Belajar Mencintai

Ada satu hal yang menangkap titik perhatianku, akhir-akhir ini. Aku menemukan satu hal, yang baru kusadari ternyata cukup menyita pikiranku. Walaupun begitu, aku merasa aku tak terbebani dengan hal itu. Sungguh. Malah, jika kamu tahu, semakin lama, hal itu semakin ingin aku dalami.

Kamu tahu apa itu? Belajar mencintai.

Sejak Lembar Baru itu terbuka, ruang pikiranku bertambah satu. Satu tabir yang sebelumnya tak kusadari berada di situ, kini tertampak dengan sendirinya. Menyingkap satu ruang kosong, dimana namamu tertulis jelas dan tegas di salah satu dindingnya. Bahwa kini, ada satu ruang lagi yang harus kuisi. Ruang milikku yang telah ada, kuisi dengan apa yang orang lain bilang itu kedewasaan. Sedangkan ruang milikmu yang baru ada, kuisi dengan apa yang orang lain bilang itu cinta.

Aku selalu merasa, bahwa cinta, adalah sesuatu yang harus senantiasa diusahakan, disemai dan jaga kesegarannya setiap hari. Ia tidak berdiri sendiri seperti matahari. Ia bisa memudar, pun sebaliknya, ia bisa menguat. Bergantung kadar usaha yang diberikan. Segala hal yang dapat menjaga kesegaran cinta, itu yang kusebut dengan mencintai. Dan mencintai, adalah hal yang sedang kupelajari saat ini.

Belajar mencintai, adalah ketika belajar menahan hadirnya ego. Aku mengakui, terkadang aku diselimuti perasaan ingin dimengerti. Diperlakukan seperti apa yang aku inginkan, tanpa mencoba memahami apa yang sedang dan telah kamu berikan. Padahal di sana, kamu sedang memberikan segala yang kamu punya. Jika kamu merasa egoku masih tinggi, mohon maklumi, aku sedang belajar.

Belajar mencintai, adalah ketika belajar memahami bukan dari sudut pandangku. Memosisikan diri bahwa aku sedang berada di tempatmu. Lelaki dan wanita memang diciptakan dengan pola pikir yang tidak sama. Oleh karenanya, memahami sesuatu dari tempatmu, saat ini buatku, bukanlah sesuatu yang biasa. Jika kamu merasa semua masih terserah aku, mohon maklumi, aku sedang belajar.

Belajar mencintai, adalah ketika belajar menerima segala kekurangan. Aku manusia, kamu pun manusia. Aku hadir dengan segudang ketidaksempurnaan, kamu pun demikian. Terkadang ada harapku yang bertolak belakang dengan apa yang kamu punya. Aku tahu itu sebuah kewajaran, namun terkadang aku dibutakan dengan sebuah keidealan. Jika kamu merasa sesekali aku terlihat tidak menerima kekuranganmu, mohon maklumi, aku sedang belajar.

Belajar mencintai, adalah ketika mensyukuri apa yang dimiliki dan memberikan yang terbaik dari apa yang dimiliki. Sejatinya, kamu adalah anugerah terindah yang Allah beri. Pertemuan denganmu, kesalingan rasa antarmu, dan segala cerita tentang aku dan kamu, tersurat, dan sangat layak untuk disyukuri. Namun terkadang, apa yang aku usahakan untuk kebahagiaanmu, masih tidak sepenuhnya berasal dari titik maksimalku. Jika kamu melihat aku terlihat biasa saja, mohon maklumi, aku sedang belajar.

Ya, aku sedang belajar. Belajar mencintaimu.

Aku tahu kamu seorang penyabar. Aku berharap, kamu senantiasa hidup dengan kesabaranmu itu. Aku tahu kamu seorang penyayang. Aku berharap, kamu selalu hadir di sisiku dengan kasih sayangmu itu. Aku ingin, aku yang sedang belajar mencintaimu ini, didampingi oleh sabar dan sayangmu itu.

Kamu mau kan, sayang? 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: