang terkadang saya lupakan adalah hukum kekekalan muatan, atau dalam bahasa fisika Hukum Kirchoff. Bahwa, besar arus yang masuk ke dalam suatu sirkuit, akan sama dengan besar arus yang keluar. Bahwa besar asupan intelektual, spiritual, akan memengaruhi hasil atau pencapaian yang didapat. Dan semakin kita menjaga, menambah, serta memelihara asupan yang masuk, maka besar output yang dihasilkan pun akan semakin besar. Dengan logika berbalik, pencapaian, kebahagiaan, dan kebermanfaatan yang volumenya besar tidak akan pernah bisa didapat jika kita tak diimbangi oleh pengembangan kapasitas diri yang ekstra pula.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang petani yang mendapati angsanya menghasilkan telur emas. Awalnya ia tak percaya, namun setelah ia coba periksa telur itu, ternyata memang itu emas murni. Beruntungnya petani itu adalah ia mendapati angsa tersebut menelurkan satu telur emas setiap hari. Seiring berjalannya waktu, ia pun bertambah kaya. Hingga akhirnya ia sampai pada suatu titik dimana ia berpikir jika ia membuka perut angsa tersebut mungkin ia akan mendapatkan telur emas lebih banyak lagi. Namun nyatanya, setelah ia membelah perut angsa tersebut, ia hanya mendapatkan kekosongan.

Terlalu terobsesi terhadap hasil tanpa memperhatikan kapasitas diri hanya akan membawa pada kekecewaan. Andaikata peternak tadi melakukan perawatan terbaik terhadap angsanya, mungkin saja telur emas yang dihasilkan akan bertambah. Namun karena fokusnya pada hasil bukan pada kapasitas sumber penghasil, maka akhir seperti tadi yang didapat.

Sehingga aspek kedua dari investasi diri menurut saya adalah kepahaman bahwa kapasitas diri yang besar akan membuka peluang kita untuk mendapatkan pencapaian yang besar pula. Bukan hanya besar, bisa jadi bertambah banyak. Memperhatikan dengan baik asupan intelektual dan spiritual pada diri akan membuat spektrum pencapaian akan lebih banyak dan tren grafiknya akan terus naik.

Hal yang tak kalah penting dari ketiga poin tersebut di atas menurut saya adalah prinsip syukur nikmat. Semakin banyak bersyukur atas apa yang dimiliki dan didapat, maka nikmat-nikmat lain akan semakin bertambah. Sebuah janji dari Sang Maha yang takkan pernah diingkari. Saya berpikir dan merasa bahwa kemampuan bersyukur merupakan kemampuan yang tidak mudah untuk dikuasai. Padahal prinsip syukur ini jika dicoba untuk dipahami dengan baik, sangat berpengaruh pada apa yang kita sebut tadi dengan pencapaian, kebahagiaan, kebermanfaatan.

Sehingga aspek ketiga dari investasi diri menurut saya adalah kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang telah didapat. Menguasai kemampuan ini berarti memiliki sumber energi yang tak berbatas, karena energi ini berasal dari Dzat yang memahami betul keinginan dan harapan yang kita miliki.

Oleh karena itu, kehidupan yang layak, kebahagiaan hidup, kebermanfaatan yang banyak, tidak akan tercapai sempurna, berkelanjutan, dan masif jika kita tak berfokus pada investasi diri, sumber penghasil dari seluruh keinginan tadi. Dan investasi diri takkan berjalan baik jika kita tak memahami makna proses berjuang, meningkatkan kapasitas diri, dan menguasai kemampuan bersyukur.

Wallahu’alam

0 comments: On Investasi Diri

  • Berpikir seferhana akan membuat kita lebih ringan dalam menghadapi apa pun. Ikhlas dlm menerima ketentuann-Nya. Bersyuku atas apa yg kita millliki, beruusaha bermanfaaat utk sekitarnya

    Kita hanya brusaha. Ingin jadi apa pun toh tujuuannya hanya utk. cari bekall ke akhirat nanti. Kita cuma mampir di dunia ini.
    Semogga apa pun yg ingin dicapai oleh Zaky akan menjadi bekal utk akhiratnya kelak.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: