GIM Conference

Sambungan dari Menapaki 5 Bandara

 

Hal pertama yang terlintas dalam pikiran kami saat itu adalah, ‘hei, gimana cara ke President Hotel nya?

Bisa dibayangkan. Hari itu merupakan kali pertama kami menginjakkan kaki di bukan tanah Asia Tenggara. Asia bahkan. Sebelumnya kami belum pernah kepo bagaimana aturan transportasi di sana, jalur apa yang perlu kami ketahui di sana, dan semua hal tentang seluk beluk transportasi di sana. Tapi dengan Bismillah, kami memutuskan untuk beranjak keluar bandara dan turun ke lantai dasar untuk naik Metro Istanbul, kereta bawah tanah.

Singkat cerita, sampailah kami di President Hotel. Perlu dicatat, bahwa perjuangan sampai hotel tersebut cukup melelahkan. Tata letak gedung di sana cukup membuat kami harus memilih, ini lewat jalan sini bener ga ya? Arahan dari orang-orang setempat akhirnya yang mengantarkan kami sampai di sana.

Improper Attendance

Sesampainya di dalam, kami disambut oleh snack. Berbagai macam cemilan dan pilihan minuman tersedia di sana. Dan semua gratis. Yaiyalah!

Saat itu pembukaan sudah dimulai. Awalnya saya ragu untuk masuk ruangan opening. Masih pake kaos, jas PPSDMS ada di tas di koper. Oh ya, perlu diketahui, saat itu koper kami masih belum sampai Turki. Accident ‘pelemparan’ kami ke Roma membuat koper kami agak delay sampai Turki. Dan kami harus mengambil koper itu di Bandara siang harinya. Di hari itu.

Setelah berbincang sejenak, akhirnya kami memberanikan diri masuk ruangan. Saat masuk ruangan, seketika tatapan peserta langsung tertuju pada kami. Tak heran, soalnya pintu masuk ruangan berada di hadapan peserta.

Lalu kami pun mencari kerumunan kawan-kawan PPSDMS yang telah duluan sampai di sana. Agak sedikit gimana gitu menggunakan pakaian yang tidak semestinya. Namun, mau bagaimana lagi. Kami tak membawa baju formal kami. Woles aja lah.

Setelah menyimak satu paparan presentasi seorang Doktor dari Belanda tentang makanan halal, kami harus izin ke luar ruangan untuk mengambil kembali koper kami yang tertinggal. Perjalanan panjang pun dimulai kembali.

Kami kembali menaiki Metro menuju bandara.

Ada satu situasi menarik yang kami hadapi saat itu. Koper berada di dalam area boarding, sedangkan kami berada di luar. Kalo mau ngambil koper, berarti harus masuk dulu donk? Kalo masuk, berarti bayar (lagi) donk? Sesuatu banget kan.

Akhirnya kami berbicara dengan petugas bandara setempat. Kami harus melewati birokrasi yang cukup menyulitkan dan prosesnya lama, karena harus ada kontak antara maskapai dengan pihak bandara. Namun, penantian tak berakhir sia-sia. Setelah beberapa waktu, singkatnya, koper itu kembali ke tangan kami dengan selamat. Alhamdulillah.

Kami pun kembali. Tujuannya? Tentu President Hotel.

Gala Dinner, Selat Bosphorus

Sesampai di hotel, ternyata para peserta tengah bersiap-siap untuk menuju Selat Bosphorus. Kami bergegas ke dalam hotel, mengambil baju formal kami, memakainya, lalu kemudian bergabung dengan peserta lain  untuk menghadiri rangkaian acara di malam itu, Gala Dinner.

Magrib di Turki sekitar pukul 21.00. Saya ikut berkumpul bersama peserta lain di depan hotel sekitar 1,5 – 2 jam sebelum waktu magrib. Sembari menunggu bis yang datang, saya mencoba berbincang dengan beberapa peserta yang ada di sana. Itung-itung praktek speaking lah. Lumayan banyak wawasan baru yang didapat dari perbincangan dengan beberapa orang peserta. Dua orang sih kalo saya lebih tepatnya. Wajar, mereka adalah orang-orang yang bertitel S2 atau S3.

Menjelang magrib, bis pun datang. Ada tiga bis yang mengangkut peserta. Satu hal yang mencengangkan adalah, di sana, bis masih diperbolehkan masuk jalur sempit satu arah di mana di jalur itu banyak kendaraan, terutama mobil lewat. Oke, itu tak penting. Perjalanan dilanjut,

Komentar pertama saat sampai di Selat Bosphorus, keren!

Tak pernah menyangka sebelumnya bahwa akan ada kesempatan naik kapal pesiar mini. Di kapal tersebut semua peserta naik. Sembari menunggu magrib, peserta disuguhi minuman dan pemandangan selat yang luar biasa indah. Sisi kiri menghampar bangunan-bangunan tanah Eropa. Sisi kanan menjulang gedung-gedung tanah Asia. Sebuah pemandangan khas selat Bosphorus, view dua benua.

Sekitar menjelang Isya, Gala Dinner dimulai. Satu hal yang masih teringat hingga sekarang adalah, pembuka hidangannya pahit! Entah mungkin itu karena lidah saya dengan warga sana berbeda sehingga cita rasanya berbeda pula. Sepertinya agak sulit menjelaskan bagaimana rasanya. Tapi yang pasti di lidah saya itu sungguh tak enak. Namun, rasa tak enak itu diobati oleh main course yang sangat lezat, sebuah racikan daging sapi yang entah itu diberi nama apa. Ditambah juga dessert yang pas.

Malam tak terasa cepat berlalu. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Jika dikonversi ke waktu Indonesia, di Indonesia sudah menjelang pagi. Semua peserta pulang, dan kami kembali ke kantor KJRI Indonesia, tempat yang menjadi tempat menginap kami selama beberapa waktu di Turki.

Show Time!

30 Mei 2013

Pagi hari, saya disibukkan dengan slide presentasi. Satu fakta yang harus dipercayai saat itu adalah, saya belum sempat membuat slide!

Bahkan, hingga semua sudah sampai di hotel pun slide saya masih belum beres. Padahal saya seharusnya tampil pertama. Sebenarnya giliran saya tampil itu sehari sebelumnya. Namun, karena di hari sebelumnya saya harus mengambil koper ke bandara, maka giliran saya digeser menjadi hari ini.

Namun, mau bagaimana lagi. Sudah beberapa kali Arief Nur mondar-mandir memanggil saya untuk tampil. Sudah sekian kali juga saya melobi dia untuk men-switch urutan saya dengan yang lain. Hingga akhirnya saya sampai di satu titik di mana, oke Bismillah saya tampil.

Saya masuk ruang PPSDMS Session, sebuah ruangan yang sengaja disediakan oleh panitia untuk pemaparan Paper anak-anak PPSDMS. Di sana telah hadir seorang Juri dan beberapa peserta lain, termasuk kawan-kawan PPSDMS. Laptop pun saya buka, lalu kemudian saya sambungkan pada proyektor, dan presentasi pun dimulai.

Kurang lebih 20-30 menit sesi presentasi saya. Tidak terlalu banyak yang ditanyakan saat itu. Entah harus senang atau sedih. Haha..

Perasaan lega membuncah seketika, sesaat setelah presentasi selesai. Rasanya seperti terkena durian runtuh. Dalam bahasa Sunda, istilahnya asa bucat bisul. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah memberi kesempatan untuk saya. Walau merasa belum maksimal, tapi ada yang jauh lebih penting dari hasil presentasi, yaitu pembelajaran saat proses.

Saya kemudian mencari spot yang pas untuk duduk dan mendengarkan presentasi dari kawan-kawan lain. Waktu pun berlalu. Satu persatu kawan-kawan tampil ke depan dan mempresentasikan kegelisahan dan ide kreatifnya.

Dengan ditutupnya presentasi saat itu, maka selesailah rangkaian acara GIM Conference, Turki. Sebelum pulang, kami mengadakan prosesi dengan ketua penyelenggara, Mr. Baker untuk memberikan kenang-kenangan pada beliau. Kami juga berterima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Dr. Baker.

Alhamdulillah. Ini sungguh pengalaman yang luar biasa. Tak terlupakan, dan memberi banyak pembelajaran. Kisah pun berlanjut di chapter selanjutnya, Berjelajah di Istanbul

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: