Esensi dalam Berproses

Meraih cita-cita, mendapatkan apa yang diinginkan, memenangkan kompetisi, menjadi yang terbaik, adalah beberapa diantara hal-hal yang pada umumnya menjadi target berjangka kita. Entah itu target jangka pendek ataupun jangka panjang. Tak jarang kita mengeluarkan hampir semua yang kita miliki, baik tenaga, waktu, pikiran, hingga materi agar kita bisa mencapai itu semua. Karena memang selalu ada kepuasan tersendiri yang dirasakan ketika semua itu mampu kita genggam, terlepas dari apapun motif dibaliknya.

Memang sudah sewajarnya sih setiap dari kita memiliki determinasi dalam hidup. Tanpa determinasi, apa ubahnya kita dengan buih di lautan, kan? Yang hanya berpasrah terombang-ambing tanpa membuahkan sesuatu yang bermanfaat. Padahal, kita telah diajarkan olehNya untuk selalu mempersiapkan hari esok (59:18). Oleh karenanya, selalu memilih opsi untuk melakukan dan memberikan yang terbaik adalah sebuah keharusan. Mulai dari perencanaan hingga momen dimana kita menuai hasil.

Meskipun demikian, jangan sampai kita terlalu terlena dengan ikhtiar yang sedang kita jalani. Hingga kita lupa bahwa kewajiban kita adalah senantiasa mendekatkan diri denganNya. Semisal, keasyikan menuntut ilmu tapi lalai shalat lima waktu. Semangat bekerja hingga larut tapi alfa dalam mengucap doa. Antusias mengejar target pribadi tapi lupa meminta pertolonganNya. Terdepan dalam membantu orang tapi luput bersedekah.

Mungkin kebanyakan dari kita, termasuk saya, seringkali khilaf akan esensi utama dari proses yang sedang kita lakukan. Melakukan perencanaan terbaik, ikhtiar maksimal, berupaya menembus limit saat berproses adalah konsekuensi dari apa yang menjadi keinginan kita, titik tuju kita, bukan esensi. Esensi utamanya adalah upaya kita untuk selalu melibatkanNya dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Memantaskan diri di hadapanNya sehingga Ia mau menurunkan pertolonganNya.

Alangkah baiknya jika kita berangkat dari sebuah pemahaman bahwa apa yang kita miliki sejatinya bukanlah milik kita. Bahwa sebenarnya kecerdasan, kekayaan, semangat, antusiasme, lingkungan positif, dan segala hal baik sejenisnya yang melekat dalam diri kita adalah anugerah yang diturunkanNya, tidak kurang tidak lebih.

Maka, sudah sepantasnyalah kita senantiasa melibatkanNya dalam setiap proses yang sedang kita jalani, karena resources dan tools yang kita gunakan dalam berproses juga sebenarnya berasal dariNya. Cobalah untuk sejenak berjeda, kemudian kikis sedikit demi sedikit keyakinan yang menyatakan bahwa hasil yang nantinya akan kita dapat adalah murni karena ikhtiar yang kita lakukan.

Memang benar, bahwa berikhtiar dengan cara yang terbaik adalah keharusan. Namun, ikhtiar hanyalah syarat, bukan sebab. Ikhtiar adalah upaya kita dalam memantaskan diri di hadapanNya untuk meminta keridhaan dan pertolonganNya. Karena saat Ia ridha, adakah yang mampu menghalangiNya dalam menuruti keinginan hambaNya? Dan saat Ia tidak ridha, bukankah sekeras, seberkorban, dan sekuat apapun kerja kita, kita takkan pernah sampai di hasil yang kita inginkan?

Mudah bagiNya untuk mentidakcocokkan ikhtiar terbaik kita dengan hasil yang kita inginkan, sebagaimana mudah bagiNya untuk mengabulkan apa-apa yang kita pinta lewat do’a. Hal ini seyogiannya membuat kita tersadar bahwa kunci lancarnya sebuah urusan dan terkabulnya sebuah harapan ya hanya Ia semata. Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Sehingga bersama ikhtiar-ikhtiar terbaik itu juga ada do’a-do’a terbaik, dan bersama kerelaan untuk berkorban itu juga ada kerelaan untuk berharap pertolonganNya.

Oleh karenanya, janganlah lupa untuk selalu membersamai kerja keras kita dengan do’a dan ibadah terbaik. Karena hasil adalah ranahNya. Biarlah Ia yang menyelesaikan pekerjaanNya, setelah kita menyelesaikan pekerjaan kita. Kita cukup menunjukkan padaNya bahwa kita telah memenuhi syarat untuk mendapatkan hasil terbaik dengan kerja keras yang kita lakukan dan telah memantaskan diri untuk mendapatkan ridha dan keberkahan dariNya dengan ibadah terbaik yang kita lakukan.

Di ranah kita manusia, kerja keras dan ibadah terbaik adalah seperti dua mata koin yang saling berkaitan dan berketergantungan satu sama lain.

Wallahu’alam.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.