Hingga Akhirnya Ia Tiba (4)

Suster langsung melakukan beberapa pengecekan. Ia juga melakukan pemijatan serviks untuk memastikan apakah bukaan istri sudah cukup jadi jalan keluar bayi kami. Di tengah-tengah pemeriksaan serviks itu, saya penasaran. Saya mencoba mendekati suster untuk melihat apa yang sedang ia lakukan. Belum dua langkah saya mendekat, suster memberikan isyarat untuk menjauh, untuk tidak melihatnya. Hei, kenapa ga boleh liat? Istri gue juga.. Pikir saya dalam hati.

Em. 남편 (suami), 여기 (kemari). Do this. Please..

Dengan KorEng (Korean English) yang ia gunakan, suster itu memanggil saya dan mencoba menjelaskan sesuatu pada saya. Tidak semua dari apa yang ia sampaikan saya mengerti. Tapi saya menangkap apa yang dimaksudkan suster.

Suster meminta saya untuk memijat perut istri. Menekan bagian atas perut istri setiap kali ia memberi aba-aba. Saya lihat suster mencoba melakukan tindakan awal pra persalinan, sepertinya. Entah, apakah itu memang termasuk prosedur pra persalinan di rumah sakit ini atau bukan. Atau yang suster lakukan memang persalinan itu sendiri, untuk mengeluarkan bayi kami. Tapi kan ini siang hari? Kenapa ga dokter aja yang membantu persalinan?

Sembari memeragakan proses mengejan, suster itu mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea. Yang saya tangkap adalah istri saya harus mengejan selama sepuluh detik setelah suster memberi aba-aba.

Okay!

Suster mulai memberi aba-aba. Istri pun mulai mengejan. Mengeluarkan segenap tenaga untuk menekan bayi kami keluar. Saya diminta suster untuk menghitung dari satu hingga sepuluh. Di tengah saya melakukan hitungan, suster memberikan instruksi dan semangat pada istri saya dengan KorEngnya.

Saya lihat wajahnya. Saya lihat raut mukanya. Saya lihat bagaimana istri saya merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Tangannya menggenggam tangan saya dengan erat. Saya tahu, dari tenaga yang istri gunakan untuk menggenggam tangan saya, bahwa istri saya sedang melawan rasa sakit yang hebat. Sungguh, jika rasa sakit itu bisa dibagi dua, saya ingin menampungnya, menjadi tempat berbagi rasa sakit yang istri rasakan.

No. No. No finish. Do again..

Istri saya melepaskan nafasnya di hitungan keenam. Suster kembali mengingatkan, bahwa istri saya harus melepaskan nafas setelah hitungan sepuluh. Suster kembali memberikan aba-aba. Namun, lagi-lagi istri melepaskan nafas sebelum hitungan sepuluh selesai. Belum selesai istri menenangkan diri, suster kembali meminta istri mengejan.

Dalam hati, saya agak sedikit kesal. Apa suster tidak melihat istri saya yang begitu payah? Tidakkah mau sedikit bersabar sebentar? Hey, istri saya sedang berusaha, dia tidak diam berpangku tangan kok.

Saya tengok istri saya. Pipinya dibasahi air mata. Ya, saya tahu, mengejan itu pasti sangat sakit. Sakit sekali. Hingga membuat air matanya berderai begitu banyak. Tak kuasa saya melihat istri yang mengejan sambil menangis. Saya hanya mampu berdoa, memberinya semangat, menguatkannya. Sembari sesekali mengelap mata yang berkaca-kaca.

Setelah empat atau lima kali suster meminta istri mengejan, suster lalu meminta saya melakukan apa yang tadi ia lakukan. Ia berpesan, untuk memijat perut istri, lalu menghitung hingga hitungan sepuluh setiap kali istri merasa ingin mengejan. Tak lama kemudian, suster keluar ruangan.

Kuat sayang.. Kuat. Sabar.. Tarik nafas.. Ini sebentar lagi dedenya keluar..

Bingung. Gagap. Saya mencoba melakukan apa yang suster beri tahukan. Tapi saya takut. Takut jika apa yang saya lakukan salah. Hanya usaha untuk menguatkan istri yang saya lakukan pada akhirnya. Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan..

*****

Di tengah situasi yang menegangkan itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dokter dan beberapa suster yang berjalan di belakangnya masuk. Alhamdulillah. Dokternya udah datang..

Dokter lalu berhenti sejenak untuk memberikan arahan pada para suster. Terlihat suster yang berjalan paling belakang membawa box kecil yang diletakkan di atas rangkaian besi beroda empat. Itu pasti akan digunakan untuk meletakkan bayi saya nanti, pikir saya dalam hati.

Dokter bergegas menghampiri istri saya. Beliau memeriksa jalur keluar bayi, sebelum akhirnya beliau meminta istri saya untuk kembali mengejan.

Selang beberapa saat, seorang suster meminta saya dan ibu keluar. Ibu diminta menunggu di ruang tunggu. Sedangkan saya dibawa ke satu ruangan di samping ruangan tempat istri berada. Suster lalu memakaikan masker dan baju bedah pada saya. Saya pun diberikan sebuah sarung tangan bedah untuk kemudian saya pakai. Buat apa semua ini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul satu persatu. Tadi suster menjelaskan sesuatu, namun sepertinya tadi saya tak fokus menanggapinya. Bagaimana mau fokus sedangkan di sebelah saya ada istri yang sedang meraung kesakitan?

잠시만 (tunggu). Wait here, please..

Suster kembali masuk ruangan. Saya duduk di kursi yang terletak tepat di sebelah pintu ruangan persalinan. Tangan kanan saya yang bersarung tangan harus ditengadahkan ke atas. Seperti yang pernah saya lihat di film-film tentang bedah. Suster mewanti-wanti untuk tidak memegang apapun dengan tangan kanan ini. Ini buat apa? Please, saya mau masuk ke dalam..

Tak lama kemudian, suster memanggil saya untuk masuk ke dalam ruangan. Pemandangan sama yang saya lihat seperti sebelumnya. Tidak berubah. Saya lalu bergegas menuju samping istri. Masih sama, istri sedang bersusah payah membuka jalan untuk bayi kami tercinta.

Ay, itu udah keliatan kepalanya. Ayo ay dikit lagi. 

Saya melihat kepala bayi kami sudah tampak. Istri kembali mengejan. Ia mengejan sekuat tenaga. Saya tak kuasa memalingkan muka darinya. Melihat raut mukanya, teriakannya, rasa sakit yang diekspresikannya, saya menyadari, bahwa perjuangan hidup dan mati saat seorang ibu melahirkan itu benar. Dan kini, istri saya sedang berada diantara hidup dan mati. Sedang berjuang sekuat tenaga, bercucuran keringat, berbasah air mata, untuk melahirkan putra kami.

Eeeaa… Eeeaaaa…

Allahu akbar! Mendengar suara itu, air mata saya langsung jatuh dengan sendirinya. Dalam pandangan yang sedikit blur karena mata yang berkaca-kaca, saya melihat seorang bayi dengan darah yang bersimbah di sekujur tubuhnya sedang berada dalam pangkuan dokter. Tangisannya begitu kuat. Seolah ia ingin mengabari dunia dan seisinya, bahwa sekarang ia telah lahir. Telah menjadi bagian dari kehidupan dunia.

Sesaat setelah melihat bayi kami, saya langsung menghadapkan wajah saya pada wajah istri. Saya lihat wajah istri dihiasi kelegaan. Senyumnya kini mengembang. Tidak seperti sepanjang menit sebelumnya dimana ia mengerang kesakitan.

Ay, itu anak kita ay. Masyaa Allah..

Dokter memanggil saya. Suster di sebelahnya menyerahkan sebuah gunting. Dokter lalu meminta saya memotong plasenta yang terhubung dengan pusar bayi kami. Ah, ini toh maksudnya. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya, mungkin di sini plasenta bayi harus dipotong oleh ayahnya untuk suatu alasan tertentu.

Senyuman istri dan tangisan bayi kami adalah pemandangan yang tak pernah terlupakan. Siang itu, adalah saat dimana saya merasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa. Suatu perasaan yang membuncah yang entah saya pun tak mampu mendefinisikannya. Mungkin perasaan ini yang seringkali orang-orang sebut dengan ‘father feeling’.

Saya kembali menolehkan mata saya pada bayi merah kami. Ia tampak sedang dibersihkan para suster. Di tengah pandangan saya pada bayi merah kami, dokter tiba-tiba memecah keterkaguman saya.

Your baby is crying loudly. Seems he is healthy. Anyway, congratulation for your baby..

Thank you, doctor. Thank you for your help..

Dokter menjabat tangan saya dan melayangkan senyum sembari berjalan ke luar ruangan. Saya kembali ke samping istri saya. Wajahnya tampak lelah. Namun sesimpul senyum terlihat menghiasi wajah lelahnya. Mata kami saling bertatapan. Kami pun bertukar senyum. Saya pikir ada banyak hal yang ingin kami bagikan, ingin kami ceritakan satu sama lain. Tapi hal yang paling membuat kami tak sabar adalah melihat bayi kami dari dekat.

Here is your baby..

Seorang suster menghampiri kami. Di pangkuannya ada bayi kami yang telah selesai dibersihkan. Suster lalu meletakkan bayi kami di samping istri. Kami terdiam sejenak. Serasa masih belum percaya, bahwa di hadapan kami ada seorang bayi mungil yang kami tunggu kehadirannya selama ini. Tak ada kata yang terucap saat itu, selain kami yang hanya saling bertukar senyum.

Suster memberikan isyarat untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Bayi kami didekatkan pada istri untuk kemudian disusui. Sayangnya, sepertinya memang air susunya belum keluar. Setelah sekitar lima menit bayi kami dalam dekapan istri, suster kembali mengambilnya untuk dibawa ke ruang bayi.

Can I see my baby again today? 

오늘은안돼 (hari ini tidak bisa). Tomorrow you can..

Sekilas wajah istri tampak sedih mendengar ia tak bisa lagi meliat bayinya. Bayi yang beberapa saat lalu ia berikan usaha terbaiknya untuk mengeluarkannya. Sudah menjadi prosedur di sini untuk mempertemukan kembali bayi dan ibunya satu hari pasca melahirkan. Tujuannya baik, agar sang ibu dapat melakukan pemulihannya terlebih dahulu sebelum nanti harus ‘sedikit repot’ dengan tangisan bayi dan sebagainya.

Setelah mengucap salam, suster pun pergi keluar ruangan. Kami hanya melihat bayi kami yang dibawa pergi. Sedikit menyayangkan, mengapa kami tidak diberi kesempatan melakukan IMD dalam waktu yang lebih lama. Sejauh yang kami tahu, IMD adalah proses pertama kontak lahir dan batin antara ibu dan bayinya. IMD juga membantu merangsang motorik bayi dan keluarnya air susu ibu. Di negara lain bahkan rumah sakit membiarkan proses IMD ini berlangsung hingga hampir setengah hari.

Saya dan istri kembali saling menatap pandang. Tak ada hal yang ingin saya lakukan saat itu selain memeluknya. Entah bagaimana saya harus menunjukkan gratitude saya pada istri yang terbaring lemah di sebelah saya ini. Atas semua keringatnya, atas luapan tangisannya, atas perjuangannya melawan rasa sakit, atas segala usahanya untuk mengeluarkan bayi kami.

Saya pun digiring keluar ruangan. Saya bergegas mengabari ibu bahwa bayi kami telah lahir. Selang beberapa saat, suster meminta saya dan ibu masuk ruang persalinan untuk melihat bayi kami yang diletakkan di atas crib.

Allahu akbar.. Allahu akbar..

Saya adzani ia. Saya qamati ia. Saya berdoa di dalam hati, semoga kelak ia menjadi sesosok pemuda tangguh di masa depan. Pemuda yang tinggi oleh iman, luas oleh ilmu, mulia oleh akhlak. Pemuda yang selalu menebar kebermanfaatan bagi sekelilingnya. Pemuda yang tak pernah lelah mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi.

Selamat datang, Daehan..

*****

(selesai)

0 comments: On Hingga Akhirnya Ia Tiba (4)

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: