Dinamika Keseharian

Sedari awal kami berbincang tentang masa depan, ada satu konklusi tersirat yang kami sepakati, bahwa kami akan mengambil jalan akademisi. Akan berjuang dan berkecimpung di ranah ini. In syaa Allah. Kami punya mimpi, kami ingin menjadi sepasang Ph.D di masa depan nanti. *aamiin*

Memilih untuk menjadi sepasang pelajar, yang dimana paralel dengan peran suami-istri dan juga orangtua, ternyata menghadirkan dinamika tersendiri. Terutama dalam urusan keseharian. Mengurus Daehan, eksperimen di Lab, mengerjakan tugas-tugas Professor, belajar bahasa, pekerjaan rumah, to do list organisasi, adalah beberapa dari tantangan yang harus di-overcome setiap hari.

Kami menyadari, bahwa hukum sebab-akibat akan berlaku saat keputusan itu pertama kali dibuat. Bahwa akan ada konsekuensi yang harus kami hadapi, sekalipun sesekali konsekuensi itu bertolak belakang dengan rencana, ekspektasi, dan harapan kami. Namun, ada dua hal yang selalu kami jadikan pondasi: ‘bersama kesulitan ada kemudahan’ dan ‘seorang manusia takkan dibebani sesuatu, melainkan ia akan sanggup menanggungnya’.

Jika disederhanakan, sedikitnya fokus kami terbagi menjadi lima: Daehan, lab, rumah, pribadi, dan organisasi. Setiap hari, semua hal itu berpadu, memunculkan tantangan dan dilematis yang -seringnya- saling bersahutan satu sama lain. Adakalanya satu harus dikorbankan demi menjaga stabilitas yang lainnya. Walau sudah ada prioritas, kadang ada satu-dua kondisi yang mengharuskan kami untuk mengesampingkan prioritas-prioritas itu.

Yap, di sanalah dinamikanya.

Satu dinamika yang sering kami temui adalah saat salah satu dari kami harus bereksperimen di malam hari. Dimana yang satu pergi ke lab untuk eksperimen, sedangkan yang lain standby di rumah menjaga Daehan. Saat Daehan sehat, tak ada masalah yang begitu berarti. Jikapun misal ia tetiba terbangun di tengah tidurnya, biasanya Daehan akan bermain sebentar, lalu setelah itu kembali tidur. Atau ia hanya ‘laporan’ kalau ia haus. Setelah diberi mimi, ia tidur lagi.

Namun, saat Daehan sakit, ia jadi tak ‘sesholeh’ biasanya. Frekuensi nangisnya sering, tidurnya pun tak bertahan lama. Saat ia nangis, mimi harus selalu siap sedia. Kalau saya yang eksperimen dan istri yang jaga, istri bisa langsung ‘meredamkan’ tangisan Daehan dengan memberinya mimi. Kalau istri yang eksperimen dan saya yang jaga? Ini yang suka jadi tantangan tersendiri.

Saat Daehan menangis sedangkan digendong tidak membuatnya mereda, tak ada pilihan lain selain meminta istri bolak-balik rumah-lab, atau memberhentikan dengan paksa eksperimen untuk dilanjut esok paginya untuk memberinya mimi. Kalaupun tidak mau diberi mimi, biasanya, gendongan istri sudah cukup membuat Daehan menjadi tenang kembali. Untungnya, kami punya sepeda dan jarak rumah-lab yang cukup terjangkau sehingga tidak terlalu membuat kami kewalahan.

Di waktu yang lain, dinamika muncul saat lab meeting menjelang. Kami punya jadwal lab meeting berbeda. Jadwal lab meeting istri setiap Sabtu, dua pekan sekali. Sedangkan jadwal saya setiap Jumat setiap pekan. Untungnya jadwal kami tak sama. Biasanya, hasil eksperimen baru bisa didapat menjelang weekend, jadi finishing dari preparasi lab meeting baru bisa dilakukan setelah data eksperimen didapat.

Sehingga ke-riweuh-an mulai terasa di waktu-waktu menjelang Jumat dan Sabtu. Slide belum beres lah, data belum diolah lah, mata tak bersahabat lah, dan banyak hal lain yang cukup membuat kami was-was tentang bagaimana lab meeting esok hari. Dan di saat yang sama, Daehan meminta untuk ditemani dan diajak bermain. Di satu-dua kesempatan, ia maunya digendong sembari diajak main. Otomatis kami berdua turut bermain bersama Daehan. Persiapan lab meeting baru dimulai setelah Daehan tidur.

Sebenarnya kami memang punya prinsip, bahwa saat kami sampai di rumah, semua fokus harus tercurahkan pada Daehan dan kerjaan rumah. Sebisa mungkin kerjaan lab sudah diselesaikan -seselesai mungkin- sebelum sampai rumah. Termasuk PR atau tugas lain dari Profesor. Kecuali memang eksperimen yang ada di luar kontrol kami.

Eksperimen saya termasuk yang tidak rutin karena bergantung permintaan proyek. Tapi, sekali eksperimen memang harus menghabiskan dua hari semalam full di lab. Istri, jika Profesornya tetiba memberinya due date lebih awal, atau kuantitas hasil yang diinginkan diperbanyak, maka eksperimen di malam hari mau ga mau harus dilakoni.

Jadi, memang sedari awal kami berkomitmen tidak membawa kerjaan lagi ke rumah. Saat pulang adalah saat bermain bersama Daehan. Jika kebetulan kami harus eksperimen di malam hari, tinggal bagaimana kongkalikong untuk menjaga Daehan.

Lalu, dinamika selanjutnya adalah saat pagi tiba. Ke-riweuh-an di waktu yang lain. Bangun tidur adalah saatnya menyelesaikan pekerjaan rumah. Dan semua harus sudah selesai sebelum Daehan bangun. Karena setelah Daehan bangun, maka fokus harus tertuju pada Daehan. Memandikan Daehan, mempersiapkan perlengkapan Daehan ‘sekolah’ di Orinijib.

Selain beberes rumah dan masak, biasanya pagi hari adalah waktu untuk jemur pakaian basah atau menyetrika. Waktunya untuk cuci piring kotor juga. Karena selama di Orinijib Daehan pakai ASIP, maka pagi hari adalah saatnya mensterilisasi botol Daehan. Pekerjaan rumah harus segera diselesaikan agar kami bebersih pribadi. Target kami setiap pagi adalah mandi sebelum memandikan Daehan. Agar setelah selesai mempersiapkan Daehan pergi ke Orinijib, kami bisa langsung berangkat ke lab.

Alhamdulillah-nya, seiring berjalannya waktu, Daehan sudah bisa diajak ‘kompromi’. Tak terbayang jika Daehan masih ber-habit seperti saat ia di tiga bulan pertama. Sebelum tidur harus digendong lama, bangun tidur nangis, baru bisa nyenyak saat matahari terbit. Terus misal harus dibersamai kerjaan lab dan rumah. Bisa bisa kami meledak setiap hari.

Setelah kami pikir-pikir, ‘timing‘-nya bisa pas juga ya. Daehan jadi lebih shaleh saat kami kembali ngelab. PertolonganNya datang memang di waktu yang tepat. Mungkin hikmahnya adalah agar kami banyak belajar bagaimana mengurus Daehan di 3 bulan pertama sehingga interaksi kami dan Daehan ‘dibuat sering’ saat itu. Lain hal dengan sekarang, dimana kami merasa bahwa kami diarahkan untuk belajar bagaimana caranya balancing yang baik antara Daehan, rumah, dan lab.

Satu hal yang ingin digarisbawahi adalah bahwa setelah dijalani, satu persatu mulai terlihat polanya. Satu persatu mulai bisa diselesaikan tantangan-tantangannya. Dulu, kami punya kekhawatiran tak terkira tentang bagaimana balancing peran yang baik. Dalam benak kami, menjadi orang tua yang juga harus menjalani studi itu tak terbayangkan akan seperti apa. Ditambah hawa-hawa ketidakpercayaan orang tua pada kami di awal-awal. Rasanya, dulu kami sering kami merasa ciut.

Tapi, Alhamdulillah, semua bisa terlewati.

Dibalik semua ke-riweuh-an itu, kami mendapat ‘sesuatu’ yang lain. Sekarang mood kami selalu naik saat waktu beres ngelab menjelang. Rasanya selalu ingin segera pulang. Karena saat kami pulang, akan ada Daehan yang menyambut kami dengan senyuman manisnya. Senyum Daehan itu pelipur lara banget lah. Kepenatan selama di lab seketika hilang saat kami melihat senyum Daehan. Serius.

Bagi kami, bermain bersama Daehan adalah waktu-waktu bahagia. Selalu ada tawa setiap kali melihat tingkah lucunya. Selalu exciting melihat setiap perkembangannya. Selalu ingin maksimal setiap kali sedang bermain bersamanya. Sekarang kami merasa, kami sangat sangat bersyukur diberi Daehan di tengah-tengah aktivitas keseharian kami.

Kami juga merasakan bahwa sedikit demi sedikit kami terakselerasi. Mengingat bahwa kami tak bisa seperti orang tua lain yang waktu bersama anaknya lebih banyak, maka kami harus upgrade diri agar kualitas dan kuantitas kami dalam mengerjakan suatu hal menjadi lebih baik dan lebih cepat. Sehingga tak ada cerita waktu bersama Daehan terganggu oleh sesuatu yang lain. Karena kami ingin, saat kami bisa bersama Daehan, semua yang ada dalam diri kami tercurah padanya. Mengganti waktu bersama Daehan yang ‘terenggut’ dengan memaksimalkan waktu yang ada.

Keseharian kami memang berdinamika, namun selalu ada banyak hal yang bisa kami jadikan sumber-sumber bahagia.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: