Hingga Akhirnya Ia Tiba (2)

Kami pun masuk pada satu ruangan yang menurut saya cukup cozy. Ruangan berukuran 4mx4m dengan nuansa sedikit redup itu dilengkapi dengan satu sofa empuk di depan pintu masuk, menghadap meja dokter, dan satu rak berisi buku-buku kedokteran berdiri kokoh di belakang kursi tempat dokter duduk. Terlihat buku-buku berbahasa Inggris dan Korea berpadu dan tersusun rapi, sesuai dengan klasifikasi topiknya. Musik klasik bervolume sedang melengkapi suasana ruangan. Sempat terlintas dalam pikiran, sepertinya asyik punya ruang kerja seperti ini.

Saya dan ibu diantar ke ruang periksa, satu ruangan yang letaknya berhimpit dengan ruang konsultasi dokter, oleh suster yang tadi mengajak kami masuk. Di sana ada istri yang terbaring lemas ditemani seorang paruh baya dengan peralatan medisnya. Saat itu, saya lihat, istri sedang diperiksa organ dalam menggunakan USG.

It is still near full. But it has not been full yet. I suggest, you take your wife home now. You may come here again tonight or next morning when the contraction become more active.

Saran dokter 강인구 (Kang In-Gu) pada saya beberapa saat setelah saya sampai di ruang periksa. Ternyata bahkan belum sampai pembukaan satu. Satu sisi ada semacam rasa lega, namun sisi lain kekhawatiran malah semakin menjadi. Dag-dig-dug sana-sini.

Selesai berkonsultasi, dokter memberikan dua opsi. Opsi pertama, istri pulang dahulu kemudian datang kembali ke RS saat kontraksinya sudah mulai terasa lebih sering. Opsi kedua, istri tinggal di rumah sakit hingga kontraksi sudah semakin aktif, lalu saat sudah aktif diberi anestesi. Saya dan istri saling menatap. Berpikir sejenak, memilih opsi mana yang terbaik. Istri pilih opsi pertama. Karena katanya di rumah lebih nyaman.

Yaudah hayu. Pulang aja ay..

*****

Sore hari, saya dan istri duduk santai di ruang tengah. Di tangan saya sebuah stopwatch sedang menunjukkan angka 00:00. Ya, saya sedang mencoba menghitung interval kontraksi istri. Saya pernah dengar, saat interval kontraksinya setiap 5 menit sekali, itu tandanya sudah harus dilarikan ke dokter.

Enam menit ay. Cik urang coba berapa lama kontraksinya. Kalo sakitnya udah hilang, bilang ya..

Saya mencoba melakukan sampling beberapa kali. Hasilnya, di beberapa kali uji coba, interval kontraksinya sekitar 6-7 menit. Tinggal mencari tahu, berapa lama kontraksinya berlangsung.

Udah ga sakit ay..

Tik. 50 detik. Hmm. Masih belum berarti. Lama kontraksi menjelang melahirkan, saya dengar sekitar 30 detik. Di percobaan berikutnya, lama kontraksi berubah. Saya simpulkan, lama kontraksi masih sekitar 60-90 detik. Mungkin kontraksinya masih kontraksi palsu.

Ay, urang jalan-jalan lagi yuk

Tetiba kembali terlintas untuk mengajak istri jalan-jalan. Berdasarkan pengalaman ibu, saat-saat seperti ini adalah saat-saat dimana fokus istri harus dialihkan dari rasa sakit kontraksi. Salah satu pemecah fokusnya adalah jalan-jalan, kata ibu.

Destinasi yang kami pilih adalah taman kota yang terletak selang 5-6 building setelah building rumah kami. Suasana baru, pikir kami. Setelah melakukan persiapan seadanya, kami berangkat. Kami pamit pada ibu yang memilih untuk tinggal di rumah saja. Ibu ingin istirahat dulu, katanya.

Sore itu suasana jalanan tidak terlalu ramai. Mungkin orang-orang masih berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Mahasiswa dengan kuliah dan labnya, karyawan dengan aktivitas kantornya. Entah. Hanya menerka saja sih. Taman pun terlihat demikian. Tak ada satu orang pun di sana. Terakhir saya berkunjung ke sana, taman di sore hari dipenuhi oleh para bapak yang sedang mengasuh anak-anaknya bermain. Setiap taman kota memang dilengkapi dengan wahana bermain anak-anak. As well as alat pengolah tubuh seperti di gym.

Yah bentar yah. Duduk dulu donk. Ini sakit banget..

Setelah satu putaran keliling taman, istri meminta duduk sejenak. Perutnya sedang berkontraksi hebat, katanya. Setiap kali melihat wajahnya saat sedang menahan sakit, hati saya seperti tersayat. Tak tega melihatnya. Tapi, tak ada juga yang bisa saya lakukan. Andai bisa dialihkan sejenak, saya mau menampung rasa sakit itu. Yang bisa saya lakukan hanya menenangkannya dan memberinya semangat.

Tak lama berselang, istri meminta diajak berjalan ke area komplek sekitar taman kota. Saya pun mengiyakan. Kami berjalan pelan-pelan. Tangan kanan saya memegang tangan kanan istri. Menopang istri yang berjalan tertatih-tatih. Tangan kiri saya mencoba mendekap istri. Sesekali bertolak di pinggang istri untuk membuatnya sedikit merasa nyaman. Saat kontraksinya kembali hebat, istri terdiam sejenak. Lagi, wajahnya seperti menahan rasa sakit yang luar biasa. Saya pun memeluknya.

Yah itu ada yang liatin di atas

Mata saya dengan segera melirik ke atas gedung di seberang kami berdiri. Dua anak kecil sedang menatap kami. Dilihat dari bentuk wajah, sepertinya mereka dari timur tengah. Woi, bukan tontonan anak kecil. Teriak saya dalam hati.

Hayu ah kita caw lagi. Ditinggalikeun kitu jadi awkward haha

Kaki kami kembali melangkah. Kini langkah kaki kami mengarah pada Angel-in-us, sebuah coffee shop seberang jalan raya. Mengajak istri menikmati segelas beverage dan satu piring waffle cream tak buruk juga sepertinya. Sekalian menikmati masa-masa kencan berdua. Untuk terakhir kalinya.

Seperti biasa, istri memesan caffe mocha, minuman kesukaannya. Saya memesan green tea latte. Minuman kebangsaan kami berdua. Sengaja memesan itu agar jika sewaktu-waktu istri ingin mencoba rasa lain, ia bisa meminta minuman saya. Sinnamon-chocolate waffle cream turut menemani dua gelas minuman segar kami.

Kami berbincang. Kami tertawa. Banyak hal yang kami bincangkan. Kami merasa, sore itu seperti kencan terakhir di ase awal kehidupan pernikahan kami. Menyenangkan. Dan sangat berkesan.

*****

Menjelang tengah malam, tetiba pintu kamar bergeser. Saya, yang saat itu sedang tidur di ruang tengah terbangun seketika.

Ay, sakit. Mau ke dokter sekarang..

Wah benar prediksi dokter, ucap saya dalam hati. Dokter sebelumnya bilang, jika tak malam ini mungkin besok pagi kami akan kembali ke rumah sakit.

Saya bergegas membuka handphone. Memberi kabar pada Riezqa Andika bahwa kami siap pergi ke rumah sakit. Siang hari sebelumnya saya meminta bantuannya untuk mengantarkan kami jika ternyata istri harus dibawa ke rumah sakit di malam hari. Ia yang sudah memiliki SIM dan seorang kawan India yang bersedia meminjamkan mobilnya menjadi penolong kami malam itu. Beberapa saat setelah saya telepon, pak RT mahasiswa Gyeongsan tempat kami tinggal itu sudah memarkirkan mobilnya di depan building kami. Dan ternyata ia tak datang sendiri. Ia datang bersama Gregorius Rionugroho, ketua Perpika (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea Selatan) saat ini.

Udah siap semua zak? Ada yang perlu di bawa lagi ga?

Rio, sapaan akrab Gregorius Rionugroho, menawarkan bantuannya pada saya.

Gak, Rio. Semua udah siap. Tinggal berangkat.

Jam menunjukkan pukul 12 lebih. Malam sudah sangat larut. Di mobil, saya duduk di samping istri yang sedang teratur menarik nafas sembari menahan rasa sakit akibat kontraksi. Di sisi yang lain, ibu duduk sembari membaca doa. Saya pun tak berhenti membaca al-Insyirah dan Allahumma yassir sepanjang perjalanan. Berdoa, agar istri diberikan kelancaran saat persalinan. Berdoa, agar bayi kami lahir sehat dan normal.

Sepuluh menit perjalanan berlalu. Kami sampai di Fatima Woman’s Hospital. Lantai satu terlihat padam. Sepertinya tidak difungsikan di malam hari. Sesuai petunjuk dokter sebelumnya, kami segera menuju lantai tiga, area persalinan. Di sebelah pintu utama di lantai satu ada satu pintu kecil yang langsung terhubung dengan lift. Menggunakan lift itu, kami naik ke lantai tiga. Rio membantu kami membawa barang-barang kami, Riezka bergegas menuju basement untuk memarkirkan mobil.

Seorang suster menyambut kami, sesampainya kami di lantai tiga. Ia dengan segera membawa istri masuk ke ruangan persalinan dan meminta kami semua duduk di ruang tunggu. Selang beberapa saat, suster itu kembali ke luar untuk meminta saya mengisi form isian yang berisi data diri keluarga. Ia juga menjelaskan beberapa hal. Sayangnya dalam bahasa Korea. Mas Andy Tirta akhirnya menjadi tempat saya memohon bantuan, mengingat beliau sudah cukup fasih berbahasa Korea.

기다려주세요 (Silakan menunggu)…

Suster itu kembali masuk ke ruang persalinan. Ruang persalinan diproteksi oleh kode angka yang hanya para dokter dan suster yang tahu kombinasi angkanya. Pintu ruangannya cukup unik. Ia akan terbuka dengan sendirinya saat hendak keluar dari ruangan. Namun harus memasukkan kombinasi angka terlebih dahulu saat hendak masuk ruangan. Sepertinya untuk keamanan dan kenyamanan sehingga dibuat sistem seperti itu. Karena selain ruang persalinan, ruang itu juga berhimpit dengan ruang penyimpanan bayi.

Tik tok tik tok..

Jarum jam terus berdetak. Hampir satu jam kami menunggu di luar. Saya tak bisa tenang. Kaki terus bergerak saat saya duduk. Saya juga tak tahan jika harus duduk lama. Sesekali berjalan mondar-mandir dan berbincang dengan ibu, Riezka, dan Rio. Malam itu, satu hal yang coba saya lakukan: menghilangkan ketegangan.

Sedang apa Pipit di dalam? Apa dia baik-baik saja? Mengapa saya tak boleh masuk dan mendampingi dia yang sedang kesakitan? Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran saya. Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya hanya satu jawabannya: kondisi istri bagaimana sekarang.

Sudah. Hanya jawaban itu yang saya butuhkan.

*****

(bersambung)

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: