Daehan tanpa Eomma

Ceritanya beberapa waktu lalu, Daehan dengan berat hati harus terpisah dari eomma nya selama kurang lebih enam hari lima malam karena eomma dapat mandat presentasi di sebuah conference di US. Plan awal-awal sebenernya Daehan mau dibawa ke sana dan saya pun ikut menemani. Tapi karena pengurusan visa nya ribet, babeh (baca: supervisor) saya nagih paper mulu, dan biaya perjalanan (kalo bertiga) yang bisa membuat saldo tabungan jadi nol, saya jadinya tak bisa menemani. Otomatis, Daehan pun tak bisa dibawa ke sana. Yah, alasan sederhana, nanti siapa yang bakal jaga Daehan saat eomma presentasi dan harus ikut sesi sana-sini?

Buat para pahmud yang tau harus tinggal berdua dengan anaknya yang masih mimi ASI, tentu mungkin akan merasakan ketegangan yang luar biasa. Eh, gatau denk. Tapi saya sih tegang sangat waktu itu. Karena memang, untuk kasus-kasus tertentu, ada hal-hal yang tak bisa digantikan perannya oleh seorang ayah. Salah satunya ya perkara menyusui ini. Terlebih, saya takut Daehan tiba-tiba tidak merasakan “kelembutan eomma” seperti biasanya, terus dia akhirnya merasa tidak nyaman, lalu pundung, lalu kesal, dan jadinya berbalik membenci saya. Saya kan jadinya khawatir kalau harus masuk skenario drama seperti itu.

Tapi la haula saja lah. Dua hal yang selalu kami pegang: pertama, kadar ujian tidak akan melebihi kadar kemampuan. Kedua, akan selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Sejauh dari apa-apa yang telah kami alami, mulai dari lika-liku menuju pernikahan, lalu perjalanan hidup di Korea, kemudian saat Daehan di rumah sakit, hal-hal yang terlihat sulit di awal, dengan izin-Nya, alhamdulillah pada akhirnya berhasil kami lewati juga. Ketika kami mencoba memejamkan mata sejenak di setiap akhir peristiwa yang telah kami lewati, hikmah demi hikmah pun mengalir. Dari sana kami merasa, bahwa untuk ujian kali ini pun, in syaa Allah akan ada kekuatan yang membersamai langkah kami.

Daehan harus ditinggalkan eomma nya tepat saat ia menginjak usia 20 bulan. Saat opsi ‘menyapih’ terlontar dalam pikiran kami, sesaat itu juga kami juga berpikir, waduh it’s too early. Nanggung kalo harus disapih di saat 4 bulan ke depan usianya akan genap 2 tahun. Terlebih, Daehan belum bisa diajak dialog properly. Kami khawatir, kalo pun kami harus menyapih Daehan by force, akan ada ‘ending’ yang tidak kami harapkan terjadi.

Konklusi kami berujung pada usaha kami mengurangi intensitas mimi Daehan. Dimulai dari kasih susu via botol, buat dia kenyang terus, hingga menjauhkan dia dari bantal. Soalnya, kalau lihat bantal, dia langsung inget mimi. Dan tentunya, selalu mengajak dia beraktivitas, dengan main, cerita, nyanyi, jalan-jalan. Alhamdulillah, kami bisa sedikit mengurangi intensitas mimi Daehan di siang hari. Tapi, kami masih belum bisa membuat Daehan lupa mimi di malam hari saat ia tidur. Pernah mencoba kasih Daehan susu botol saat dia kebangun di malam hari, tapi tak berhasil.

Terus ada satu kebingungan lagi muncul. Di saat-saat itu, saya harus in charge eksperimen di lab. Kebetulan bulan kemarin sedang ada proyek. Eksperimen di lab saya demands kehadiran all day karena sifat eksperimen nya yang time dependent. Untungnya, saya kebagian hanya satu hari lembur. Tapi tetap, Daehan harus sama siapa saat saya sedang di lab?

Di tengah kebingungan itu, satu jawaban hadir. Alhamdulillah Ibu bersedia menemani saya dan Daehan di sini. Ibu datang sekitar 3 pekan sebelum istri berangkat. Dengan harapan, selama rentang waktu itu, Daehan bisa get along sama neneknya. Jadi, di hari saat saya harus tidak bersama Daehan, neneknya bisa bantu jagain Daehan.

Awalnya kami khawatir, karena biasanya Daehan manja kalau lagi di rumah. Takutnya Daehan malah bikin Ibu repot. Tapi ada satu harapan yang setidaknya membuat kami sedikit tenang: Daehan tipikal anak yang tak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Jadi kami pikir, dalam waktu yang tak lama, Daehan akan mau diajak main berdua saja sama neneknya. Mungkin karena sedari kecil Daehan di Orinijib dan bertemu banyak orang, jadinya dia mudah beradaptasi. Ini juga salah satu hikmah yang kami temukan dibalik pertentangan batin kami memasukkan Daehan ke Orinijib waktu itu atas apa yang harus kami hadapi kali ini.

Setelah hari demi hari kami jalani, kami menemukan sesuatu, bahwa ternyata sifat manjanya Daehan muncul kalau lagi bareng eomma appa nya doank. Setiap kali kami bertanya ke Ibu tentang gimana keseharian Daehan saat sedang bareng Ibu, Ibu selalu bilang Daehan anteng kalau main dan nurut kalau diminta melakukan sesuatu. So, yah mungkin Daehan hanya ingin mengekspresikan kerinduan pada ortunya dengan manjanya itu. Bagaimanapun, anak kecil juga punya perasaan after all.

Hari pertama Daehan ditinggal eomma, adalah hari dimana semua ketegangan yang terpikirkan sebelumnya mulai masuk ke dunia realita. Tapi kemudian ketegangan itu sedikit demi sedikit meluntur saat melihat Daehan anteng bermain seperti biasa. Satu hal yang jadi remarkable: dia ga manja. Terus perkiraan awal dimana Daehan akan cari mimi eomma so badly juga ternyata tidak. Sesekali lihat Daehan celingak-celinguk sih. Mungkin lagi cari eomma nya. Tapi saat ia tau eomma ga di sana, ia kembali main seperti biasa. Daehan mau diajak makan, juga dikasi minum susu, walau porsinya tak seperti biasanya karena waktu itu ia lagi flu.

Ah iya, setiap kali menyaksikan Daehan sakit sedang main tapi tak ada eomma around tuh suka jadi sedih liatnya. Di mata saya, ia seperti lagi berusaha tegar. What a strong boy kamu nak. Kadang suka ingin bilang ke Daehan,

Kamu sabar ya nak. Ini ujian bukan buat Daehan doank, tapi buat appa sekarang dan eomma juga yang mungkin sekarang lagi khawatir ga tenang karena ninggalin Daehan di sini.

Ujian pertama muncul di malam pertama Daehan ga bareng eomma. Seperti biasa, tengah malam Daehan bangun, mungkin karena haus. Daehan yang biasanya langsung dikasi mimi eomma saat terbangun, kini bertemu hal yang mungkin buat ia tidak biasa. Dia pun menangis cukup keras. Saat itu, neneknya berusaha gendong Daehan, tapi Daehan nya gamau. Setelah saya coba gendong, akhirnya ia mau. Tapi beberapa saat setelah digendong, ia minta direbahkan di kasur. Sesaat setelah direbahkan di kasur, ia minta digendong lagi. Dan terus looping seperti itu. Hingga sampai di satu titik dimana saya bener-bener sudah hampir meledak waktu itu. Akhirnya, setelah ia kelihatan capek, ia pun terdiam dan tertidur tak lama setelah itu, dalam gendongan.

Setelah itu, setiap malam dan waktu tidur tiba, ia selalu menghampiri saya dan minta saya gendong. Alhamdulillah hari kedua dan seterusnya Daehan mulai bisa beradaptasi sama situasi. Malam kedua Daehan bisa tidur tanpa drama. Di malam ketiga sempat nge-drama, tapi tak seperti hari pertama. Malam keempat dan seterusnya, semua kembali normal. Kalau ia terbangun di tengah malam pun, ia mau diajak keluar untuk minum air dan susu. Sehabis itu, dia tidur lagi. Sesekali pernah minta ditemani main sebentar, lalu tak lama setelah itu minta digendong dan tidur lagi.

Satu hikmah yang saya dapat dari 5 malam tanpa eomma itu adalah Daehan jadinya lebih dekat dengan saya. Saya, yang biasanya hanya seorang figuran kala eomma ada, jadinya serasa berperan jadi aktor utama buat Daehan sekarang. Yah ada aja cara Allah mendekatkan ayah dan anak. Sekarang, saat Daehan minta saya buat menemani dia main, atau minta melakukan sesuatu, saya merasa seperti sedang jadi Superman buat Daehan. And I am really excited!

Hikmah lainnya adalah saya menyadari betapa melelahkannya pekerjaan seorang ibu. Saya merasa, aktivitas mengurus Daehan dari mulai dia bangun tidur, makan, kasih susu, ganti baju, ganti diaper, temenin Daehan main, hingga nidurin Daehan lagi itu sungguh menguras tak hanya tenaga, tapi juga pikiran. Saya yang biasa selow ae tentang makan Daehan, jadi tetiba kepikiran dan harus memikirkan “Daehan makan apa ya ntar”. Saya juga yang biasa selow ajah setiap pagi, jadinya selalu dibisiki ganti diaper Daehan, siapin baju yang mau dipake Daehan sekolah, jangan lupa kasih sarapan, dan lain sebagainya. Buat saya yang biasanya rely on istri atau hanya ikut bantu istri saat ia sedang taking action, sungguh itu sesuatu hal yang sangat baru. Dan karena pertama kali berdiri di posisi istri yang harus selalu peka atas segala hal yang terjadi pada Daehan dan harus selalu bertindak inisiatif accordingly, it is really tiring. Even itu mungkin untuk hal yang sepele.

Yap, saya sepakat bahwa the best job ever itu adalah seorang ibu. Karena yang dia investasikan sungguh tidak ternilai. Job ibu tidak sesimpel kasih makan-mimi atau ganti diaper doank. Ada banyak hal yang tak bisa diungkapkan dari job seorang ibu. Terlebih produk dari seorang ibu itu longlast, tak hanya di dunia tapi juga sampai akhirat. Dan dari peristiwa ini, saya baru menyadari, bahwa ternyata istri menghadapi apa yang saya alami kemarin itu setiap hari. Ditambah side-job dia sebagai seorang researcher, so it must be very tiring.

Nah, jadinya makin cinta kan sama istri.

Pengalaman tak terlupakan bersama Daehan kemarin mengajari kami, saya terutama, banyak hal. Banyak hikmah bertebaran yang bisa kami ambil. On top of that, kami berharap setiap ujian yang Daehan hadapi ini bisa membuatnya jadi kuat di masa yang akan datang.

Daehanie, saranghae!

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: