Api Masa Lalu

Setiap orang memiliki masa lalu. Termasuk aku.

Aku memiliki segudang piringan hitam yang merekam suara kejadian, memiliki sekamar gulungan film yang meyimpan potongan gambar peristiwa, memiliki seruang penyimpan digital yang memuat video kenangan. Ada yang ingin kubiarkan berkeliaran, agar aku dapat kembali menuai hikmah darinya. Ada yang ingin kupendam, kukubur, kutenggelamkan sedalam-dalamnya, agar tidak menuai emosi tak perlu atau memunculkan sesuatu yang aku rasa.. pahit di hati.

Masa lalu memang ajaib.

Satu waktu, ia mampu menyalakan api semangat dalam diri. Mengajarkan bahwa aku-masa-lalu pernah melakukan sesuatu yang aku-masa-kini anggap itu adalah hal yang -sepertinya- sulit untuk dilakukan. Saat potongan cerita dan rekaman suara di masa itu muncul, serasa aku menemukan sebuah saklar. Saklar yang jika aku menekannya, aku bisa membuat terang kembali ruang potensiku. Bahwa sebenarnya aku bisa dan mampu untuk memiliki kembali semua yang kuanggap luar biasa di waktu dulu.

Namun di waktu yang lain, ia terlihat tak bersahabat, menurutku. Mengajakku untuk kembali mengingat memori yang tak mau aku ingat. Tentang ketidakmampuan, pengkhianatan, perpisahan, dan hal lain yang jika aku mengingatnya, aku ingin segera mengalihkan perhatianku pada sesuatu yang menyenagkan. Mungkin terkesan berlebihan. Apa dikata, itu yang kurasakan. Pada sisi masa lalu yang ini, tak ada hal yang bisa kulakukan selain -memaksaku- mentransformasikan energi negatif yang -biasa kubiarkan- masuk, menjadi energi positif yang bisa kuserap. Agar tidak sia-sia. Agar berbuah hikmah yang membangun.

Masa lalu adalah sebuah keniscayaan. Hadirnya, tak mampu kita kendalikan. Karena bagaimanapun, ia buah dari apa yang dilakukan di masa lalu. Untuk masa lalu yang berisikan motivasi, tak sulit untuk berdamai dengannya. Tapi untuk masa lalu yang bersuasanakan mendung, sepertinya hak pilih ada di tangan, apakah membiarkannya menguasai diri, melupakan dan membuang sejauh mungkin, atau mentransformasikannya menjadi sesuatu yang bisa diserap dan dijadikan api dalam hidup.

Aku mencoba untuk memilih menjadikannya api dalam hidup. Kuharap kamu pun begitu.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: