Ayah dan De Geca

Ceritanya, De Geca sedang euforia laptop baru Ayah. Dia ingin mencoba webcam yang biasa dipake orang-orang untuk bertukar sapa via maya. Beberapa orang menggunakan webcam ini untuk ber-selfie-ria, baik itu selfie berupa foto maupun video. Dan De Geca termasuk yang ingin menggunakan webcam ini untuk tujuan itu, selfie.

Sebenarnya terdapat banyak video yang isinya dia berbicang sendiri di depan webcam. Berbincang dengan topik yang mungkin hanya anak kecil yang mampu memahaminya. Ada beberapa video lain yang di dalamnya ia berbincang (tak jelas) dengan sepupu sebayanya. Dalam postingan kali ini, saya mengunggah video selfie nya dengan Ayah.

Ayah adalah seorang yang mampu menempatkan dirinya di manapun dan kapanpun. Beliau tau bagaimana selayaknya bersikap saat sedang berinteraksi dengan saya, anak pertamanya; De Rifa, anak keduanya; dan De Geca, anak bungsunya. Tak heran, pada video ini, Ayah terlihat antusias merespon setiap yang dilontarkan oleh De Geca.

Setiap melihat video ini, mata saya selalu berkaca-kaca. Sungguh, saya benar-benar rindu menyaksikan kembali ‘kekonyolan’ Ayah dan De Geca. Selalu ada gelegak tawa saat melihat Ayah dan De Geca bertukar kata satu sama lain.

Ya, saat itu Ayah hingga di hari beliau menghembuskan nafas terakhirnya, memang sedang mengidap darah tinggi. Seperti yang Ayah bilang dalam video itu, bahwa syariatnya, obat hanyalah perantara. Yang menyembuhkan hanya Allah semata. Dan kini, Allah tak hanya ingin mengangkat penyakitnya, namun juga mengangkat Ayah untuk berada di sisi-Nya.

Ayah, kami rindu Ayah.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: