Bertemu Kembali

4.5 bulan.

Kurang lebih empat setengah bulan, saya meninggalkannya sendirian di sana. Di negeri orang, di mana tak ada kerabat yang mendampinginya, juga yang hadir di sisinya. Tak ada yang menyambutnya dengan senyum saat ia pulang ke rumah. Tak ada orang yang dapat ia mintai tolong tanpa rasa segan terhadapnya. Tak ada yang memberinya sandaran saat ia membutuhkan sandaran di waktu-waktu sulitnya. Juga, tak ada yang menjaga di sisinya saat ia sakit.

Masa-masa yang saya tahu, cukup berat baginya.

4.5 bulan.

Kurang lebih empat setengah bulan, saya tak bertemu fisik dengannya. Interval waktu yang cukup membuat saya lupa bagaimana rasanya merangkul atau menggenggam tangannya. Pertemuan via maya dirasa memang cukup untuk mengobati rindu, namun tidak menjawab keinginan untuk bertemu. Terlebih lagi, ada kewajiban saya yang tak tertunaikan secara optimal. Kewajiban untuk menjaganya sepenuh hati, hadir di sisinya saat ia membutuhkan, dan menafkahinya secara langsung. Bagi saya saja yang seorang pria, terpisahkan oleh ruang dan waktu cukup membuat hati tak karuan, apalagi baginya yang seorang wanita.

Masa-masa yang saya tahu, cukup berat baginya.

Namun, dalam 4.5 bulan ini saya mengakui satu hal. Bahwa di mata saya, ia adalah wanita yang hebat. Keberanian, ketegaran, dan kesabaran yang saya sangat kagum atasnya. Yang atas izin Allah, membuatnya berhasil melewati semua lika-liku kehidupan di sana seorang diri. Di saat seharusnya ia sangat berhak atas pendampingan saya dalam melewati hari-harinya.

Tentunya, tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi. Harus berjauhan beberapa saat setelah pernikahan. Siapapun. Termasuk saya.

Namun kehendak Allah di atas segalanya. Tentu tak ada yang berhak menolaknya. Allah Sang Maha Memperhitungkan, tentunya menyediakan segudang hikmah di balik segala ketetapanNya. Saya merasakan, bahwa ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan dibalik ketentuan yang telah Ia tetapkan ini. Tentang komitmen, tentang kepekaan, tentang merancang visi ke depan, tentang kesabaran, tentang berakhlak baik padanya, dan tentang perenungan lainnya.

Semuanya merupakan ketentuan Allah. Termasuk akhirnya, saya dapat betemu kembali dengannya setelah kurang lebih 4.5 bulan lamanya. Alhamdulillah.

Di titik ini, saya seperti merasakan sesuatu. Mungkin seperti sebuah harap, bahwa saya tidak akan kembali meninggalkan dia sendirian lagi. Ingin terus mendampinginya, dimanapun dan sampai kapanpun. Aamiin. In Syaa Allah.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: