Dua Tahun

RencanaNya memang tak bisa diterka. Siapapun, memang sejatinya takkan ada yang bisa menerka. Siapa sangka, perjumpaan di masa kecil 13 tahun silam, ternyata menyimpan satu rahasia mengejutkan. Rahasia, yang bahkan aku dan kamu pun tak pernah menduga akan menjadi seperti ini jadinya.

Memang Ia lah Sang Penjaga Hati, Sang Penumbuh Cinta. Kemurahan hatiNya, adalah sesuatu yang hingga saat ini aku selalu takjub terhadapnya. Bagaimana tidak, cinta dalam diam aku padamu dan kamu padaku, Ia akhiri dengan epilog dengan judul yang amat indah: pernikahan.

Dari penggalan kisah itu, aku belajar banyak tentang keyakinan dan pengharapan. Kuyakin, kamu pun begitu.

Belum genap dua bulan, Ia beri kita kabar bahagia. Ia karuniakan seorang insan yang kelak akan meneruskan cita kita. Syukur banyak terlisankan, karena tak semua pasangan dikaruniakan sesegera seperti kita. Meski harus dilewati dengan jeda yang cukup berjarak, kamu yang berharap aku ada disisimu, aku yang bersedih karena tak kuasa menemani harimu, alhamdulillah Ia tengahi dengan beri kita kekuatan hingga mampu kita lewati bersama.

Dari penggalan kisah itu, aku belajar banyak tentang kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan. Kuyakin, kamu pun begitu.

Seiring berdetiknya jarum jam, buah hati kita semakin bertumbuh-kembang. Si Kecil yang dulu hanya terbaring, kini sudah mampu berpindah kesana-kemari. Si Kecil yang dulu hanya bertatap kosong, kini sudah mampu berbalas senyum. Hanya satu hal yang tak berubah darinya: keberadaannya selalu membawa tawa dan bahagia. Di tengah kemelut tugas, di tengah rentetan pekerjaan, di tengah kumpulan penat. Kehadirannya yang kita khawatirkan pertama kali, kini menjadi hal yang sangat kita syukuri. Ia memang selalu tahu mana yang terbaik.

Dari penggalan kisah itu, aku banyak belajar tentang kepasrahan, tanggung jawab, dan cinta tanpa tapi. Kuyakin, kamu pun begitu.

Dua tahun sudah semua itu terlewati. Bukan tanpa sandungan, juga bukan tanpa tantangan. Karena perjalanan tanpa sandungan takkan pernah menyadarkan kita akan koreksi diri. Dan perjalanan tanpa tantangan takkan pernah menaikkan kita ke titik yang lebih tinggi. Justru sandungan dan tantangan lah yang sejatinya menjadikan hati kita menjadi lebih erat satu sama lain.

Sungguh, aku masih ingin belajar banyak dari penggalan-penggalan kisah lain kita di depan sana. Kembali menyerap, lagi dan lagi, setiap serpihan hikmah yang masih acak terserak.

Satu hal yang kupinta, teruslah berada di sisiku, hai, Pipit Fitriani.
Hingga aku menggenapkan kumpulan penggalan kisah kita, di syurga kelak.

In syaa Allah. Aamiin.

23 Agustus 2016

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: