Lintasan Pikiran

Gak Enakan

December 24, 2017

Akhir-akhir ini saya banyak menemui banyak peristiwa, kejadian, momen-momen dimana banyak pembelajaran di dalamnya. Di antara semua kejadian itu, ada satu hal yang saya amati cukup menarik dipelajari dan disarikan hikmahnya.

Saya ketemu dengan beberapa orang yang mereka itu… ga enakan gitu orangnya.

Sebenernya rada bingung juga sih mendefinisikannya gimana. Tapi yang langsung terlintas ya itu, ga enakan. Intinya adalah orang-orang yang mereka mau untuk sejenak berdiri di atas sepatu orang lain. Orang-orang yang mencoba memosisikan sebentar perasaannya di atas perasaan orang lain. Orang-orang yang berusaha untuk tidak egois, tidak over- sakumaha aing, tidak acuh. Orang-orang yang mau sekejap doank mikirin,

“kalo misal aing lakuin ini, si eta keganggu ga ya?”.

Sebagai homo socialis dan zoon politicoon, kita akan selalu berinteraksi dengan manusia, sekalipun misal kita seorang yang totally introvert dan completely antisocial yang tanpa kesendirian kita menjadi sakaw. Karena memang sudah fitrahnya manusia seperti itu. Hidup kita takkan pernah bermakna tanpa adanya pasangan hidup orang lain. Sudah berapa jalan hidayah dan pintu rezeki yang kita dapatkan melalui orang lain coba? Banyak. Tak mungkin pernah bisa dihitung.

Kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain ini akhirnya melahirkan norma-norma dan adab dalam berinteraksi, yang pada hakikatnya, pilihan buat mengikuti itu semua ada di kita sendiri. Nah yang kadang membuat takjub adalah saat bertemu sama orang-orang yang begitu kental akan adab dan norma dalam berinteraksi, sekalipun bukan dengan kerabat atau orang dekat, sekalipun dengan orang beda ras dan keyakinan.

Menjaga adab saat berinteraksi sama orang dekat, terutama sama generasi old mah mungkin udah biasa, udah common, dan lebih natural dilakukan. Apalagi di lingkungan Sunda, adab dan tata krama dipelajari sedari kecil. Sekalipun misal orang tua tidak mengajari secara langsung, tapi sehari-hari kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana adab berinteraksi dengan orang lain. Karena sedari kecil “dicekoki” hal-hal seperti itu, jadinya tertanam kalo menjaga adab itu harus. Karena menjaga adab dianggap penting di lingkungan orang sunda, sedikit saja keluar dari norma yang sudah mengakar, siap-siap weh jadi piomongeun batur. Implikasinya bisa berimbas dalam kehidupan bermasyarakat.

Intermezzo aja. Adab dalam adat sunda mencakupi cara berbicara bahkan gestur saat berinteraksi, mulai dari bilang ‘punten‘ kalo lewat kerumunan orang, memberi suguhan kalo ada tamu, panggil ‘akang‘ atau ‘teteh‘ ke yang lebih tua, menunjukkan ke suatu arah pakai jempol, hingga kalo lewat di depan yang lebih tua harus sambil membungkukkan badan dan memosisikan tangan kanan lebih rendah dari tangan kiri. Masih banyak lagi adab-adab lain yang menurut saya punya nilai plus jika dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kalo coba disarikan, menurut saya, adab-adab itu bermuara pada satu hal: membina hubungan baik antar sesama. Menghormati yang lebih tua, menghargai siapapun terlepas dari apapun statusnya, juga menjaga perasaan orang lain adalah agar bagaimana hubungan baik selalu terbina. Dan pastinya sih, adab-adab di manapun akan selalu mengarah ke sana.

Dengan hubungan yang selalu terbina dengan baik, kemudahan-kemudahan dalam kehidupan bermasyarakat juga akan selalu hadir. Dan yang paling penting, menjaga hubungan antar sesama juga bentuk kebaikan. Pada prinsipnya, saat kita berbuat baik, kita kan sejatinya sedang menabung kebaikan untuk diri kita sendiri. Dan percayalah, kebaikan-kebaikan itu, atas izinNya, akan kembali pada kita suatu saat nanti dengan takaran yang jauh lebih baik.

Bukankah kebaikan sebesar dzarrah pun pasti akan dibalas?

Nah, sayangnya, ternyata gak semua orang men-treasure adab berinteraksi ini. Entah mungkin karena belum tahu, atau orangnya memang ignorant, atau memang tingkat ketidakpeduliannya udah annoying-pain in the…back parah. Padahal mah ya, sepemahaman saya, kan salah satu aspek turunan dari menjaga adab adalah bagaimana kita memosisikan diri kita di hadapan orang lain. Seseorang bisa dinilai baik, wajib dijadikan teman, atau prospektif secara bisnis atau akademis, salah satunya dilihat dari bagaimana dia bersikap dan adabnya saat berinteraksi.

Dengan menjadi seorang yang well-mannered, pintu-pintu kesempatan untuk memiliki kehidupan sosial yang lebih baik akan terbuka lebar. Orang akan merasa senang untuk membantu, atau mungkin hanya sekedar membelikan sesuatu, bahkan tanpa diminta. Kita juga akan masuk inner circle berbagai macam tipe orang dengan bermacam-macam latar belakang, yang dari mereka kita bisa mempelajari banyak hal. Bisa cara pandang, pola pikir, ilmu spesialisasi yang dia kuasai, bagaimana ia melewati ujian hidup, dan hal-hal inspiratif lain yang bisa dijadikan added value dalam kehidupan keseharian kita.

Dan kalo saya perhatikan, semua itu bisa bermula dari satu hal: ga enakan.

Saya belajar dari beberapa orang yang saya temui, bahwa dengan merasa ga enak, kita bisa memagari ego kita sehingga ia tidak terlalu over dominant dalam berkehidupan sosial.

Sebagai seorang manusia, sudah fitrah kalo kita ingin mendapat sesuatu yang lebih banyak (serakah-greedy-hawek), memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi (semacam oportunis), terlihat keren di mata orang (para pencari pengakuan), menekan cost sebanyak mungkin (gak mau rugi), dan tidak mencari jalan yang sulit (prinsip ngarah gancang). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu. Kalo semua itu diposisikan di tempat yang tepat, tentu akan menjadi booster dalam kehidupan kita.

Kita boleh serakah dalam hal penambahan jam terbang, misal. Karena sebagaimana prinsip mengasah pisau, semakin banyak pengalaman yang didapat saat sedang menekuni sesuatu, semakin terasah kemampuan kita dalam melakukan hal itu. Memanfaatkan momen langka saat bertemu tokoh besar untuk mempelajari ilmunya dan memperlihatkan kerja keras agar menjadi inspirasi di mata anak, bukan suatu hal yang buruk kan?

Yang kadang menjadi kurang sedap dipandang adalah ketika semua sifat bawaan manusia itu diposisikan di situasi yang kurang tepat dalam konteks sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil misal mengambil sesuatu lebih banyak tanpa berpikir orang lain sudah kebagian atau belum, atau misal memanfaatkan kebaikan orang untuk kepentingan pribadi tanpa mencoba peka yang ia lakukan sudah kelewat batas atau tidak.

Kalo saya amati, hal-hal itu bisa terjadi karena mungkin tingkat ke-ga enakan-nya rendah. Terlalu banyak melihat sesuatu dari sudut pandang pribadi, terlalu ga mau rugi, tidak mencoba acuh terhadap adab dan tata krama, atau simply karena memang kurang piknik, mungkin bisa juga jadi pemicu rendahnya rasa ga enak itu.

Dari apa yang sudah saya coba renungkan, saya berkesimpulan bahwa selain dari kesadaran mengikuti sunnah, dari sifat gak enakan itu lah adab dan manner itu bermula.

Dari rasa ga enak kalo orang lain merasa terganggu dan terambil waktu, tenaga, atau hartanya atas apa yang kita lakukan, lahirlah kata maaf, permohonan izin, dan keinginan untuk memberi saat merasa berhutang budi pada orang lain. Dari rasa ga enak ketika orang lain tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan kita, lahirlah keinginan untuk mendahulukan orang lain dan rela mengorbankan apa yang seharusnya kita dapatkan/miliki. Dari rasa ga enak ketika hak milik orang lain rusak atau terambil, lahirlah kesadaran untuk tidak hanya meminta maaf, tetapi mengganti bahkan dengan sesuatu yang lebih baik. Dari rasa ga enak karena sudah merasa terfasilitasi dan diberi kesempatan beraktualisasi diri, lahirlah keinginan untuk memperlihatkan/memberikan yang terbaik, walau harus menempuh jalan yang sulit dan mungkin costly. Dari rasa gak enak jika orang akan merasa risih dengan manner kita, lahirlah adab-adab bersosial yang baik.

Sifat ini memang bukan bahan bakar utama dari adanya suatu adab atau manner. Tapi sifat ini bisa menjadi salah satu pondasi adab dalam kehidupan sosial.

Saat kita merasa bahwa penting menjaga hubungan baik dengan orang lain, penting membuka selebar-lebar peluang bertemu dengan pintu kemudahan dalam berkehidupan sosial, penting menabung kebaikan sebanyak-banyaknya, mungkin sifat ini perlu kita miliki.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.