Dua Hati

Aku perhatikan, silang merah tanggal pada kalender di dinding terlihat membentuk deretan yang cukup apik. Lembaran terakhir dari kalender seperti memberikan isyarat bahwa sebentar lagi, bulan akan berganti kembali. Namun spesialnya, pergantian bulan kali ini didampingi jua dengan pergantian tahun. Tak terasa, ternyata, sudah cukup banyak cerita yang terekam waktu sejak aku memulai Belajar Mencintaimu.

Satu cerita paling membahagiakan buatku, diantara ribuan cerita yang telah terekam waktu, adalah saat aku mendengar kabar, bahwa di ruang perutmu telah hadir seorang buah hati. Jika kamu tahu, di hari di mana aku mendengar kabar itu, sungguh, aku tercengang beberapa saat, mulutku menganga dengan sendirinya, mataku berbinar hingga tak berkedip, dan jantungku berdegup kencang hingga tak mampu aku redam. Waktu terasa seperti berjeda sesaat. Satu rasa kemudian meluap. Satu rasa yang tak pernah aku ingat sebelumnya. Seperti ini kali pertama aku berkenalan dengannya.

Aku merasakan senang yang dirasa berbeda dari senang biasanya. Aku marasakan bahagia yang jua dirasa berbeda dari gembira biasanya. Aku merasakan haru, sama seperti yang lainnya, berbeda dari haru biasanya. Senang, bahagia, dan haru yang berbeda. Yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Semacam semua rasa itu bergandengan satu dengan yang lain, kemudian membentuk satu rasa yang baru. Aku merasakan seperti itu. Entah, mungkin kamu pun demikian.

Ada yang berucap, bahwa ini terlalu cepat. Namun, ada lagi yang menilai bahwa ini adalah hal biasa saja. Ada yang terlihat mengerenyitkan dahi. Namun ada jua yang turut tertumpah bahagia. Terlepas dari semua itu, buatku, tak ada hal yang lebih baik untuk ditanggapi selain kepercayaan Sang Maha Pencipta dalam menitipkan buah hati. Bahwa sungguh, menjaga amanah ini bukanlah perkara mudah. Karena yang dititipkan adalah seorang insan bernyawa. Insaan yang takkan hanya menjadi penghias bumi semata. Insan yang memiliki akal dan hati.

Kini, aku telah memiliki dua hati. Hatimu dan hatinya. Hati yang ingin kujaga keindahannya. Hati yang ingin kutabur cinta di dalamnya.

Dua hati, tempat aku menaruh rindu. Dua hati, tempat aku kembali.

Puji syukur atas karuniaNya yang tak terkira. Sungguh, jika kamu bertanya akan hal yang ingin kupeluk, kujaga, dan kugenggam erat selamanya, maka jawaban yang akan kuberikan adalah

Dua Hati.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: