Amirullah

Amirullah. Sebuah nama belakang yang orang tua saya sematkan saat saya lahir dulu. Sejujurnya, memori tentang bagian ‘Amirullah’ ini tidak dapat saya telusuri ke belakang dengan pasti kapan mulai saya pakai menjadi nama belakang dan bagaimana sejarahnya mulai saya pakai dimana-mana. Pasalnya, dahulu saat usia masih belia, bagian ‘Amirullah’ ini tidak pernah saya gembar-gemborkan. Lah? Kok bisa? Bukannya itu bagian dari nama saya juga?

Fauzi Achmad Zaky. Itu nama saya yang tertulis di akta kelahiran dan kartu keluarga. Tidak ada ‘Amirullah’nya bukan? Ya memang ‘Amirullah’ ini nama “tambahan” yang orang tua saya berikan. Waktu dan tanggal kapan bagian ini diberikan, orang tua saya juga tidak tahu. Yang pasti, kedua orang tua saya berkata bahwa nama asli saya memang Fauzi Achmad Zaky Amirullah. Saat saya tanya, mengapa bagian ini tidak dicantumkan di akta, ayah saya bilang, “kepanjangan kak..”. Padahal kedua adik saya semua namanya terdiri dari 4 suku kata. Haha..

Dahulu, saat usia masih kanak-kanak, ‘Amirullah’ ini tidak pernah muncul ke dalam benak. Apa memang mungkin karena masih kanak-kanak, hal-hal seperti ini tidak banyak terlintas dalam pikiran. Saya hanya ingat, nama saya adalah zaky. Karena saat itu semua orang memanggil begitu. Belum ada panggilan Jek, apalagi Bangjek.

Seiring berjalannya waktu, ‘Amirullah’ ini mulai muncul dalam pikiran. Bahkan, entah mengapa, lambat laun saya sangat suka dengan ‘Amirullah’ ini. Hingga pada akhirnya, nama belakang ini mulai saya cantumkan di setiap kesempatan dimana saya harus mencantumkan nama. Baik di media sosial, maupun di cover buku: catatan sekolah, buku pegangan sekolah, dan buku bacaan.

Di masa-masa kuliah, terpikirkan untuk memotong nama. Bukan, bukan mengganti akta kelahiran dengan potongan nama tersebut. Namun, untuk hal-hal yang tidak berbau formal, saya ingin nama yang tercantum di sana adalah nama tersebut.

Zaky Amirullah.

Entah mengapa, buat saya, potongan nama tersebut menuansakan sebuah kombinasi yang indah. Enak diucap, mudah diingat, dan simple diucapkan. Selain itu, penulisannya pun tidak memerlukan banyak huruf seperti nama panjangnya. Oleh karenanya, sekarang nama itu yang saya taruh di media sosial, buku bacaan, catatan kuliah, dan hal-hal informal lainnya.

Amirullah diambil dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti “Pemimpin Allah”. Secara makna, dalam pemahaman saya, Amirullah ini bermakna pemimpin yang diutus Allah untuk memimpin umat manusia dengan semua kelebihan yang miliki, akhlak yang terpatri dalam diri, serta penghambaan pada Illahi. Itu secara makna asli yang saya pahami. Memang terasa berat menyandang nama ini. Jika mencoba kembali bercermin ke dalam diri, sungguh, saya rasa nama tersebut masih belum pantas saya miliki. Namun, tidak ada yang salah dengan do’a. Kan? Bukankah nama adalah do’a?

Yang saya yakini, kedua orang tua saya memiliki harapan besar dengan diberikannya nama tersebut pada saya, 21 tahun yang lalu. Saya hanya bisa berusaha sekuat tenaga agar do’a dalam nama tersebut terwujud.

Satu hal terakhir, saya suka dan bangga dengan ‘Amirullah’ ini. 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: