Hingga Akhirnya Ia Tiba (1)

 Yah, yah, bangun.. Celanaku basah dan berdarah..

Mendengar kalimat itu terbisik di telinga, sontak membuat saya membuka mata dan beranjak dari tempat tidur seketika. Badan tergerak dengan sendirinya. Rasa kantuk pun seolah hilang begitu saja. Di samping saya, ada istri yang sedang berdiri dengan rasa khawatir yang tergambar jelas pada raut mukanya.

Saya hampiri istri, kemudian. Saya penasaran. Saya meminta izin untuk memastikan kembali apa yang dikatakan istri dengan mata kepala sendiri. Dan benar. Darah dan semacam cairan saya dapati ada di celana istri saya. Apa sekarang sudah waktunya ya? Pikir saya dalam hati.

Bentar lagi kayaknya Teh. Urang ke dokter atuh..

Ibu, kemudian memecah kepanikan kami. Ternyata, ibu yang sedang berbaring di kamar pun ikut terbangun.

Sejak hari Jumat pekan lalu,ibu sudah ada di sisi kami. Ibu sengaja terbang ribuan kilometer kemari hanya untuk menemani istri, terutama, dalam menjalani masa-masa pra, hari H, dan pasca persalinan. Maklum, anak yang dikandung istri adalah anak kami yang pertama. Banyak sekali rasa takut dan khawatir hinggap dalam dada kami. Terlebih setelah mendengar banyak kasus baby blues menjangkiti ibu muda yang melahirkan anak pertama.

Nanti aja bu agak siangan, Pipit masih belum ngerasa apa-apa kok. Cuman ini aja basah.

Istri menolak untuk langsung dibawa ke rumah sakit. Masih merasa sehat-sehat saja katanya. Ia meminta untuk diantar ke rumah sakit saat memang perutnya sudah mulai intens berkontraksi. Baiklah jika memang itu bisa membuatmu nyaman, ucap saya pada istri.

Kepanikan sudah mulai mereda. Saya putuskan untuk off hari ini, tidak akan ngelab. Saya pikir saya harus siaga selalu karena dalam beberapa jam ke depan, perut istri akan mulai berkontraksi. Dan dalam beberapa jam ke depan juga, istri harus dengan segera dibawa  ke rumah sakit.

*****

Matahari mulai terlihat seperti matahari saat dhuha. Terlihat bersinar terang hangat di balik jendela. Melihat cuaca yang cerah, terlintas dalam benak saya untuk mengajak istri jalan-jalan keliling taman. Saya pernah dengar, jalan-jalan dapat membantu memperlancar persalinan, karena membantu kepala bayi masuk ke panggul sang bunda, katanya. Seorang kawan yang tinggal beberapa blok dari rumah kami pun melahirkan beberapa waktu setelah dibawa jalan-jalan oleh suaminya. Mungkin kalau dibawa jalan-jalan, persalinan istri juga akan lancar, pikir saya.

Ayo ay kita jalan-jalan..

Jalan-jalan kemana?

Keliling taman weh. Kita cari udara segar, biar dede lancar keluarnya ntar..

Taman sebelah Home Mart akhirnya menjadi pilihan. Taman ini, oleh orang-orang Indonesia di sini, disebut Taman Apel. Mungkin karena ada satu tempat duduk berbentuk apel hingga akhirnya taman ini dikenal sebagai Taman Apel. Entah juga. Saya tidak pernah bertanya langsung sejarah dibalik penamaan Taman Apel. Dan, lagian mau bertanya pada siapa?

Seperti biasa, taman di pagi hari terlihat sepi. Sinar matahari yang muncul dari balik rimbunnya pepohonan taman menampakkan aura kesejukan. Arena bermain anak di sana membawa pikiran saya pada lamunan masa depan.

Yah, ntar mah dede bakal sering main di sini hehe..

Tetiba istri nyeletuk. Ternyata istri satu pikiran dengan saya. Saya pun satu suara dengannya. Ya, dalam beberapa tahun ke depan, mungkin taman ini akan menjadi destinasi favorit anak kami. Mungkin juga setiap sore sepulang dari lab, kami harus membawa main anak kami ke taman ini. Melihat ia berlari-lari. Atau sesekali ikut berlari mengejarnya mengelilingi taman ini.

Satu demi satu lamunan dan celetukan muncul, menjadi topik pembicaraan saya dan istri di Taman Apel itu.Saya tidak pernah menyangka, ternyata hari ini tiba juga pada akhirnya. Hari dimana akan hadir seseorang yang akan menjadi pemecah senyum kami, aktor baru dalam kisah hidup kami, dan tentunya seseorang yang akan sangat sangat kami sayangi.

Kalo kata orang sih, abis punya anak, hidup akan kerasa bakal berubah. Mungkin setelah hari ini, atau setelah besok, hidup kita juga akan sedikit berubah ay..

Yang penting mah tetap bahagia yah..

Respon yang dihiasi senyum istri itu menjadi pemanis lain jalan-jalan pagi kami. Seiring matahari mulai menaik, tak terasa kaki kami telah melangkah jauh. Cerita demi cerita kami salingkan lalu kami komentari satu demi satu. Sesekali kami tertawa. Sesekali kami serius.

Sekilas saya lihat, tidak tampak raut khawatir di wajahnya, sebagaimana benak saya menggambarkannya. Syukurlah. Mungkin benar kata orang-orang. Kekhawatiran dapat dibunuh dengan canda tawa.

*****

 Duh asa mulai intens ayeuna mah nyerina..

Ucap istri di siang itu. Sebentar, sejak kapan sekarang jadi siang? Ah, waktu terasa begitu cepat berlalu. Mungkin karena fokus saya banyak teralihkan pada kondisi istri, jadi tidak terlalu ngeh dengan kondisi sekitar. Tanpa sadar, tau-tau sudah siang saja.

Udah ke dokter ayeuna weh yuk..

Saran ibu yang kedua kali ini pada akhirnya menggerakkan istri untuk mencoba memeriksakan kandungannya ke dokter. Dengan segera kami bergegas mempersiapkan ini itu. Untungnya, perlengkapan bayi untuk satu-dua hari pertama di rumah sakit sudah dikemas sejak lama. Disimpan di dalam satu tas gendong berhiaskan boneka beruang di depannya. Hal yang kami siapkan hanyalah pakaian istri dan segala hal yang berhubungan dengannya. Untuk bekal selama dirawat di sana.

Kami pergi ke rumah sakit dengan taksi. Ini kali pertama pergi ke rumah sakit dengan taksi. Biasanya, saat saya dan istri pergi ke sana untuk regular check up, kami menggunakan bus. Bahkan di usia hamil tua pun, istri masih bertenaga berjalan kesana-kemari menggunakan bus. Padahal bus di satu-dua kesempatan melaju selayaknya pembalap F1. Di waktu yang lain seperti melaju di track off road. Namun alhamdulillah. Hingga detik ini, istri dan bayi kami tidak pernah terpengaruh oleh kejamnya bus sini pada mereka.

Sesampainya di rumah sakit, suster yang melihat kami datang dari kejauhan dengan segera menyambut kami. Ia kemudian membawa istri ke ruangan dokter, lalu meminta saya dan ibu duduk di kursi tunggu.

Sembari menunggu, saya dan ibu kemudian berbincang banyak hal yang berkaitan dengan persalinan. Tentu dalam benak saya tersimpan banyak pertanyaan tentang persalinan. Maklum, pengalaman pertama. Banyak hal yang ingin dipastikan. Siapa juga yang mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada istri dan calon bayinya? Satu hal yang saya inginkan adalah istri dan bayi saya normal serta sehat walafiat pasca persalinan.

남편님, 여기에 주십시오.. (Tn. Suami, silakan kemari)

Suara suster itu kemudian memecah perbincangan saya dengan ibu. Mendengar suster mengajak kami masuk ke ruangan dokter, tiba-tiba dada saya berdegup kencang. Semacam harap-harap cemas. Menanti apa yang dikatakan dokter atas kondisi istri saya. Setelah menarik nafas panjang, saya beserta ibu pun masuk ke ruangan dokter.

Bismillah..

*****

(bersambung)

0 comments: On Hingga Akhirnya Ia Tiba (1)

Leave a Reply to Al Amin Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: