Bagaimana Jika

Bagaimana jika tiba-tiba Rasulullah hadir di hadapan kita? Mengucap salam, menampakkan senyum indahnya, kemudian bertanya tentang kabar hati kita? Apa yang harus kita katakan?

Apakah kita harus menceritakan tentang ujub yang menyelimuti hati, karena merasa telah melakukan amal yang lebih baik dari orang lain? Ataukah kita harus menceritakan tentang dengki yang menggelapkan mata, karena merasa nikmat yang kita terima tidak lebih cukup dibanding dengan yang diberikan pada orang lain? Ataukah kita harus menceritakan tentang amarah yang tak terkendali, karena keengganan kita memaafkan orang lain?

Bagaimana jika tiba-tiba Rasulullah hadir di hadapan kita? Mengucap salam, menepuk punggung kita, kemudian bertanya tentang kabar amalan yaumiyah kita? Apa yang harus kita ceritakan?

Apakah kita jujur saja bahwa selama ini amalan yaumiyah kita stagnan bahkan cenderung turun karena kemalasan yang sering kali kita izinkan hadir mendominasi kita? Ataukah kita berdalih bahwa selama ini rutinitas sehari-hari kita membuat kita sibuk sehingga tak sempat menyempatkan waktu bahkan untuk sekedar tilawah saja? Ataukah kita menceritakan kehebatan amalan yaumiyah orang lain saja untuk mengalihkan pembicaraan?

Bagaimana jika tiba-tiba Rasulullah hadir di hadapan kita? Mengucap salam, merangkul pundak kita, kemudian bertanya tentang kabar keseharian kita? Apa yang harus kita sampaikan?

Apakah kebiasaan berlama-lama di hadapan TV itu harus kita sampaikan saja? Program TV yang mengundang banyak tawa, mengeksploitasi penderitaan, membicarakan orang, mengandung sedikit makna tentang kehidupan itu harus kita ceritakan saja? Ataukah kita sampaikan bahwa intertest kita terhadap sumber-sumber ilmu tidak lebih baik dibanding intertest kita terhadap sumber-sumber maksiat? Ataukah kita ceritakan saja tentang porsi banyak aktivitas kita di media sosial?

Bagaimana jika tiba-tiba Rasulullah hadir di hadapan kita? Mengucap salam, mengajak kita duduk bersama dengannya, kemudian bertanya tentang kabar interaksi kita dengan Quran? Apa yang harus kita utarakan?

Apakah kita harus menunduk malu karena hafalan Quran kita tak kunjung bertambah? Apakah kita harus berwajah datar karena untuk mencapai 1 juz sehari saja tidak pernah diiringi tekad yang bulat? Ataukah kita harus berkeringat dingin karena dalam beberapa waktu terakhir ini Quran telah lama kita biarkan sirna dari dalam jiwa kita?

Bagaimana jika tiba-tiba Rasulullah hadir di hadapan kita? Masih adakah keberanian dalam hati kita untuk memeluknya, setelah begitu banyak wasiatnya yang kita lalaikan?

Tak terbayang apa yang ada di dalam benak Rasulullah. Padahal sejauh Rasul hidup, Rasul selalu gigih dalam mencontohkan sesuatu hal yang baik. Beliau berdiri lama di malam hari, beralaskan tikar ketika tidur, berlama-lama dengan Quran, berbagi dengan sesama, bertakbir paling kencang dalam memperjuangkan hak kaum Muslim, serta sejuta kebaikan dan kebermanfaatan lainnya yang terekam dalam tinta sejarah.

Tak terbayang apa yang ada di dalam benak Rasulullah. Padahal selama ini syafaat beliau yang kita rindukan di akhirat kelak. Saat semua hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Saat tak ada yang peduli atas apa yang terjadi dengan kita di depan. Saat tak ada yang mampu menolong selain Allah, Rasul, dan hambaNya yang shalih.

Tak terbayang apa yang ada di dalam benak Rasulullah. Padahal tak pernah sekalipun Rasul luput dalam mendoakan umatnya. Bahkan di penghujung hayatnya pun, tiada hal lain yang beliau rasa selain kegelisahan terhadap umatnya. Beliau hanya ingin umatnya tidak merasakan sakaratul maut seperti yang beliau rasakan. Beliau hanya ingin umatnya selamat hingga sampai di surga.

Semoga Rasul tidak menurunkan senyum indahnya selepas mendengar setiap bait kisah yang kita ceritakan. Semoga Rasul masih membuka pintu syafaat setelah mengetahui apa yang biasa kita lakukan.

Maafkan kami, Ya Rasulullah..

Shalawat dan salam semoga senantiasa tersampaikan pada engkau, Ya Rasul..

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: