Ied Pertama

Tahun ini, Ied pertama kami di perantauan.

Menarik? Yap. Cukup banyak hal ‘tak biasa’ yang kami temui. Berbeda dengan aktivitas-aktivitas Idul Fitri yang sudah membiasa di Indonesia. Berkumpul dengan keluarga besar, ngopor-ngupat, keliling komplek buat silaturahim, bagi-bagi angpaw, dan sajabana biasanya rutin mewarnai suasana Idul Fitri di tanah air. Tak menemui hal-hal seperti itu di sini, rasa-rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.

Idul Fitri di sini sungguh teu rame. Tak ada speaker yang bersuarakan takbiran dari musholla-masjid, walau di sini tak ada larangan mengeraskan speaker masjid. Tak ada kumpul bersama keluarga dan handai tolan. Tak ada silaturahim keliling juga. Abis shalat Ied aja langsung pada ngampus dan ngelab deui. Dan yang paling sedih adalah tak ada opor. Maka, berbahagialah wahai kalian yang masih bisa ngopor. 🙁

Tapi kami mempelajari banyak hal baru. Mempelajari keberagaman dan rasanya hidup sebagai minoritas. Berkenalan, bersalaman, dan ber-wefie ria dengan kawan-kawan baru dari belahan bumi lain. Mempelajari perbedaan fiqh dan madzhab. Mempelajari bagaimana rasanya nasi biryani, manisan Pakistan, cemilan India, dan bala-bala Sariwangi. Cuman, satu weh yang tak terlaksana, opor ama kupat. 🙁 *keukeuh

Alhamdulillah. Masih diberi kesempatan merasakan keberagaman ketang. Merasakan ‘ketidakbiasaan’ seperti ini, merupakan pengalaman berharga yang tak tergantikan. 🙂

Tahun ini juga Ied pertama kami sebagai pasangan. Bahkan langsung sebagai orang tua. Alhamdulillah.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana melewati malam takbiran seorang diri. Hanya bertemankan detik jam dan sebuah handphone. Menebar pesan singkat berisikan ‘minal aidzin walfaidzin‘ yang diakhiri dengan ‘….dan keluarga*‘. Bari jeung ‘keluarga’na make tanda bintang tea. Berharap pesan berbalas pesan. Apalagi balasan dari si dia. Diantara semua pesan yang terkirim, hanya pesan balasan dari si dia yang rela ditunggui hingga shalat Ied tiba.

Tahun ini rada nyess malam Idul Fitrinya. Ada senyuman istri dan buah hati tercinta. Walau tak merasakan suasana lebaran seperti biasa, setidaknya suasana hati masih berbunga-bunga 😀

Melewati Ramadhan dan Idul Fitri sebagai pasangan tentu banyak suka duka. Tapi di balik suka duka yang dirasakan ada banyak pembelajaran yang didapat. Bukankah hikmah yang terserak adalah harta karun yang hilang? 😀

Hikmah demi hikmah kami coba serap setiap hari. Setiap menemukan ujian hidup, setiap kami berselisih pandangan. Terkadang berhasil mengalahkan ego, terkadang perasaan masih overtake logika. Intinya hidup menjadi lebih dinamis dari sebelumnya.

Tapi dibalik semua itu, kami merasa, bahwa kami semakin mendewasa.

Apalagi setelah ada Daehan di sisi kami. Ruang pembelajaran jadi meluas. Seperti kerupuk udang kering yang dimasukkan ke minyak panas. Mengurus bayi tak seperti yang ada dalam bayangan kami ternyata. Asli, cing demi. Harus berjuang melawan pola hidup sebelumnya, harus men-develop kebiasaan dan habit sebelumnya, harus ga gampang tidur kayak sebelumnya, harus lebih peka dari sebelumnya, dan harus lebih mau belajar dari sebelumnya.

Tapi dengan adanya Daehan, kami mempelajari satu hal: cinta yang tak mengenal syarat.

Tentang kasih sayang. Kami jadi faham makna kasih sayang orang tua terhadap anak. Tentang pengorbanan. Kami jadi mengerti perjuangan orang tua kami dulu dalam membersarkan kami. Tentang cinta. Kami jadi menyadari, bahwa ada berbagai macam bentuk cinta, salah satunya adalah cinta orang tua pada anaknya.

Ied tahun ini memang tidak semenarik tahun-tahun sebelumnya. Tapi Ied tahun ini cukup berkesan. Alhamdulillah. 🙂

0 comments: On Ied Pertama

Leave a Reply to Zaky Amirullah Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: