Darinya, Aku Belajar

Aku banyak belajar darinya. Selama ini.

Bahwan memang, pertama, tidak akan ada hasil maksimal, terlebih untuk hasil yang diharapkan, jika tidak didahului oleh usaha mati-matian hingga titik kritis dari usaha tersebut. Memang terkadang, banyak kenyamanan pribadi yang harus dikorbankan. Tidur misal. Aku, dengan segala harapan dan target yang kumiliki, terkadang masih belum mampu menekan rasa kantuk yang datang. Beberapa kali bahkan mengizinkan mata ini untuk terpejam.

Darinya aku belajar, bahwa jika kamu memang hendak mencapai apa yang kamu harap, mulailah untuk berdamai dengan nafsu yang kamu miliki. Tidak dengan mengizinkannya mendominasi, namun dengan meredam hingga ia tak muncul kembali. Dimulai dari bijak dalam mengatur rentang waktu tidur harian, salah satunya.

Hal lain, merawat masa depan dengan cerdas mengelola prioritas. Lagi-lagi ini berhubungan dengan kenyamanan pribadi. Entah mengapa, hal-hal pendistrak tak mau berhenti menghampiri. Tahu aku mudah terdistrak, mungkin. Sehingga banyak prioritas yang kacau atau gagal terealisasi.

Darinya aku belajar, bahwa prioritas bukanlah sesuatu yang hanya dijadikan pajangan memori atau coretan hitam di atas kertas saja. Tapi, ia punya hak untuk dipenuhi. Untuk diistimewakan, melebihi perlakuan spesial pada pendistrak-pendistrak tadi. Saat kamu punya mimpi yang ingin diraih, mulailah untuk belajar cakap mengatur prioritas, dimulai dari tegas mengatakan tidak pada pendistrak-pendistrak tadi.

Dan kedua, yang paling penting, terbukti bahwa tidak jarang faktor x lah yang seringkali justru menentukan akhir dari sesuatu yang diusahakan tadi. Faktor x bisa didefinisikan sebagai invisible hand dari Dzat yang Kuasa atas segala sesuatu, Allah SWT. Dengan pemahaman yang aku miliki hingga saat ini, dengan nasihat bijak yang sering masuk ke telinga ini, dan dengan segala pengalaman pribadi ataupun orang lain yang kutahu hingga detik ini, aku tahu, bahwa faktor x ini adalah sesuatu hal mutlak yang pasti hadir. Namun, seringkali aku bengal atas hal ini. Merasa bahwa mengusahakan sesuatu sendiri lebih membuat tenang dibanding mengusahakan diri ini pantas ditolong faktor x tadi.

Padahal, aku pernah merasakan dahsyatnya faktor x ini. Saat kegelisahan dan keputusasaan hadir di ujian masuk universitas dulu, ternyata, aku diizinkan mengenyam pendidikan di Kampus Gajah ini. Saat ketidakyakinan dan kepasrahan hadir ketika hendak berkunjung ke Negeri Dua Benua dulu, ternyata, aku diizinkan untuk melihat keindahan Masjid Biru. Apalagi yang membuat hal ini terjadi selain faktor x tadi?

Aku pernah merasakan, namun kini seolah melupakan.

Darinya aku belajar, bahwa faktor x merupakan bagian terpenting dalam mengarungi lautan hidup. Mengusahakan untuk mendapatkannya tak kalah penting. Tentu, semua tahu, bahwa tak mungkin faktor x ini hadir dengan sendirinya. Diperlukan sebuah proposal yang harus diajukan. Proposal yang menunjukkan bahwa kamu pantas dihampiri faktor x tadi.

Banyak jenis proposal yang dapat diajukan. Kusoroti salah satunya saja, amal yaumiyah. Amal yaumiyah, atau dalam bahasa lain, amalan sehari-hari. Hal yang dekat dengan keseharian, namun terkadang dinomorduakan. Terkadang. Padahal, ini indikator paling mudah yang dapat dilihat. Ini tidak mutlak berimplikasi, memang. Banyak variabel penentu lain yang hanya diketahui oleh Nya. Tapi setidaknya ini hal terdekat, termudah untuk diusahakan, agar kualitasnya bertahan minimal.

Darinya aku belajar, akan pentingnya menjaga kualitas amal yaumiyah. Hal terdekat. Shalat tepat waktu, tilawah tetap dalam standar, menjaga konsistensi shalat malam, shalat dhuha, shalat rawatib. Dan berbagai hal lainnya. Banyak hal yang ia perlihatkan bahwa pertolongan yang datang dari arah yang tidak disangka seringkali datang tanpa diminta. Mungkin salah satu penyebabnya adalah terjaganya amal yaumiyah tadi.

Sekali lagi, banyak hal yang aku pelajari darinya.

Dan masa depan, adalah saat dimana aku akan menunjukkan bahwa aku akan menjadi lebih baik darinya. Dan harus lebih baik darinya, InsyaaLlah.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: