Being a Superman

Beberapa hari ke belakang, timeline FB, path, IG dipenuhi sama curhatan sedih dan ucapan selamat tinggal buat tripletnya Song Il Kook dari mereka para pecinta reality-variety show asal Korea, The Return of Superman. Dua tahun terakhir, saya liat ini acara emang lagi booming. Bukan cuman di Korea, tapi juga di seluruh penjuru dunia (kayaknya), termasuk di Indonesia. Dan saya termasuk salah satu yang nonton acara ini.

Dulu pertama kenal sama acara ini waktu tingkat 4 kuliah, di tengah-tengah kesibukan merampungkan TA. Awalnya sih gak ada tanggapan berlebih, biasa-biasa aja. Tapi lama-lama, setelah kepo beberapa episode di Yo*tube, ternyata rame oge. Haha. Dan akhirnya terus bertahan mengikuti episode-episodenya sampe sekarang.

Karena tak mau “teracuni” sendiri, saya coba hasut istri gradually waktu itu. Dengan kasih cuplikan, share episode, dan cerita tentang apa yang menarik dari beberapa episode waktu itu. Ternyata eh ternyata, dia terhasut! Wakaka. Istri jadi keranjingan nonton juga sampe sekarang. Bahkan dia jauh lebih update dari saya.

Menurut saya, overall, selain entertaining, acara ini cukup edukatif. Di beberapa episode, bahkan kasih banyak inspirasi. Tentang ragam interaksi yang bisa dilakukan seorang ayah terhadap anak-anaknya. Selain inspirasi buat punya anak kembar. Mengedepankan sisi yang mungkin selama ini dianggap biasa atau bahkan dipandang sebelah mata dalam dunia parenting: peran ayah. Baru pertama kali liat jenis variety-reality show kayak gini. Entertaining yet educating.

Di antara semua anak yang main di sana, dari awal tau sampe kemarin triplet hengkang, kami termasuk yang ngefans sama Song Triplet. Itu juga sebenernya yang jadi salah satu inspirasi kami menamai anak kami Daehan. Haha. Buat kami, the way Ilkook educate his children is unique. Selain itu, menyaksikan keberagaman sifat dan perilaku triplet juga jadi kegemasan tersendiri. Selalu ada cerita dan diskusi diantara kami setiap kali selesai nonton aksi-aksi mereka.

Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya highlight dari acara ini. Spesifiknya, dari episode-episode Song Triplet. Tentu apa yang ada dalam acara ini bukan sepenuhnya jadi pedoman interaksi ayah-anak dan lagian gak serekomendasi itu juga buat diikuti. Tapi dari sejauh episode-episode yang saya tonton, saya menangkap banyak hal yang bisa dijadikan hikmah dan bahan renungan sebagai seorang ayah.

First thing first, saya kagum dengan semua ayah yang main di acara ini. Mereka somehow bisa bertahan ditinggal istrinya selama kurang lebih 48 jam, mengurusi anak-anaknya yang usianya di bawah balita, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Ini keren!

Entah sayanya yang cupu atau bagaimana, atau mungkin para ayah yang punya bayi di bawah umur balita juga merasakan hal yang sama; mengurus anak seusia toddler tanpa bantuan istri itu sungguh sesuatu haha. Saya palingan durasi terlama bareng Daehan tanpa istri cuman setengah hari. Itu juga udah lumayan rempong. Gak kebayang kalo 2 hari bareng Daehan tanpa istri bakal kayak gimana. Wakaka. Keren juga ya seorang istri bisa menej semuanya. Istri saya pernah saya tinggal seharian, pas pulang saya lihat rumah aman-aman aja tuh. Daehan anteng, rumah rapi, makanan sudah siap tersedia.

Di sisi lain, saya jadi mikir, skill mengasuh anak sedari bayi memang harus dimiliki oleh seorang ayah. Terlepas dari istrinya sekolah/kerja atau gak. Kalo berkaca sama para superman ini, anak-anak mereka mampu bertahan lama bermain sama ayahnya tanpa ibunya selama dua hari menunjukkan kalo ikatan emosional antara ayah-anak sudah cukup kuat. Dan menurut saya, ini yang seharusnya jadi goal buat para ayah terhadap anak-anaknya: bonding yang kuat sama anak. Karena perkembangan anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Justru ayah yang punya andil besar dalam perkembangan motorik, sosial-emosional, dan kecerdasan sang anak. Kalo kata bunda Elly Risman, solusi permasalahan-permasalahan anak cuman satu:

Kembalikan tahta kerajaan keluarga pada Ayah!

Ayah bukan hanya seorang dermawan yang kerjaannya cuman kasih uang doank. Ayah juga bukan supir yang antar-jemput anak sekolah doank. Dan ayah juga bukan cameo yang muncul sesekali sesaat sebelum anak tidur dan berangkat sekolah doank. Ayah adalah sutradara, guru, teman, teladan, dan supeman untuk anak-anaknya. Dan untuk menjadi itu semua, tak bisa hanya mengandalkan interaksi sesekali aja. Tapi juga harus terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak di lapangan. Karena amanah suami dan ayah adalah memberikan tiket untuk istri dan anak-anaknya ke syurga. Kalo ia hanya berpangku tangan dan gak fully make sure semua on the right track, bagaimana bisa amanahnya terselesaikan maksimal? *NTMS

Satu hal yang saya dan istri kagum dari Song Triplet adalah mereka punya manner yang cukup baik (menurut kami). Saya jadi wondering bagaimana pola asuh keseluruhan mereka di rumah. Ayah artis, ibu hakim, weekdays kerja dari pagi ampe malem. I guess, sebenernya waktu mereka bersama anak-anak mereka gak sebanyak pada umumnya. Tapi mereka bisa tetep keep in touch sama anak-anak mereka. Saat bareng bapaknya mereka deket, saat bareng ibunya juga mereka deket. Dan saat bertemu orang lain, mereka tau harus ber-manner seperti apa.

Sebenernya saya melihat kemiripan mereka dengan kondisi kami sekarang, dimana kami berdua tidak selalu bersama Daehan selama waktu tertentu di weekdays. Dan juga sebuah kenyataan kalo istri terlihat jauh lebih sibuk (dari saya) haha. Dengan kondisi seperti itu, mereka masih tetep bisa mendidik anak mereka dengan baik. Saya pikir, pasti ada pola kordinasi pengasuhan antara mereka. Sejujurnya ini yang menjadi topik diskusi kami saat ini. Bagaimana di tengah keterbatasan yang ada kami mampu mengatur peran antara kami berdua, agar Daehan tumbuh menjadi anak cerdas juga punya manner yang baik.

Ide-ide Ilkook dalam memperkenalkan banyak hal pada anak-anaknya perlu dikantongi. Kalo sejauh yang saya lihat, prinsip dia adalah kenalkan dengan berbagai macam hal dan buat memori bersama anak-anaknya sebanyak mungkin.

Dipikir-pikir bener juga sih. Dalam menumbuh-kembangkan anak dari berbagai macam aspek, anak perlu dikenalkan dengan berbagai macam hal agar banyak sinapis yang terhubung ke neuron si anak sehingga cakrawala sang anak menjadi luas. Juga dikenalkan dan diajarkan berbagai macam nilai dan norma. Terutama nilai-nilai keislaman. Dari sana, kecerdasan dan manner anak bisa dibentuk dan dikembangkan. Tentu dengan bimbingan intens dan kontinu dari orang tuanya, terutama dari ayah sang lokomotif keluarga.

Melihat pendidikan anak yang ㅡsadar tak sadarㅡsangat kompleks, peran ayah benar-benar krusial. Untuk meng-habit-kan sesuatu, perlu kedisiplinan dalam membangun kebiasaannya. Kelembutan dan motor-mouth nya ibu tidak cukup untuk membangun kebiasaan. Perlu ketegasan dan father’s unique way nya ayah. Seperti misal aturan “5 menit menghadap tembok” dan “saling berpelukan setelah semua usai” nya Ilkook sewaktu anak-anaknya berkelahi. Penerapan disiplin seperti ini (salah satu contohnya) tidak akan memberi efek besar jika tidak dilakukan oleh ayah langsung.

Inspirasi dari tayangan ini, sedikit banyak mengubah mindset saya tentang peran seorang ayah. Menurut saya, ayah yang keren bukanlah yang mampu membawa uang banyak ke rumah dan membelikan anak-anak ini dan itu. Tapi, ayah yang keren adalah ia yang sangat dekat dengan anak-anaknya. Hingga di masa depan nanti, punggungnya jadi tujuan anak laki-lakinya, dan sosoknya jadi idaman anak perempuannya.

Dan untuk menjadi ayah yang keren, masih banyak yang perlu diselesaikan. Masih banyak buku yang harus dibaca, ilmu yang harus diserap, target-target pribadi yang harus dicapai, skills yang harus diasah, hal baik yang harus dibiasakan, dan segala hal tentang diri sendiri yang harus dirampungkan.

Men, ternyata banyak juga ya peernya. Tapi karena kita sedang bicara tentang keteladanan dan proyek jangka panjang hingga akhir hayat, maka memang itu semua adalah harga yang harus dibayar. Menyediakan waktu khusus interaksi dengan anak di luar waktu kerja dan terus meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang teladan mungkin sulit, tapi sangat worth it untuk masa depan anak kelak.

Yap, for those who want your children grow up to be a wonderful human being, being a superman is a must!

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: