Berjelajah di Istanbul

Sambungan dari GIM Conference

 

31 Mei 2013

Pagi di hari pertama pasca konferensi beres diisi dengan ngenet. Maklum, internet KJRI cukup lancar, apalagi area lantai 2. Kenceng banget. Yah biasa lah. Balas-balas mention dan sesekali respon notifikasi grup. Tapi saat itu tidak bisa berlama-lama terlarut dalam dunia maya, karena kami sudah punya rencana untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Turki.

Saat hari sudah mulai menjelang siang, saya bergegas mandi dan berbenah diri. Sebelum berangkat, kami semua berkumpul di ruang keluarga di lantai 4 KJRI. Oya, KJRI itu Konsulat Jendral Republik Indonesia. Simpelnya KBRI tingkat kota. Perjalanan kami akan dipandu oleh kawan kami dari PPI Istanbul. Target kunjungan kami adalah Hagia Sophia, Sultan Ahmed Camii, dan Tokapi Palace.

Perjalanan kami lalui dengan menggunakan Tram. Tujuan kami adalah Sultanahmet. Di area tersebut lah ketiga tempat yang akan kami tuju berada.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11. Di sana, waktu Zuhur itu sekitar pukul 1 siang. Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar sembari menunggu salat Jumat, kemudian berkumpul kembali di taman depan Hagia Sophia setelah salat Jumat usai.

Oke. Saatnya berfoto ria.

Setelah kami berpencar, saya bersama beberapa kawan, sebutlah Yayang, Arief, Sabilil, Ghozie, Jhovy mencari spot yang oke untuk take foto.  Pilihan pertama kami adalah area di depan Blue Mosque. Di situ terdapat bangku yang tersusun rapi. Fungsinya sebagai tempat istirahat para turis dan spot baik untuk melihat keindahan Hagia Sophia dan Blue Mosque.

Di sela-sela waktu tunggu kami, kami mengunjungi toko penjual dondurma, es krim yang jika dibalik ia takkan jatuh. Harga es krim ini 7 TL atau setara kira-kira dengan Rp35.000,00. Ya, cukup mahal memang untuk ukuran orang Indonesia yang biasa beli es corong cuma goceng doank. Es krimnya terdiri dari kompilasi beberapa macam rasa. Ah, iya. Sebelum dondurma tadi sampai di tangan, penjual melakukan ‘atraksi’ yang menunjukkan keunggulan dari es krim ini. Ia ‘mempermainkan’ para pembeli dengan membuat seolah-olah es krim akan jatuh padahal ia tetap melekat di corongnya. Sok-sok memakai gaya bartender pula. Yah tapi lumayan lah untuk hiburan.

Kemegahan Blue Mosque

Waktu zuhur tiba. Terlihat sudah banyak para lelaki yang berbondong-bondong memasuki gerbang Blue Mosque. FYI, Blue Mosque ini memiliki dua fungsi: tempat salat dan tempat pariwisata. Di lain waktu salat, masjid ini dibuka untuk umum dan semua turis diperbolehkan masuk untuk menikmati keindahan masjid. Namun, saat memasuki waktu salat, gerbang hanya dibuka untuk Muslim yang hendak menunaikan salat. Setiap turis yang hendak memasuki masjid ini pun harus menggunakan pakaian yang sopan, khususnya untuk wanita harus memakai penutup kepala.

Memasuki Blue Mosque, saya terpana. Masjidnya sangat luas, tapi lebih dari itu, nilai sejarah yang dimiliki oleh masjid ini sangat tinggi. Di langit-langit dihiasi oleh lampu yang tergantung, di lantai seluruh sudut ditutupi oleh karpet yang empuk. Selintas terbesit dalam pikiran, kayaknya asik nih kalor itikaf di sini.

Di pintu masuk masjid, terdapat petugas yang memberikan kantung plastik untuk menyimpan sandal. Berbeda dengan masjid di Indonesia yang menyediakan jasa penitipan sepatu, di Turki sepatu di bawa ke dalam masjid, dimasukkan ke dalam kantung plastik yang diberi di pintu masuk, kemudian disimpan di tempat sepatu yang disediakan di sisi masjid, lingkaran pilar masjid, dan rak dekat pintu masjid. Tentunya, tanggung jawab ditanggung masing-masing pemilik sepatu.

Saat hendak mencari tempat duduk, sudah terdengar speaker masjid mengeraskan suara seseorang yang berbicara dalam bahasa Turki. Saya kira saat itu telah masuk khutbah, ternyata setelah beberapa lama, tiba-tiba azan berkumandang. Ternyata, belum masuk khutbah. Mungkin orang yang berbicara dalam bahasa Turki tadi sedang memberikan pengumuman atau semacamnya kali ya. Tapi panjang banget.

Topkapi Palace

Seperti yang telah disepakati sebelumnya, selesai salat Jumat, semua berkumpul di taman antara Hagia Sophia dan Blue Mosque. Beberapa sudah di tempat saat saya sampai di sana, namun ada beberapa yang masih belum terlihat batang hidungnya. Beberapa pun ada yang sudah mulai kesal karena seharusnya kami sudah mulai beranjak ke tujuan kami selanjutnya, Topkapi Palace.

Harga tiket masuk Topkapi Palace 25TL atau kira-kira sekitar Rp.125.000,00. Untuk pelajar yang sedang mengenyam pendidikan di Turki, tempat-tempat seperti museum ini digratiskan. Mereka diberi semacam kartu yang menjadi pass untuk masuk beberapa tempat yang dapat menunjang pendidikan mereka.

Topkapi Palace ini merupakan bekas istana kesultanan pada zaman kekhalifahan Utsmani. Istananya sangat megah. Jarak dari pintu masuk istana ke istana itu sendiri cukup jauh. Namun, di sekelilingnya dihiasi pemandangan yang worth untuk dilihat.

Di dalam sana terdapat peninggalan-peninggalan kesultanan dan kenabian. Jubah sultan, pedang sultan, kemegahan masa itu, silsilah kerajaan, dan lain-lain ditampilkan di sana. Selain itu, replika pedang Nabi dan sahabat, serta peninggalan nabi-nabi sebelumnya ditampilkan juga di sana. Sayangnya, pengunjung dilarang mengambil gambar di dalam. Jadi, semua konten yang ada di dalam museum tersebut hanya bisa dinikmati sendiri. Tapi cukup menjadi motivasi untuk mengajak pasangan untuk melihat isi Topkapi Palace suatu saat nanti.

Ternyata, berkeliling di dalam istana membuat waktu berjalan cukup jauh. Tak terasa, sudah hampir memasuki jam tutup museum. Melihat jam, sepertinya tak cukup waktu jika harus berkunjung ke Hagia Sophia. Di samping menurut tuntunan guide kami, tidak terlalu urgen mengunjungi Hagia Sophia. Di dalamnya hanya ada kaligrafi-kaligrafi yang bersandingan dengan Bunda Maria.

Kembali, ini memotivasi untuk kembali mengunjungi Turki dan masuk Hagia Sophia bersama pasangan suatu saat nanti.

Setelah itu, kami pun pulang ke KJRI.

Berbelanja di Grand Bazaar

1 Juni 2013

Hari selanjutnya, shopping time!

Tujuan kami adalah tempat di mana dijual banyak sekali oleh-oleh khas Turki, Grand Bazaar. Karena saya harus mengantar Kang Deden pulang ke Indonesia, saya bersama Kang Ihsan, Firdaus, dan Yahya memisahkan diri dari rombongan yang hendak berbelanja ke sana. Niatnya, setelah selesai mengantar Kang Deden ke Bandara Attaturk, kami akan menyusul rombongan ke Grand Bazaar.

Di Grand Bazaar, kesan pertama saya adalah, wew!

Tempatnya luas, banyak barang yang dijajakan, dan yang paling sesuatu adalah Grand Bazaar penuh sesak oleh pengunjung.

Saya, Yahya, Fidaus, dan Kang Ihsan pun berkeliling. Saya mulai liat notes di dalam HP list barang-barang yang kira-kira bakal dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat. Setelah dilihat, banyak juga ya. Mulai mengkalkulasi ala sempoa deh antara kebutuhan dengan kemampuan dalam dompet.

Satu event menarik yang terkenang buat saya pribadi adalah saat kami berkunjung ke toko penjual sejadah. Di sana kami disambut ramah oleh penjual. Penjualnya friendly, asyik diajak ngobrol, dan sangat antusias. Beberapa jenis sajadah dan karpet diperlihatkan kepada kami. Dengan sedikit atraksi memutar sejadah yang ia pertontonkan, interaksi kami yang bermula hanya sekedar hubungan antara penjual dan pembeli mulai beralih menjadi bak seorang kawan. Ia memutar sajadah dengan tujuan ingin memperlihatkan bahwa sajadah handmade yang ia tunjukkan dapat berubah warna. Cool.

Saat kami bertanya, berapa harga sajadah itu, ia berkata 150TL. Wew! Bekal makan gue selama di sini tuh! Ternyata memang sajadah itu terbuat dari sutera. Akhirnya kami berpikir dua kali. Jangan-jangan jenis lain yang ia tunjukkan juga bernilai tak jauh dari yang pertama tadi. Dan ternyata, benar.

Akhirnya kami mencoba menawar dan meminta jenis lain. Si penjual bertanya, sajadah di sekitaran harga berapa yang kami inginkan. Bagus juga strateginya. Tidak memberi pilihan untuk bilang tidak jadi. Setelah chit-chat sebentar, akhirnya saya memutuskan beli satu sajadah seharga 25TL untuk di rumah. Sekalian buah tangan untuk mami-papi.

Kemudian kami lanjut berkeliling. Target saya selanjutnya adalah buah tangan buat kawan dan kerabat dekat. Dan yang terpenting untuk donatur. Di perjalanan, mata saya teralihkan oleh sebuah replika Blue Mosque dan Hagia Sophia dalam berbagai macam bentuk. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk membeli 1 buah replika yang berukuran besar, 2 buah replika yang berukuran kecil. Awalnya mau sekalian mencari gantungan kunci, oleh-oleh standar travelling. Namun, karena satu-dua hal, kami memutuskan besok lagi saja.

2 Juni 2013

Hari terakhir berjelajah di Istanbul. Pasalnya, esoknya saya harus pulang dengan beberapa kawan yang memang mendapat jatah pulang di tanggal 3 Juli.

Di hari ini, saya berencana melanjutkan shopping yang tertunda. Hari ini, saya dan beberapa kawan yang berencana sama, ditemani oleh kawan Teh Lino yang sedang kuliah di Turki. Katanya, dia tahu tempat yang bagus buat beli oleh-oleh yang kualitasnya sama dengan Grand Bazaar, namun harganya lebih murah.

Check Point pertama kami jatuh di sebuah kios beberapa puluh meter dari Grand Bazar. Di sana jual gantungan kunci dan replika masjid. Setelah dicek, ternyata benar, harga replika lebih murah 5-10TL dibanding dengan yang dijual di Grand Bazar. Tau gitu kemarin beli di sini.

Di sini saya membeli 1 replika masjid berukuran kecil dan sebuah gelas unik. Rencananya saya bakal kasih barang-barang ini buat adik.

Setelah selesai di sana, kami diantar ke tempat beli gantungan kunci yang lain. Tempatnya tepat di samping Grand Bazar. Di sana saya menemukan aneka gantungan kunci yang selisih harganya sekitar 5TL dibanding Grand Bazar. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli gantungan kunci di sini. Niatnya saya membeli untuk BP KMKL. Saya juga membeli 5 buah gantungan kunci lain untuk beberapa orang spesial. Siapa? Ada deh.

Mug sudah, gantungan kunci sudah, replika masjid sudah. Tinggal pashmina. Menurut teman Teh Lino tadi, ada ragam pashmina yang bagus dijual di Eminonu. Melihat senja hampir tiba, bergegaslah kami menuju Eminonu.

Sebelum ke tempat pashmina, saya mampir ke toko yang menjual kaos. Saya lupa, saya belum beli buah tangan buat sendiri. Harus banget emang? Harus donk!

Saya membeli satu kaos oblong di satu toko, dan membeli dua Koko dan satu kaos wanita di toko yang lain. Kaos anak muda di Turki agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Anak muda Turki sangat suka dengan pakaian yang pas dengan badan mereka. Tak heran, saat saya membeli kaos ukuran M, ukuran normal saya biasanya, ternyata saat dipakai kaosnya sangat ngepas banget.

Satu Koko saya akan hadiahkan untuk Babeh. Dan satu kaos wanita saya akan hadiahkan untuk adik saya yang pertama.  Tinggal hadiah untuk Mamih, ya pashmina itu.

Sesampai di tempat pashmina, ternyata menurut kawan Teh Lino, dengan kualitas barang yang seperti itu, ada tempat lain dekat flat nya yang harganya lebih murah. Di sana kami bimbang, satu sisi kami harus menghemat, sisi yang lain besok kami harus pulang dan tidak ada waktu lagi. Akhirnya kami berakhir pada kesimpulan, kami menitipkan uang kepada kawan Teh Lino, meminta dia untuk membeli pashmina tersebut, dan esok hari sebelum pulang, kami ambil. Semua sepakat.

Saya pun menitipkan uang untuk membeli dua buah pashmina. Satu untuk Mamih, satu lagi untuk kawan. Ya, kawan.

Bersiap untuk Pulang

Berakhirlah hari terakhir kami di Istanbul. Esok hari kami tidak dapat berjelajah lagi, karena pagi hari harus packing, dan siang harinya harus segera menuju bandara. Sesampai di KJRI, saya melihat ulang semua buah tangan yang sudah dibeli, mengeceknya, dan mengepaknya agar besok tidak terlalu riweuh.

Malam semakin larut, mata semakin meredup, saya pun memutuskan untuk tidur.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: