Hingga Akhirnya Ia Tiba (3)

Sreg…

Tetiba pintu ruang persalinan bergeser dengan sendirinya. Seorang suster lalu muncul dibalik pintu. Memandang saya, lalu memberikan isyarat untuk masuk ke ruang persalinan. Akhirnya… Ucap saya dalam hati.

Saya dan ibu kemudian bergegas menuju pintu ruang persalinan. Saat itu, Riezka dan Rio sudah pulang. Katanya, ada sesuatu hal yang harus mereka kerjakan sehingga mereka harus pulang duluan. Lagian, saya juga jadi merasa tak enak jika mereka harus menunggu hingga semua beres, yang entah kapan juga semuanya beres.

Kami mengganti alas kaki kami dengan sandal rumah sakit sesaat setelah masuk pintu ruang persalinan. Kami kemudian diarahkan pada satu ruangan yang di dalamnya terlihat istri terbaring lemas dengan dua buah tabung infus diinjeksikan padanya. Seorang suster masih di dalam, memeriksa kondisi tabung infus. Sepertinya sedang memastikan semua hal yang berhubungan dengan kondisi istri saya baik-baik saja.

Baru pembukaan satu cenah yah..

Ternyata baru pembukaan satu. Saya kira sudah pembukaan tiga atau empat. Melihat raut muka istri, sudah terlihat kesakitan soalnya. Ibu bilang, biasanya jarak dari pembukaan satu sampai lima itu lumayan lama. Bahkan ada yang sampai seharian. Dari pembukaan lima sampai sepuluh, baru relatif lebih cepat.

Serius bu selama itu? Pipit mau ngelahirin sekarang aja. Sakit banget ini..

Ya. Saya tahu, walau tidak merasakan langsung, rasa sakit akibat kontraksi yang dirasakan istri begitu hebat. Apalagi ini pengalaman pertamanya. Pasti ada semacam keinginan untuk segera menuntaskan rasa sakitnya. Belum lagi ia dihantui satu kalimat yang ia ketahui sebelumnya, bahwa seiring bertambahnya bukaan, rasa sakitnya pun ikut bertambah.

Melihat istri kesakitan seperti itu, sungguh saya tak tega. Apalagi saat melihat ia menangis menahan rasa sakit. Namun, tak ada juga yang dapat saya lakukan selain menenangkannya. Walau hal itu sama sekali tak mengurangi rasa sakitnya, sepertinya. Saya coba pegang tangannya, lalu saya usap-usap. Saya duduk di sampingnya, sembari mencoba menenangkannya berulang-ulang. Berharap tindakan moril ini mampu mengurangi rasa sakitnya walau tidak banyak.

Ay, kuat ay.. Kamu in syaa Allah kuat.. Sabar ay, sebentar lagi dedenya keluar..

Ibu terlihat membaca doa. Ibu bilang, setegar dan sebiasa apapun ibu melihat proses melahirkan orang lain, tetap tak bisa tenang dan bahkan sedih saat melihat anaknya sendiri mengerang kesakitan. Sesekali saya melihat air mata ibu menetes.

*****

Jam sudah menunjukkan pukul empat. Sudah masuk waktu shubuh. Di hadapan saya, terlihat istri sedang tertidur lelap. Setelah semalaman mengerang kesakitan, akhirnya saya putuskan untuk memasangkan anestesi pada istri. Sebelumnya saya ragu, karena pemasangan anestesi memberikan efek samping. Semalam suster juga tidak memaksa sebenarnya, hanya memberi saran jika memakai anestesi, rasa sakitnya akan berkurang. Susternya mengatakan bahwa rasa sakit yang semalam sempat membuat istri saya menangis itu baru 10% dari rasa sakit sebenarnya. Dan benar, setelah diberi anestesi, rasa sakitnya sedikit berkurang dan istri bisa tertidur pada akhirnya. Istri bisa mengumpulkan tenaga, untuk pertarungan terakhirnya saat mengeluarkan dede nanti.

Ibu juga sedang merebahkan badannya di sofa hitam di sebelah tempat tidur istri. Saya beranjak menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari tempat saya duduk semalaman. Semalaman tidak memejamkan mata, membuat rasa kantuk semakin menjadi saat-saat menjelang pagi seperti ini. Saya ambil air wudhu. Saya nyalakan handphone, mencari ke mana arah kiblat menuju. Dengan jaket yang saya jadikan alas shalat, saya kemudian shalat shubuh.

Selang beberapa saat setelah shalat, suster kembali masuk ke ruangan. Kali ini ia datang dengan beberapa mahasiswa internship dan satu buah alat medis yang diletakkan di atas meja beroda. Alat yang dibawa suster adalah semacam alat untuk menghitung frekuensi kontraksi. Saya kurang begitu paham. Tapi intinya, dari alat itu, kita bisa mengetahui grafik muncul tenggelamnya kontraksi. Dan dari sana, kita bisa tahu, kapan kontraksi aktif mulai terasa intens dan kapan persiapan persalinan mulai bisa dilakukan.

Suster lalu berjalan mendekati istri. Ia melakukan suatu tindakan prosedural tertentu untuk mengecek sudah masuk bukaan keberapa saat ini. Dengan menggunakan bahasa Korea yang saya tak begitu mengerti, suster memberitahukan sesuatu. Dari bahasa tubuhnya, saya menangkap bahwa bukaan istri sudah sekitar 45%. Prediksi lahirannya, mungkin sekitar pukul 9 atau 10 pagi. Fiuh, masih lama..

Auch, astaghfirullah.. sakit lagi..

Sekarang intensitas sakitnya sudah mulai sering. Dan periode sakitnya sudah mulai bertambah. Istri bergumam, sepertinya, anestesinya tidak berfungsi lagi saat ini. Atau sebenarnya ia berfungsi, namun tak mampu menyerang rasa sakit yang sudah kian bertambah. Istri merasakan rasa sakit seperti saat sebelum diberi anestesi, bahkan sedikit lebih sakit. Katanya.

Sabar ay, bentar lagi in syaa Allah. Sok diatur dulu nafasnya..

Lagi. Aku tak tahan melihat wajahnya mengerang kesakitan. Dalam hati, saya hanya bisa berharap, bahwa pembukaan terakhir segera tiba. Ya Allah, beri istri hamba kekuatan..

*****

Sekitar pukul 9 pagi, dokter Kang In-Gu masuk ke ruangan di mana kami berada. Dengan pakaian bedah dan jas dokter yang beliau kenakan, seolah beliau mengisyaratkan bahwa beliau telah siap untuk membantu proses persalinan.

May I check your wife?

Of course, doctor.

Saya faham, yang dimaksud oleh dokter adalah mengecek bukaan istri. Mungkin maksudnya beliau meminta izin untuk melakukan pengecekan dengan tangannya sendiri. Biasanya selama ini suster perempuan yang mengecek bukaan soalnya. Sepertinya dokter ingin ensure sendiri apakah persalinan sudah bisa dilakukan segera atau belum. Karena situasi darurat, saya iyakan saja.

It hasn’t full yet. But it near full. Maybe you have to be more patient. I think before afternoon your wife will deliver your baby.

Before afternoon? Waduh. Berarti harus menunggu lebih lama lagi. Sekilas saya melihat raut pasrah di wajah istri setelah ia mendengar harus bersabar sedikit lebih lama lagi.

Yah, susternya PHP. Hiks..

Sabar ay.. Kamu kuat in syaa Allah..

Saya tahu, istri sudah tak tahan dengan rasa sakitnya dan ingin segera menyelesaikan persalinan ini. Istri merasakan bahwa sepertinya kepala dede sudah masuk panggul, siap untuk dikeluarkan. Keinginan istri untuk menekan kepala dede untuk keluar juga sudah ia rasakan semakin besar. Namun sayangnya, dokter belum mengizinkan untuk melakukan persalinan karena jalan keluar dedenya belum terbuka sepenuhnya.

Lagi-lagi, tak ada yang bisa saya lakukan selain mengulang kata-kata yang sama. Allah.. Kapan ini semua akan berakhir?

Sedari pukul 10, suster keluar masuk ruangan kami secara berkala untuk membantu istri memepersiapkan persalinan. Ia memberikan arahan singkat tentang apa yang harus dilakukan istri saat mengeluarkan dede dari rahimnya. Ia juga membantu memijat perut dan serviks istri serta membantu istri latihan mengatur nafas agar persalinannya nanti berjalan lancar.

Ay, ay, ini aku udah ga kuat. Tolong panggilin susternya donk

Tapi kan masih jam segini. Kata dokter tadi kan before afternoon.

Gapapa, panggil aja sekarang. Tolong ay. Ini udah ga kuat..

Bergegas saya keluar ruangan untuk menemui suster yang tadi bertugas. Di luar ruangan terlihat suster tadi dan beberapa suster lainnya sedang sibuk mengurusi beberapa pasien. Di depan ruangan kami ada seorang ibu yang terbaring dengan tabung infus yang menemaninya. Sepertinya ia akan dioperasi sesar. Orang-orang sini, sejauh yang saya tahu, memang lebih prefer melakukan operasi sesar agar proses persalinannya lebih cepat dan tak harus melalui perjalanan sakit seperti yang dialami istri saya.

Excuse me, could you come with me to check my wife, please..

Akhirnya saya menemukan suster tadi telah selesai bertugas memeriksa pasien lain. Sepertinya, melihat saya yang terlihat sedang terburu-buru dan khawatir, ia pun sedikit panik. Ia dengan segera berjalan mengikuti saya menuju ruangan dimana istri saya sedang menunggunya.

*****

(bersambung)

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: