Bersua dengan Ramadhan

Setiap kali bersua dengan Ramadhan, entah kenapa hati ini selalu tertunduk malu, tak ada kuasa mengangkat wajah. Padahal, ini bukan kali pertama bertemu. Setiap tahun, raga ini dijumpakan dengannya secara langsung. Namun, setiap tahun pula hati ini merasa tidak siap kala hendak berjalan menghampirinya.

Melihat goresan tinta masa silam, betapa Rasul dan para sahabat sangat bersuka cita menyambut Ramadhan. Raut gembira tertampak jelas di setiap wajah beliau-beliau, para penyambut Ramadhan. Segala macam persiapan dilakukan, demi meraup keberkahan tak terhitung dan pahala berlipat-lipat selama Ramadhan hadir di sisi.

Terkadang, rasa iri menghantui ketika melihat Rasul dan para sahabat mengencangkan ikat pinggang sedari jauh. Mempersiapkan sebaik mungkin jiwa dan raga agar berdiri dengan kondisi terbaik saat membersamai Ramadhan. Memperbanyak shaum sunnah, berlama dengan qiyam, bermaafan dengan sesama, saling bertukar nasihat, serta segudang amalan lain yang dipersiapkan sebelumnya, agar saat Ramadhan tiba, semua telah terbiasa. Sedangkan saat ini, diri ini hanya bisa tertegun, terdiam, merasa sangat jauh dari yang dicontohkan.

Tolong maafkan diri ini, Ramadhan. Karena tidak memberikan sambutan terbaik. Tolong maafkan diri ini, Ramadhan. Karena telah disibukkan oleh urusan yang melalaikan. Tolong maafkan diri ini, Ramadhan. Karena menolak ingat serangkaian ajaran Rasul dalam mempersiapkan diri sebelum bertemu denganmu. Tolong maafkan diri ini, Ramadhan. Karena pura-pura lupa bahwa sejuta keberkahan dan selebar pintu surga terbuka lebar bersamaan dengan saat kau datang.

Ramadhan, izinkan diri ini menambal sulam setiap lubang di banyak bagian pada ladang persiapan di belakang. Izinkan diri ini untuk memaksimalkan setiap peluang pahala yang tersedia di depan. Iya, memang. Terlambat sudah tak bisa dipungkiri, tetapi lebih baik dari tidak sama sekali.

Berharap, nafsu yang liar itu dapat didewasakan, jiwa yang kotor itu dapat dibersihkan, dan ego yang picik itu dapat dicerdaskan, bersamaan dengan hadirnya dirimu, wahai Ramadhan. Ingin sekali lidah ini berucap, bahwa kebersamaanmu di tahun ini akan menjadi catatan terbaik sepanjang nafas ini dihirup. Namun, benak ini khawatir, khawatir jika semua ini hanya berakhir menjadi cerita. Biarlah tekad yang memastikan bahwa semua harap dapat dipastikan terlaksana. Sebuah harap agar berakhir dengan sebuah kepuasan, karena tak menjadikan kebersamaan dengan Ramadhan menjadi sia-sia.

Bak air hujan yang mengalir membasahi tanah dan menumbuhkan tanaman, semoga kebersamaan dengan Ramadhan di tahun ini membuka jalan tumbuhnya benih-benih kebaikan dan kebermanfaatan. Tak hanya bertumbuh, namun juga berbuah. Bukan hanya untuk diri pribadi, melainkan juga untuk orang lain.

Terima kasih, Rabb. Engkau bermurah hati memberi izin diri ini untuk bersua kembali dengan Ramadhan.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: